Dana TKD Dipangkas, Tamsil Dorong Pemerintah Daerah Kreatif Dongkrak PAD
Kamis, 16 Okt 2025 15:44
Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung saat melakukan kunjungan ke Pemkab Luwu Utara. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung mengungkapkan bahwa sejumlah pemerintah daerah di wilayah Luwu Raya tengah menghadapi persoalan serius terkait beban utang, terutama yang berasal dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Temuan ini disampaikan Tamsil usai melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Luwu, Luwu Utara dan Kota Palopo, baru-baru ini. Reses ini sekaligus untuk menyerap aspirasi daerah.
“Hampir seluruh daerah di Luwu Raya mengeluhkan dana transfer ke daerah (TKD) yang dikurangi," ucap Tamsil kepada wartawan di Makassar, Kamis (16/10/2025).
Tamsil melihat, situasi ini mestinya dimanfaatkan oleh daerah untuk mendongkrak PAD. Sehingga tidak terlalu bergantung pada TKD dari pusat.
"Saya sampaikan, ini momentum bagi daerah untuk mencari terobosan agar bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tanpa terlalu bergantung pada TKD,” katanya.
Menurutnya, salah satu solusi yang bisa ditempuh pemerintah daerah adalah memanfaatkan peluang penerbitan Municipal Bond atau obligasi daerah, sebagaimana diatur dalam undang-undang sejak tahun 2004 namun belum pernah diimplementasikan.
“World Bank bahkan telah menyatakan siap memberikan dukungan jika ada daerah yang berani menerbitkan Municipal Bond,” ujarnya.
Tamsil mengungkapkan bahwa beberapa daerah di Luwu Raya saat ini dibebani utang besar yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.
“Luwu Utara menyebut memiliki utang Rp285 miliar. Luwu tidak ada, tapi Palopo juga punya beban utang,” katanya.
Ia mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut langsung kepada Menteri Keuangan dalam sebuah pertemuan dengan Duta Besar Malaysia. Tamsil meminta agar pemerintah pusat memberikan relaksasi terhadap utang daerah, baik melalui pemotongan bunga maupun penundaan pembayaran selama satu tahun.
“Langkah ini penting agar daerah punya ruang fiskal untuk bergerak,” ujarnya.
Lebih jauh, Tamsil menyoroti adanya indikasi penyimpangan dalam penggunaan dana PEN di sejumlah daerah. Menurutnya, ada kasus di mana dana yang seharusnya digunakan untuk pemulihan ekonomi justru dialokasikan untuk proyek infrastruktur non-strategis, bahkan untuk kepentingan politik.
“Ada pemerintah daerah yang membangun lorong-lorong hanya untuk kepentingan elektoral, bukan untuk pemulihan ekonomi. Akibatnya, sekarang rakyat yang menanggung beban,” tegasnya.
Ia juga menyinggung dugaan praktik pemotongan dana pinjaman oleh oknum di tingkat pusat.
“Saya mendengar ada yang meminta potongan 30 persen di muka. Jadi kalau pinjaman Rp1 triliun, Rp300 miliar langsung dipotong. Seorang bupati di Sulawesi Selatan pernah bercerita kepada saya, dia menolak karena diminta seperti itu,” ungkap Tamsil.
Hanya saja Tamsil tak menyebut secara spesifik bupati yang dimaksud.
“Dia menolak (ajukan PEN), tapi bisa jadi ada kepala daerah lain yang menyetujui karena pinjaman tetap cair. Pertemuan pun tidak dilakukan di kantor resmi, melainkan di hotel,” tuturnya.
Tamsil menegaskan, praktik semacam ini harus dihentikan karena membebani keuangan daerah dan merugikan masyarakat. Ia berharap pemerintah pusat segera mengevaluasi program pinjaman daerah serta memperkuat pengawasan agar tidak disalahgunakan.
“Utang ini seharusnya menjadi instrumen pemulihan ekonomi, bukan alat politik. DPD RI akan terus mengawal agar kebijakan fiskal di daerah benar-benar berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.
