Listrik Hijau PLN Jadi Motor Penggerak Ketahanan Pangan di Sulsel
Senin, 08 Jun 2026 22:14
Petani di Sidrap memperlihatkan pompanisasi berbasis listrik di area sawah tadah hujan di Sidrap. Foto/Istimewa
Dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. PT PLN (Persero) turut mengambil peran melalui program Electrifying Agriculture yang mendorong modernisasi sektor pertanian, perikanan, dan peternakan berbasis energi listrik.
Melalui program tersebut, PLN membantu petani, petambak, dan peternak meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Upaya ini juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, program Electrifying Agriculture menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 4.280 pelanggan telah memanfaatkan program tersebut dengan total daya terpasang mencapai 206.312 kiloVolt Ampere (kVA).
Peningkatan jumlah pelanggan tersebut mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan listrik sebagai penunjang modernisasi sektor agrikultur.Salah satu implementasi program berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Di daerah ini, PLN mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Pemanfaatan listrik hijau PLN terlihat di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti. Sebanyak 11 pompa irigasi listrik telah beroperasi sejak April 2026 untuk melayani lahan pertanian seluas sekitar 1.750 hektare.
Petani milenial Abd Rafiq mengaku penggunaan pompa listrik memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya produksi. Menurut dia, penghematan biaya operasional dapat mencapai sekitar 50 persen dibandingkan metode sebelumnya.
“Dampak yang paling terasa ada pada biaya produksi. Penghematan operasional bisa mencapai 50 persen,” ujarnya saat ditemui SINDO Makassar di area persawahan.
Selain lebih hemat, pompa listrik dinilai mampu menghasilkan debit air yang lebih stabil dibandingkan pompa berbahan bakar gas maupun diesel.
“Sekarang jauh lebih praktis. Tinggal menekan tombol, tidak perlu lagi membawa mesin ke sawah atau khawatir ketika bahan bakar langka,” katanya.
Sebelum beralih ke listrik, petani sawah tadah hujan di Sidrap mengandalkan LPG dan diesel untuk mengoperasikan pompa air. Kebutuhan operasional mencapai sekitar tiga tabung LPG 3 kilogram per hari dengan biaya sekitar Rp75 ribu atau setara Rp2,25 juta per bulan.
Setelah menggunakan listrik, konsumsi energi rata-rata hanya sekitar 250 kWh per bulan dengan biaya sekitar Rp270 ribu. Selain lebih ekonomis, pompa listrik juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi dan kebisingan seperti mesin berbahan bakar fosil.
Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengatakan kehadiran program Electrifying Agriculture sangat membantu petani dalam menekan biaya produksi.
“Biaya operasional kini bisa tiga hingga empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya. Penggunaan pompa juga lebih nyaman karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan,” tuturnya.

Manfaat program Electrifying Agriculture juga dirasakan sektor peternakan. Salah satunya oleh peternakan ayam petelur CV Cahaya Tiga Putri di Kabupaten Sidrap yang saat ini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk mendukung pengembangan kandang modern.
Sebelum memanfaatkan listrik PLN, kebutuhan energi peternakan dipenuhi melalui pembangkit diesel dengan biaya produksi listrik mencapai sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh.
Perubahan itu membuat biaya operasional energi yang sebelumnya mencapai sekitar Rp240 juta per bulan berkurang menjadi sekitar Rp60 juta per bulan.Pasokan listrik yang andal juga memungkinkan penerapan berbagai teknologi peternakan modern, mulai dari sistem pemberian pakan otomatis, pengaturan suhu kandang, ventilasi, hingga pencahayaan.
Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, mengatakan penggunaan listrik PLN berkontribusi besar terhadap peningkatan efisiensi dan pengembangan usaha peternakan.
“Seluruh sistem kandang kini dapat berjalan otomatis sehingga pengelolaan ternak lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar. Hal ini sangat membantu peningkatan produktivitas dan pengembangan usaha,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi komitmen PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik yang mendukung sektor peternakan di daerah tersebut.
