Mengenal Kopi Arabika Kahayya, Cita Rasa Dataran Tinggi Kindang dengan Status Indikasi Geografis
Kamis, 10 Sep 2026 10:07
Kanwil Kemenkum Sulsel Andi Basmal saat memperkenalkan Kopi Kahayya di dunia internasional. Foto: Istimewa
BULUKUMBA - Di ketinggian 900 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, di lereng pegunungan Lompobattang Bawakaraeng, tumbuh pohon kopi yang menyimpan cerita panjang. Namanya Kopi Arabika Kahayya, dipetik dari kebun-kebun warga Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, kopi yang kini resmi sebagai produk Indikasi Geografis (IG) Indonesia.
Jejak budidaya kopi di Kahayya bukan cerita baru. Tradisinya sudah berlangsung sejak abad ke-18, bermula dari varietas kopi tua yang ditanam turun-temurun, hingga berkembang ke klon-klon unggul seperti Lini S-795, USDA 762, Kartika, Komasti, Gayo 2, dan Yellow Caturra. Perpaduan topografi pegunungan, iklim tropis basah, serta praktik agroforestri alami masyarakat setempat itulah yang kemudian membentuk karakter rasa khasnya, sesuatu yang tak bisa ditiru begitu saja di tempat lain.
Dan karakter itu bukan klaim kosong. Berdasarkan hasil uji mutu fisik dan cita rasa dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Kopi Arabika Kahayya Bulukumba memenuhi standar Mutu 1 sesuai SNI 01-2907-2008. Dari sisi rasa, kopi ini mengantongi profil brown sugar, honeyed, flowery, bright acidity, dan heavy body, dengan skor uji cita rasa berkisar 83,25 hingga 86,25 masuk kategori specialty grade, alias sangat baik hingga istimewa, dan bebas cacat rasa.
Di balik cangkir yang harum itu, ada kisah manusia yang tak kalah menarik. Desa Kahayya sendiri hanya dihuni sekitar 1.301 jiwa, namun mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani kopi. Letaknya yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Balangtieng dan berbatasan langsung dengan hutan lindung Lompobattang-Bawakaraeng membuat desa ini memiliki tanggung jawab ekologis tersendiri, sesuatu yang tecermin dari cara warga bertani.
Sistem agroforestri menjadi andalan, di mana pohon kopi ditanam berdampingan dengan lamtoro, dadap, mahoni, suren, nangka, alpukat, sengon, dan cengkeh, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati kawasan.
Perjalanan petani Kahayya bukan tanpa tantangan. Sejak 2020, curah hujan yang tinggi sempat menekan produksi kopi maupun cengkeh, bahkan membuat sebagian warga nyaris tak panen selama tiga tahun berturut-turut, kopi robusta menjadi yang paling terdampak, sementara arabika relatif lebih bertahan.
Di tengah kondisi itu, edukasi soal praktik panen yang baik perlahan membuahkan hasil, dimana sekitar 40 persen petani kini menerapkan teknik "petik merah" atau sortasi biji merah, jumlah yang terus bertambah seiring pemahaman bahwa kualitas petik menentukan nilai jual.
Di tataran nasional, kopi sejatinya menjadi komoditas strategis yang menopang penghasilan petani sekaligus devisa negara. Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi nasional mencapai 807.580 ton pada 2024, capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Bulukumba sendiri berperan tidak kecil dalam peta ini, pada tahun yang sama, kabupaten ini menghasilkan 106,67 ton kopi arabika dari lahan seluas 337 hektare, dengan Desa Kahayya dikenal luas sebagai salah satu sentra utamanya.
Nama Kahayya pun bukan sekadar dikenal di kampung sendiri. Permintaannya sudah merambah kafe-kafe di berbagai kota Sulawesi Selatan, dari Bulukumba, Bantaeng, Gowa, Makassar, hingga Bone dan Kepulauan Selayar, bahkan menjangkau kota-kota besar seperti Denpasar, Balikpapan, Bogor, Jakarta, dan Tangerang, hingga permintaan dari mancanegara.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkum Sulsel, dalam keterangannya, Rabu(9/9/2026), mengatakan, untuk menjaga mutu dan reputasi kopi arabika kahayya tetap konsisten, Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kahayya kemudian dibentuk oleh para petani bersama pemangku kepentingan setempat.
