Imigrasi Makassar Amankan 9 WNA yang Diduga Buka Jasa Foto dengan Visa Tak Sesuai
Jum'at, 07 Agu 2026 18:13
Kakanwil Ditjen Imigrasi Sulsel, Friece Sumolang (tengah) dan Kepala Imigrasi Makassar, Abdi Widodo Subagio (kanan) menunjukkan barang bukti. Foto: SINDO Makassar/Luqman Zainuddin
MAKASSAR - Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar mengamankan sembilan warga negara asing (WNA) yang diduga melakukan kegiatan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal. Mereka terdiri atas delapan WNA asal Republik Rakyat Tiongkok dan satu WNA asal Malaysia.
Pengungkapan kasus tersebut berawal dari patroli siber yang dilakukan petugas terhadap aktivitas di media sosial. Dari hasil penelusuran, Tim Intelijen Keimigrasian menemukan adanya kegiatan fotografi yang diselenggarakan oleh Orielle Studio di The Lokal Makassar Restaurant, Jalan Kijang, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan sembilan WNA tersebut terlibat langsung dalam kegiatan fotografi dengan peran masing-masing, yakni tiga orang sebagai fotografer, tiga orang sebagai penata rias (make up artist), dua orang sebagai editor, dan satu orang bertugas mengawasi jalannya kegiatan.
Dalam kegiatan tersebut juga terdapat dua penerjemah (translator) yang mendampingi para WNA saat berkomunikasi dan menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan pemeriksaan awal, para WNA difasilitasi oleh pihak Luxsura Company.
Petugas juga memperoleh informasi bahwa para WNA dan kedua penerjemah sebelumnya tidak saling mengenal. Mereka baru bertemu di lokasi kegiatan sebelum memulai aktivitas fotografi.
Berdasarkan pendalaman sementara, kegiatan fotografi tersebut telah berlangsung selama enam hari, yakni sejak 1 Agustus hingga 6 Agustus 2026. Kegiatan itu dipromosikan melalui akun Instagram @oriellestudio_ yang menawarkan layanan fotografi kepada masyarakat.
Hasil pemeriksaan terhadap pihak terkait menunjukkan biaya pendaftaran untuk mengikuti sesi fotografi sebesar Rp1.388.000 per peserta. Berdasarkan keterangan awal salah satu penerjemah, kegiatan tersebut melayani sekitar 10 hingga 20 klien setiap hari, dengan perkiraan omzet mencapai Rp10 juta hingga Rp25 juta per hari.
Dengan pelaksanaan kegiatan selama enam hari, petugas menduga nilai transaksi telah mencapai puluhan juta rupiah. Dugaan tersebut masih didalami melalui pemeriksaan lanjutan.
Saat pemeriksaan awal, para WNA tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan maupun dokumen keimigrasian. Karena itu, petugas membawa mereka bersama pihak penyelenggara ke Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan dokumen keimigrasian menunjukkan kedelapan WNA asal Republik Rakyat Tiongkok memiliki izin tinggal dengan indeks B1, C18, dan D2. Berdasarkan ketentuan keimigrasian, jenis izin tinggal tersebut tidak secara otomatis memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan kegiatan profesional maupun aktivitas komersial sebagaimana ditemukan dalam kegiatan fotografi tersebut.
Atas temuan itu, petugas menduga telah terjadi penyalahgunaan izin tinggal. Saat ini pemeriksaan masih dilakukan secara komprehensif terhadap para WNA, pihak penyelenggara, dan pihak lain yang terkait untuk memperoleh fakta hukum mengenai hubungan kerja sama, aliran dana, serta kemungkinan adanya pelanggaran ketentuan keimigrasian.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar, Abdi Widodo Subagio, menegaskan pengawasan terhadap aktivitas orang asing merupakan bagian dari upaya negara menjaga kedaulatan sekaligus memastikan seluruh WNA mematuhi ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Kami akan terus melakukan pengawasan secara profesional terhadap keberadaan dan aktivitas orang asing. Setiap orang asing yang berada di Indonesia wajib menggunakan izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan pemberiannya. Apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar akan menindak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Abdi saat press release, Jumat (7/8/2026).