Sementara itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyampaikan apresiasi atas dukungan PLN melalui program pompanisasi listrik bagi petani. “Kami optimistis kehadiran listrik akan meningkatkan produktivitas pertanian dan hasil panen petani di Sidrap,” katanya.
Menurut Syaharuddin, pemanfaatan pompa listrik berpotensi meningkatkan intensitas tanam sehingga petani dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Program Electrifying Agriculture juga dinilai berkontribusi terhadap pencapaian swasembada pangan di Sidrap. Saat ini daerah tersebut tercatat mengalami surplus beras dan telur serta menjadi salah satu pemasok utama bagi berbagai wilayah di Indonesia.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan Electrifying Agriculture merupakan program strategis PLN yang dirancang untuk menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik yang efisien dan produktif.
“PLN tidak hanya menyediakan listrik sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi sekaligus menekan biaya operasional,” ujarnya.
Menurut Edyansyah, program tersebut menjadi bentuk dukungan PLN terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor agrikultur.
Melalui program tersebut, PLN membantu petani, petambak, dan peternak meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Upaya ini juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, program Electrifying Agriculture menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 4.280 pelanggan telah memanfaatkan program tersebut dengan total daya terpasang mencapai 206.312 kiloVolt Ampere (kVA).
Peningkatan jumlah pelanggan tersebut mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan listrik sebagai penunjang modernisasi sektor agrikultur.Salah satu implementasi program berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Di daerah ini, PLN mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Pemanfaatan listrik hijau PLN terlihat di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti. Sebanyak 11 pompa irigasi listrik telah beroperasi sejak April 2026 untuk melayani lahan pertanian seluas sekitar 1.750 hektare.
Petani milenial Abd Rafiq mengaku penggunaan pompa listrik memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya produksi. Menurut dia, penghematan biaya operasional dapat mencapai sekitar 50 persen dibandingkan metode sebelumnya.
“Dampak yang paling terasa ada pada biaya produksi. Penghematan operasional bisa mencapai 50 persen,” ujarnya saat ditemui SINDO Makassar di area persawahan.
Selain lebih hemat, pompa listrik dinilai mampu menghasilkan debit air yang lebih stabil dibandingkan pompa berbahan bakar gas maupun diesel.
“Sekarang jauh lebih praktis. Tinggal menekan tombol, tidak perlu lagi membawa mesin ke sawah atau khawatir ketika bahan bakar langka,” katanya.
Sebelum beralih ke listrik, petani sawah tadah hujan di Sidrap mengandalkan LPG dan diesel untuk mengoperasikan pompa air. Kebutuhan operasional mencapai sekitar tiga tabung LPG 3 kilogram per hari dengan biaya sekitar Rp75 ribu atau setara Rp2,25 juta per bulan.
Setelah menggunakan listrik, konsumsi energi rata-rata hanya sekitar 250 kWh per bulan dengan biaya sekitar Rp270 ribu. Selain lebih ekonomis, pompa listrik juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi dan kebisingan seperti mesin berbahan bakar fosil.
Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengatakan kehadiran program Electrifying Agriculture sangat membantu petani dalam menekan biaya produksi.
“Biaya operasional kini bisa tiga hingga empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya. Penggunaan pompa juga lebih nyaman karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan,” tuturnya.

Manfaat program Electrifying Agriculture juga dirasakan sektor peternakan. Salah satunya oleh peternakan ayam petelur CV Cahaya Tiga Putri di Kabupaten Sidrap yang saat ini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk mendukung pengembangan kandang modern.
Sebelum memanfaatkan listrik PLN, kebutuhan energi peternakan dipenuhi melalui pembangkit diesel dengan biaya produksi listrik mencapai sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh.
Perubahan itu membuat biaya operasional energi yang sebelumnya mencapai sekitar Rp240 juta per bulan berkurang menjadi sekitar Rp60 juta per bulan.Pasokan listrik yang andal juga memungkinkan penerapan berbagai teknologi peternakan modern, mulai dari sistem pemberian pakan otomatis, pengaturan suhu kandang, ventilasi, hingga pencahayaan.
Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, mengatakan penggunaan listrik PLN berkontribusi besar terhadap peningkatan efisiensi dan pengembangan usaha peternakan.
“Seluruh sistem kandang kini dapat berjalan otomatis sehingga pengelolaan ternak lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar. Hal ini sangat membantu peningkatan produktivitas dan pengembangan usaha,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi komitmen PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik yang mendukung sektor peternakan di daerah tersebut.
Sementara itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyampaikan apresiasi atas dukungan PLN melalui program pompanisasi listrik bagi petani. “Kami optimistis kehadiran listrik akan meningkatkan produktivitas pertanian dan hasil panen petani di Sidrap,” katanya.
Menurut Syaharuddin, pemanfaatan pompa listrik berpotensi meningkatkan intensitas tanam sehingga petani dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Program Electrifying Agriculture juga dinilai berkontribusi terhadap pencapaian swasembada pangan di Sidrap. Saat ini daerah tersebut tercatat mengalami surplus beras dan telur serta menjadi salah satu pemasok utama bagi berbagai wilayah di Indonesia.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan Electrifying Agriculture merupakan program strategis PLN yang dirancang untuk menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik yang efisien dan produktif.
“PLN tidak hanya menyediakan listrik sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi sekaligus menekan biaya operasional,” ujarnya.
Menurut Edyansyah, program tersebut menjadi bentuk dukungan PLN terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor agrikultur.
(TRI)
Berita Terkait
Sulsel
Ekosistem EV di Parepare Kian Matang: Charging Cepat, Menunggu Nyaman
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Parepare tidak hanya hadir sebagai tempat pengisian daya, tetapi juga berkembang menjadi ruang tunggu yang nyaman bagi pengguna.
Rabu, 10 Jun 2026 15:29
Ekbis
PLN UID Sulselrabar Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Electrifying Agriculture
Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat telah mencapai 4.280 pelanggan.
Senin, 08 Jun 2026 22:08
Ekbis
Beli Token di PLN Mobile, Pelanggan Berpeluang Dapat Voucher Listrik Rp10 Ribu
Bertajuk JUNIVAGANZA, program ini memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memperoleh voucher listrik senilai Rp10.000 setiap melakukan pembelian token listrik melalui PLN Mobile.
Minggu, 07 Jun 2026 15:04
News
Promo 'MeiLaju' PLN Tersisa Dua Hari, Ribuan Pelanggan Sudah Nikmati Diskon 50%
Hingga 1 Juni 2026, sebanyak 2.470 pelanggan di lingkungan PLN UID Sulselrabar telah memanfaatkan program diskon tambah daya hingga 50 persen tersebut.
Senin, 01 Jun 2026 17:28
News
PLN UID Sulselrabar Salurkan 6 Ton Daging Kurban untuk Masyarakat
Total hewan kurban yang disembelih terdiri atas 73 ekor sapi dan 19 ekor kambing dengan total berat daging mencapai 6.525 kilogram alias 6,5 ton.
Kamis, 28 Mei 2026 11:48
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pemkot Makassar Siapkan Insentif Rp100 Juta bagi RT Berprestasi Kelola Lingkungan
2
Langgar Tata Ruang, Pemerhati Konservasi Alam Minta DPR RI Hentikan Operasi PT Conch
3
Ekosistem EV di Parepare Kian Matang: Charging Cepat, Menunggu Nyaman
4
Pelindo dan PSP Perkuat Tata Kelola Operasional Terminal Petikemas
5
Pegadaian Berhasil Borong Lima Penghargaan Bergengsi Asia
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pemkot Makassar Siapkan Insentif Rp100 Juta bagi RT Berprestasi Kelola Lingkungan
2
Langgar Tata Ruang, Pemerhati Konservasi Alam Minta DPR RI Hentikan Operasi PT Conch
3
Ekosistem EV di Parepare Kian Matang: Charging Cepat, Menunggu Nyaman
4
Pelindo dan PSP Perkuat Tata Kelola Operasional Terminal Petikemas
5
Pegadaian Berhasil Borong Lima Penghargaan Bergengsi Asia