Lewat MPIG inilah permohonan pendaftaran Indikasi Geografis diajukan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui pendampingan Kanwil Kemenkum Sulsel yang menjadi pengakuan hukum sekaligus pelindung eksklusif atas nama Kopi Arabika Kahayya Bulukumba, sekaligus alat kendali mutu bagi seluruh produk yang beredar dengan nama tersebut, baik dalam bentuk green bean, kopi sangrai, maupun kopi bubuk.
Sementara itu Plh Kakanwil Andi Basmal yang dijabat Kepala Divisi P3H, Heny Widyawati berharap semakin banyak produk dari wilayah Sulsel yang mendapatkan sertifikat IG melalui pendampingan Kanwil Sulsel.
Jejak budidaya kopi di Kahayya bukan cerita baru. Tradisinya sudah berlangsung sejak abad ke-18, bermula dari varietas kopi tua yang ditanam turun-temurun, hingga berkembang ke klon-klon unggul seperti Lini S-795, USDA 762, Kartika, Komasti, Gayo 2, dan Yellow Caturra. Perpaduan topografi pegunungan, iklim tropis basah, serta praktik agroforestri alami masyarakat setempat itulah yang kemudian membentuk karakter rasa khasnya, sesuatu yang tak bisa ditiru begitu saja di tempat lain.
Dan karakter itu bukan klaim kosong. Berdasarkan hasil uji mutu fisik dan cita rasa dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Kopi Arabika Kahayya Bulukumba memenuhi standar Mutu 1 sesuai SNI 01-2907-2008. Dari sisi rasa, kopi ini mengantongi profil brown sugar, honeyed, flowery, bright acidity, dan heavy body, dengan skor uji cita rasa berkisar 83,25 hingga 86,25 masuk kategori specialty grade, alias sangat baik hingga istimewa, dan bebas cacat rasa.
Di balik cangkir yang harum itu, ada kisah manusia yang tak kalah menarik. Desa Kahayya sendiri hanya dihuni sekitar 1.301 jiwa, namun mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani kopi. Letaknya yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Balangtieng dan berbatasan langsung dengan hutan lindung Lompobattang-Bawakaraeng membuat desa ini memiliki tanggung jawab ekologis tersendiri, sesuatu yang tecermin dari cara warga bertani.
Sistem agroforestri menjadi andalan, di mana pohon kopi ditanam berdampingan dengan lamtoro, dadap, mahoni, suren, nangka, alpukat, sengon, dan cengkeh, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati kawasan.
Perjalanan petani Kahayya bukan tanpa tantangan. Sejak 2020, curah hujan yang tinggi sempat menekan produksi kopi maupun cengkeh, bahkan membuat sebagian warga nyaris tak panen selama tiga tahun berturut-turut, kopi robusta menjadi yang paling terdampak, sementara arabika relatif lebih bertahan.
Di tengah kondisi itu, edukasi soal praktik panen yang baik perlahan membuahkan hasil, dimana sekitar 40 persen petani kini menerapkan teknik "petik merah" atau sortasi biji merah, jumlah yang terus bertambah seiring pemahaman bahwa kualitas petik menentukan nilai jual.
Di tataran nasional, kopi sejatinya menjadi komoditas strategis yang menopang penghasilan petani sekaligus devisa negara. Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi nasional mencapai 807.580 ton pada 2024, capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Bulukumba sendiri berperan tidak kecil dalam peta ini, pada tahun yang sama, kabupaten ini menghasilkan 106,67 ton kopi arabika dari lahan seluas 337 hektare, dengan Desa Kahayya dikenal luas sebagai salah satu sentra utamanya.
Nama Kahayya pun bukan sekadar dikenal di kampung sendiri. Permintaannya sudah merambah kafe-kafe di berbagai kota Sulawesi Selatan, dari Bulukumba, Bantaeng, Gowa, Makassar, hingga Bone dan Kepulauan Selayar, bahkan menjangkau kota-kota besar seperti Denpasar, Balikpapan, Bogor, Jakarta, dan Tangerang, hingga permintaan dari mancanegara.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkum Sulsel, dalam keterangannya, Rabu(9/9/2026), mengatakan, untuk menjaga mutu dan reputasi kopi arabika kahayya tetap konsisten, Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kahayya kemudian dibentuk oleh para petani bersama pemangku kepentingan setempat.