Apabila hasil pemeriksaan membuktikan para WNA melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin tinggalnya, mereka dapat dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, berupa pencabutan izin tinggal, deportasi, dan pencantuman dalam daftar penangkalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, petugas juga akan mendalami peran pihak penyelenggara serta pihak yang memberikan fasilitas kepada para WNA guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan penggunaan tenaga kerja asing maupun peraturan perundang-undangan lainnya.
Sementara itu, Kakanwil Ditjen Imigrasi Sulsel, Friece Sumolang di tempat yang sama menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kegiatan intelijen dan pengawasan keimigrasian, khususnya pada sektor industri kreatif, jasa hiburan, dan bidang usaha lain yang berpotensi terjadi penyalahgunaan izin tinggal oleh warga negara asing.
"Kami juga mengimbau, setiap orang asing di Indonesia dan juga penjamin, untuk beraktivitas di Indonesia agar tertib hukum, wajib menggunakan izin tinggal sesuai dengan tujuan awal," pinta Friece.
Pengungkapan kasus tersebut berawal dari patroli siber yang dilakukan petugas terhadap aktivitas di media sosial. Dari hasil penelusuran, Tim Intelijen Keimigrasian menemukan adanya kegiatan fotografi yang diselenggarakan oleh Orielle Studio di The Lokal Makassar Restaurant, Jalan Kijang, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan sembilan WNA tersebut terlibat langsung dalam kegiatan fotografi dengan peran masing-masing, yakni tiga orang sebagai fotografer, tiga orang sebagai penata rias (make up artist), dua orang sebagai editor, dan satu orang bertugas mengawasi jalannya kegiatan.
Dalam kegiatan tersebut juga terdapat dua penerjemah (translator) yang mendampingi para WNA saat berkomunikasi dan menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan pemeriksaan awal, para WNA difasilitasi oleh pihak Luxsura Company.
Petugas juga memperoleh informasi bahwa para WNA dan kedua penerjemah sebelumnya tidak saling mengenal. Mereka baru bertemu di lokasi kegiatan sebelum memulai aktivitas fotografi.
Berdasarkan pendalaman sementara, kegiatan fotografi tersebut telah berlangsung selama enam hari, yakni sejak 1 Agustus hingga 6 Agustus 2026. Kegiatan itu dipromosikan melalui akun Instagram @oriellestudio_ yang menawarkan layanan fotografi kepada masyarakat.
Hasil pemeriksaan terhadap pihak terkait menunjukkan biaya pendaftaran untuk mengikuti sesi fotografi sebesar Rp1.388.000 per peserta. Berdasarkan keterangan awal salah satu penerjemah, kegiatan tersebut melayani sekitar 10 hingga 20 klien setiap hari, dengan perkiraan omzet mencapai Rp10 juta hingga Rp25 juta per hari.
Dengan pelaksanaan kegiatan selama enam hari, petugas menduga nilai transaksi telah mencapai puluhan juta rupiah. Dugaan tersebut masih didalami melalui pemeriksaan lanjutan.
Saat pemeriksaan awal, para WNA tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan maupun dokumen keimigrasian. Karena itu, petugas membawa mereka bersama pihak penyelenggara ke Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan dokumen keimigrasian menunjukkan kedelapan WNA asal Republik Rakyat Tiongkok memiliki izin tinggal dengan indeks B1, C18, dan D2. Berdasarkan ketentuan keimigrasian, jenis izin tinggal tersebut tidak secara otomatis memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan kegiatan profesional maupun aktivitas komersial sebagaimana ditemukan dalam kegiatan fotografi tersebut.
Atas temuan itu, petugas menduga telah terjadi penyalahgunaan izin tinggal. Saat ini pemeriksaan masih dilakukan secara komprehensif terhadap para WNA, pihak penyelenggara, dan pihak lain yang terkait untuk memperoleh fakta hukum mengenai hubungan kerja sama, aliran dana, serta kemungkinan adanya pelanggaran ketentuan keimigrasian.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar, Abdi Widodo Subagio, menegaskan pengawasan terhadap aktivitas orang asing merupakan bagian dari upaya negara menjaga kedaulatan sekaligus memastikan seluruh WNA mematuhi ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Kami akan terus melakukan pengawasan secara profesional terhadap keberadaan dan aktivitas orang asing. Setiap orang asing yang berada di Indonesia wajib menggunakan izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan pemberiannya. Apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar akan menindak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Abdi saat press release, Jumat (7/8/2026).
