Diduga Dikeroyok Teman, Siswa di Makassar Trauma dan Tak Mau Masuk Sekolah
Senin, 11 Mei 2026 17:57
Kondisi Amri setelah pengroyokan oleh sejumlah rekannya, Senin (11/5/2026). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa di Makassar berlanjut ke ranah hukum setelah dilaporkan ke Polda Sulawesi Selatan. Korban bernama Amri diduga dikeroyok sejumlah rekan pelajarnya di lingkungan sekolah pada 23 April 2026.
Pihak keluarga korban menduga insiden tersebut dipicu karena Amri keluar dari kelompok geng di sekolah. Salah seorang keluarga korban, Ilham, mengatakan kejadian bermula saat korban bersama tujuh rekannya didatangi sekitar 20 siswa lain.
Menurutnya, salah satu terduga pelaku sempat menantang korban berduel satu lawan satu. Namun, saat perkelahian berlangsung, siswa lain diduga ikut melakukan pemukulan.
“Ketika korban terjatuh, dia langsung dikeroyok. Saat berada di tanah, korban melihat ada dua orang yang memukul dan menginjak-injak dirinya,” ungkapnya kepada wartawan, Senin (11/5/2026).
Keluarga korban menyebut dua terduga pelaku berinisial AH dan IM. Akibat kejadian itu, Amri mengalami luka lebam di wajah dan pembengkakan pada bagian pundak belakang.
Sebelum mendapat perawatan medis, korban sempat kehilangan kesadaran. Keluarga mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah agar ditindaklanjuti.
Namun, pihak keluarga menilai sekolah terkesan melindungi para terduga pelaku.
“Kami merasa pihak sekolah seakan melindungi pelaku dan ada upaya untuk memaksa agar kasus ini diselesaikan secara damai,” kata Ilham.
Keluarga juga menyebut Amri mengalami stres dan trauma setelah kejadian tersebut. Hingga kini korban disebut enggan kembali ke sekolah karena para terduga pelaku masih berada di lingkungan sekolah.
"Saat ini Amri sudah tidak mau masuk sekolah karena para pelaku masih ada. Untuk itu kami berharap keadilan bisa ditegakkan, karena kalau pelaku masih ada di lingkungan sekolah tentu itu berbahaya,” paparnya.
Menanggapi hal itu, pihak Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar membantah adanya pengeroyokan. Kepala sekolah, Rabiah, menyebut insiden tersebut merupakan perkelahian antar-siswa.
Menurut Rabiah, pihak sekolah mengetahui kejadian itu pada 22 April 2026 sekitar pukul 11.00 Wita dan langsung memberikan penanganan medis melalui tim kesehatan sekolah.
Sekolah juga memastikan biaya pengobatan korban ditanggung sepenuhnya. Selain itu, sekolah menghadirkan dokter dan psikolog untuk mendampingi pemulihan kondisi siswa.
"Sekolah juga telah melakukan upaya mediasi terhadap ketiga keluarga siswa yang terlibat perkelahian,” tegasnya.
Rabiah mengungkapkan pihak sekolah baru mengetahui adanya geng setelah kejadian tersebut dan memastikan kelompok itu telah dibubarkan.
“Sekolah mengetahui adanya geng setelah kejadian tersebut dan saat ini telah dibubarkan,” katanya.
Ia menjelaskan, saat kejadian berlangsung, guru dan tenaga kependidikan tengah fokus pada kegiatan lomba fashion show dan tari dalam rangka peringatan Hari Kartini.
Menurutnya, kedua siswa memilih lapangan futsal sebagai lokasi perkelahian karena berada jauh dari pusat kegiatan sekolah.
“Semua guru dan wali asuh berada di lokasi acara saat kejadian berlangsung,” jelasnya.
Sebagai evaluasi, sekolah telah menegur tenaga pendidik agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap siswa di lingkungan sekolah.
Terkait tudingan melindungi pelaku, Rabiah menegaskan sekolah bersikap netral dan tidak memihak.
“Ketiganya adalah siswa kami, sekolah bersifat netral dan tidak memihak,” tegasnya.
Ia menambahkan, sekolah telah memanggil wali murid dan menjatuhkan sanksi skorsing kepada siswa yang terlibat dalam perkelahian tersebut.
Meski mediasi sempat dilakukan, upaya damai disebut tidak diterima oleh pihak korban. Saat ini kasus tersebut telah ditangani kepolisian setelah dilaporkan ke Polda Sulawesi Selatan.
Pihak keluarga korban menduga insiden tersebut dipicu karena Amri keluar dari kelompok geng di sekolah. Salah seorang keluarga korban, Ilham, mengatakan kejadian bermula saat korban bersama tujuh rekannya didatangi sekitar 20 siswa lain.
Menurutnya, salah satu terduga pelaku sempat menantang korban berduel satu lawan satu. Namun, saat perkelahian berlangsung, siswa lain diduga ikut melakukan pemukulan.
“Ketika korban terjatuh, dia langsung dikeroyok. Saat berada di tanah, korban melihat ada dua orang yang memukul dan menginjak-injak dirinya,” ungkapnya kepada wartawan, Senin (11/5/2026).
Keluarga korban menyebut dua terduga pelaku berinisial AH dan IM. Akibat kejadian itu, Amri mengalami luka lebam di wajah dan pembengkakan pada bagian pundak belakang.
Sebelum mendapat perawatan medis, korban sempat kehilangan kesadaran. Keluarga mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah agar ditindaklanjuti.