Lewat MPIG inilah permohonan pendaftaran Indikasi Geografis diajukan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui pendampingan Kanwil Kemenkum Sulsel yang menjadi pengakuan hukum sekaligus pelindung eksklusif atas nama Kopi Arabika Kahayya Bulukumba, sekaligus alat kendali mutu bagi seluruh produk yang beredar dengan nama tersebut, baik dalam bentuk green bean, kopi sangrai, maupun kopi bubuk.
Sementara itu Plh Kakanwil Andi Basmal yang dijabat Kepala Divisi P3H, Heny Widyawati berharap semakin banyak produk dari wilayah Sulsel yang mendapatkan sertifikat IG melalui pendampingan Kanwil Sulsel.
(GUS)
Berita Terkait
News
Kopi Arabika Kahayya Sulsel Diperkenalkan di Kantor Paten Denmark
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan (Kanwil Kemenkum Sulsel), Andi Basmal, memperkenalkan Kopi Arabika Kahayya, produk Indikasi Geografis kebanggaan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam kunjungan lapangan ke Danish Patent and Trademark Office (
Selasa, 08 Sep 2026 06:36
News
Kopi Indigeo Sulsel Diminati di Festival Dieng 2026
Tiga kopi terdaftar Indikasi Geografis (Indigeo) kebanggaan Sulawesi Selatan turut mewarnai gelaran Festival Kopi Dieng 2026 yang berlangsung 27–30 Agustus 2026.
Senin, 31 Agu 2026 19:33
Ekbis
Tujuh UMKM Sulsel Buka Jalan ke Pasar Global di KKI 2026
Dari rangkaian business matching ekspor, UMKM Sulsel mencatat potensi transaksi lebih dari Rp380,75 juta dengan sejumlah buyer dari Kanada hingga Singapura.
Minggu, 23 Agu 2026 12:38
Ekbis
Sambut HUT RI ke-81, PLN Perkuat Kemandirian Petani Kopi Batui
Menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, PLN UIP Sulawesi memperkuat kemandirian Kelompok Tani Kopi Batui Oishii melalui bantuan program TJSL yang menyasar seluruh rantai usaha. Foto/Istimewa
Senin, 03 Agu 2026 09:18
News
Djournal Resmikan Gerai Kedua di Makassar, Kini Hadir di Mal Ratu Indah
Djournal Coffee terus memperkuat ekspansinya di Makassar dengan membuka gerai kedua yang berlokasi di lantai dasar Mal Ratu Indah alias MaRI Makassar.
Jum'at, 03 Jul 2026 17:50
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Soal Nasib Guru PPPK, BKPSDM Luwu Timur Minta ASN Tak Terpancing Provokasi di Medsos
2
Polisi Tetapkan 3 Pelaku Penyiraman Air Cabai di Jeneponto sebagai DPO
3
Pertamina Percepat Penyaluran LPG 3 Kg, Pasokan Sulsel Ditambah hingga 130 Persen
4
Warga Desa Wawondula Nyatakan Dukungan Penuh untuk Program Bupati Ibas-Puspa
5
Cegah Risiko Hukum, Pelindo Regional 4 Perkuat Sinergi dengan Kejati Maluku
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Soal Nasib Guru PPPK, BKPSDM Luwu Timur Minta ASN Tak Terpancing Provokasi di Medsos
2
Polisi Tetapkan 3 Pelaku Penyiraman Air Cabai di Jeneponto sebagai DPO
3
Pertamina Percepat Penyaluran LPG 3 Kg, Pasokan Sulsel Ditambah hingga 130 Persen
4
Warga Desa Wawondula Nyatakan Dukungan Penuh untuk Program Bupati Ibas-Puspa
5
Cegah Risiko Hukum, Pelindo Regional 4 Perkuat Sinergi dengan Kejati Maluku