Apabila hasil pemeriksaan membuktikan para WNA melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin tinggalnya, mereka dapat dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, berupa pencabutan izin tinggal, deportasi, dan pencantuman dalam daftar penangkalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, petugas juga akan mendalami peran pihak penyelenggara serta pihak yang memberikan fasilitas kepada para WNA guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan penggunaan tenaga kerja asing maupun peraturan perundang-undangan lainnya.
Sementara itu, Kakanwil Ditjen Imigrasi Sulsel, Friece Sumolang di tempat yang sama menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kegiatan intelijen dan pengawasan keimigrasian, khususnya pada sektor industri kreatif, jasa hiburan, dan bidang usaha lain yang berpotensi terjadi penyalahgunaan izin tinggal oleh warga negara asing.
"Kami juga mengimbau, setiap orang asing di Indonesia dan juga penjamin, untuk beraktivitas di Indonesia agar tertib hukum, wajib menggunakan izin tinggal sesuai dengan tujuan awal," pinta Friece.
(MAN)
Berita Terkait
News
Imigrasi Makassar Pantau Aktivitas WNA di Jeneponto Lewat Operasi Mandiri
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar menggelar Operasi Mandiri Pengawasan Orang Asing di Kabupaten Jeneponto pada 26-28 Agustus 2026.
Senin, 31 Agu 2026 14:35
News
Pakai Visa Turis untuk Bekerja, WNA Tiongkok Dideportasi Imigrasi Makassar
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar mendeportasi seorang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok karena diduga melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan izin tinggalnya di Indonesia.
Selasa, 18 Agu 2026 19:54
Sulsel
Pasporia Hadir di CFD Jeneponto, Imigrasi Makassar Layani 71 Pemohon Paspor
Layanan Pasporia (Paspor Ceria) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar hadir menyemarakkan kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Pelita, Kabupaten Jeneponto, Minggu (9/8/2026).
Selasa, 11 Agu 2026 12:56
News
Imigrasi Makassar Kenalkan Poltekimipas kepada Pelajar SMA di Gowa dan Makassar
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar menggelar Immigration Goes to School di SMAIT Al-Fityan School, Kabupaten Gowa, dan SMA Al-Azhar Makassar. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (6/8/2026) dan Jumat (7/8/2026).
Senin, 10 Agu 2026 09:48
Sulsel
Imigrasi Makassar Layani 112 Calon Jemaah Haji Pangkep Lewat Eazy Paspor
Kantor Imigrasi Makassar menghadirkan layanan paspor jemput bola melalui program Eazy Paspor bagi calon jemaah haji Tahun 2027/1448 Hijriah di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pangkep.
Selasa, 04 Agu 2026 15:36
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Wabup Maros Usulkan Pemberangkatan Haji Dipusatkan di Al-Markaz
2
Transaksi BBM Subsidi Tak Wajar, Pertamina Sulawesi Blokir 4.767 QR Code
3
Sekelompok Pria Timbulkan Keresahan di Kawasan Putri SPIDI, Siswi hingga Guru Merasa Tak Aman
4
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, Siswa Kelas XI SMA IT Arrahmah Mengabdi di Leang-Leang
5
Pemkot Makassar Kaji Aspek Geografis dan Regulasi Calon TPU Baru di Maros
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Wabup Maros Usulkan Pemberangkatan Haji Dipusatkan di Al-Markaz
2
Transaksi BBM Subsidi Tak Wajar, Pertamina Sulawesi Blokir 4.767 QR Code
3
Sekelompok Pria Timbulkan Keresahan di Kawasan Putri SPIDI, Siswi hingga Guru Merasa Tak Aman
4
Bukan Sekadar Belajar di Kelas, Siswa Kelas XI SMA IT Arrahmah Mengabdi di Leang-Leang
5
Pemkot Makassar Kaji Aspek Geografis dan Regulasi Calon TPU Baru di Maros