Namun, pihak keluarga menilai sekolah terkesan melindungi para terduga pelaku.
“Kami merasa pihak sekolah seakan melindungi pelaku dan ada upaya untuk memaksa agar kasus ini diselesaikan secara damai,” kata Ilham.
Keluarga juga menyebut Amri mengalami stres dan trauma setelah kejadian tersebut. Hingga kini korban disebut enggan kembali ke sekolah karena para terduga pelaku masih berada di lingkungan sekolah.
"Saat ini Amri sudah tidak mau masuk sekolah karena para pelaku masih ada. Untuk itu kami berharap keadilan bisa ditegakkan, karena kalau pelaku masih ada di lingkungan sekolah tentu itu berbahaya,” paparnya.
Menanggapi hal itu, pihak Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar membantah adanya pengeroyokan. Kepala sekolah, Rabiah, menyebut insiden tersebut merupakan perkelahian antar-siswa.
Menurut Rabiah, pihak sekolah mengetahui kejadian itu pada 22 April 2026 sekitar pukul 11.00 Wita dan langsung memberikan penanganan medis melalui tim kesehatan sekolah.
Sekolah juga memastikan biaya pengobatan korban ditanggung sepenuhnya. Selain itu, sekolah menghadirkan dokter dan psikolog untuk mendampingi pemulihan kondisi siswa.
"Sekolah juga telah melakukan upaya mediasi terhadap ketiga keluarga siswa yang terlibat perkelahian,” tegasnya.
Rabiah mengungkapkan pihak sekolah baru mengetahui adanya geng setelah kejadian tersebut dan memastikan kelompok itu telah dibubarkan.
“Sekolah mengetahui adanya geng setelah kejadian tersebut dan saat ini telah dibubarkan,” katanya.
Ia menjelaskan, saat kejadian berlangsung, guru dan tenaga kependidikan tengah fokus pada kegiatan lomba fashion show dan tari dalam rangka peringatan Hari Kartini.
Menurutnya, kedua siswa memilih lapangan futsal sebagai lokasi perkelahian karena berada jauh dari pusat kegiatan sekolah.
“Semua guru dan wali asuh berada di lokasi acara saat kejadian berlangsung,” jelasnya.
Sebagai evaluasi, sekolah telah menegur tenaga pendidik agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap siswa di lingkungan sekolah.
Terkait tudingan melindungi pelaku, Rabiah menegaskan sekolah bersikap netral dan tidak memihak.
“Ketiganya adalah siswa kami, sekolah bersifat netral dan tidak memihak,” tegasnya.
Ia menambahkan, sekolah telah memanggil wali murid dan menjatuhkan sanksi skorsing kepada siswa yang terlibat dalam perkelahian tersebut.
Meski mediasi sempat dilakukan, upaya damai disebut tidak diterima oleh pihak korban. Saat ini kasus tersebut telah ditangani kepolisian setelah dilaporkan ke Polda Sulawesi Selatan.
(MAN)
Berita Terkait
News
Dampingi Mensos, Gubernur Optimistis Sekolah Rakyat Cetak Generasi Berakhlak dan Berdaya Saing
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mendampingi Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf meninjau aktivitas Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di Sudiang, Kota Makassar.
Jum'at, 07 Agu 2026 15:25
News
Penanganan Kasus Pengeroyokan Petani di Bone Dinilai Janggal, Kapolda Diminta Turun Tangan
Penanganan kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang petani di Dusun Labukku, Desa Ulubalang, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone, dinilai janggal.
Jum'at, 31 Jul 2026 21:33
Sulsel
90 Putra-Putri Asal Gowa Siap Belajar di Sekolah Rakyat Terpadu
Sebanyak 90 putra dan putri asal Kabupaten Gowa akan mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 usai dilepas secara simbolik, di Baruga Karaeng Pattingalloang, Kantor Bupati Gowa, Selasa (14/7).
Rabu, 15 Jul 2026 07:29
Sulsel
Bupati Maros Lepas 20 Siswa Sekolah Rakyat Asal Maros
Bupati Maros AS Chaidir Syam melepas siswa asal Kabupaten Maros untuk menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Selasa, 14 Jul 2026 11:12
Sulsel
Bupati Bantaeng Lepas Lima Siswa Ikuti Pendidikan di Sekolah Rakyat Sulsel
Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, melepas lima siswa yang akan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun ajaran 2026/2027.
Senin, 13 Jul 2026 19:56
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KONI Sidrap Dilantik, Bupati Syahar Targetkan Prestasi Naik di Porprov 2026
2
Peternak Sulsel Protes Harga Pakan Tinggi dan Harga Telur Anjlok
3
IAS Minta Kader Golkar Tak Alergi Kritik, Harus Lebih Banyak Mendengar
4
GELORA Literasi Keluarga Dorong Budaya Membaca Anak Kolaka dengan Teknologi Audio
5
Kolaborasi PT Vale & Pemkab Morowali Luncurkan Desa Wisata Unsongi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KONI Sidrap Dilantik, Bupati Syahar Targetkan Prestasi Naik di Porprov 2026
2
Peternak Sulsel Protes Harga Pakan Tinggi dan Harga Telur Anjlok
3
IAS Minta Kader Golkar Tak Alergi Kritik, Harus Lebih Banyak Mendengar
4
GELORA Literasi Keluarga Dorong Budaya Membaca Anak Kolaka dengan Teknologi Audio
5
Kolaborasi PT Vale & Pemkab Morowali Luncurkan Desa Wisata Unsongi