Temuan ini disampaikan Tamsil usai melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Luwu, Luwu Utara dan Kota Palopo, baru-baru ini. Reses ini sekaligus untuk menyerap aspirasi daerah.
“Hampir seluruh daerah di Luwu Raya mengeluhkan dana transfer ke daerah (TKD) yang dikurangi," ucap Tamsil kepada wartawan di Makassar, Kamis (16/10/2025).
Tamsil melihat, situasi ini mestinya dimanfaatkan oleh daerah untuk mendongkrak PAD. Sehingga tidak terlalu bergantung pada TKD dari pusat.
"Saya sampaikan, ini momentum bagi daerah untuk mencari terobosan agar bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tanpa terlalu bergantung pada TKD,” katanya.
Menurutnya, salah satu solusi yang bisa ditempuh pemerintah daerah adalah memanfaatkan peluang penerbitan Municipal Bond atau obligasi daerah, sebagaimana diatur dalam undang-undang sejak tahun 2004 namun belum pernah diimplementasikan.
“World Bank bahkan telah menyatakan siap memberikan dukungan jika ada daerah yang berani menerbitkan Municipal Bond,” ujarnya.
Tamsil mengungkapkan bahwa beberapa daerah di Luwu Raya saat ini dibebani utang besar yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.
“Luwu Utara menyebut memiliki utang Rp285 miliar. Luwu tidak ada, tapi Palopo juga punya beban utang,” katanya.
Ia mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut langsung kepada Menteri Keuangan dalam sebuah pertemuan dengan Duta Besar Malaysia. Tamsil meminta agar pemerintah pusat memberikan relaksasi terhadap utang daerah, baik melalui pemotongan bunga maupun penundaan pembayaran selama satu tahun.
“Langkah ini penting agar daerah punya ruang fiskal untuk bergerak,” ujarnya.
Lebih jauh, Tamsil menyoroti adanya indikasi penyimpangan dalam penggunaan dana PEN di sejumlah daerah. Menurutnya, ada kasus di mana dana yang seharusnya digunakan untuk pemulihan ekonomi justru dialokasikan untuk proyek infrastruktur non-strategis, bahkan untuk kepentingan politik.
“Ada pemerintah daerah yang membangun lorong-lorong hanya untuk kepentingan elektoral, bukan untuk pemulihan ekonomi. Akibatnya, sekarang rakyat yang menanggung beban,” tegasnya.
Ia juga menyinggung dugaan praktik pemotongan dana pinjaman oleh oknum di tingkat pusat.
“Saya mendengar ada yang meminta potongan 30 persen di muka. Jadi kalau pinjaman Rp1 triliun, Rp300 miliar langsung dipotong. Seorang bupati di Sulawesi Selatan pernah bercerita kepada saya, dia menolak karena diminta seperti itu,” ungkap Tamsil.
Hanya saja Tamsil tak menyebut secara spesifik bupati yang dimaksud.
“Dia menolak (ajukan PEN), tapi bisa jadi ada kepala daerah lain yang menyetujui karena pinjaman tetap cair. Pertemuan pun tidak dilakukan di kantor resmi, melainkan di hotel,” tuturnya.
Tamsil menegaskan, praktik semacam ini harus dihentikan karena membebani keuangan daerah dan merugikan masyarakat. Ia berharap pemerintah pusat segera mengevaluasi program pinjaman daerah serta memperkuat pengawasan agar tidak disalahgunakan.
“Utang ini seharusnya menjadi instrumen pemulihan ekonomi, bukan alat politik. DPD RI akan terus mengawal agar kebijakan fiskal di daerah benar-benar berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.
(UMI)
Berita Terkait
Sulsel
PAD Maros Tembus Rp52 Miliar dalam Dua Bulan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Maros menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026.
Jum'at, 06 Mar 2026 14:37
Sulsel
Bantaeng Percepat Digitalisasi Retribusi untuk Dongkrak PAD
Pemerintah Kabupaten Bantaeng resmi mempercepat digitalisasi keuangan daerah dengan meluncurkan sistem pembayaran retribusi berbasis digital.
Rabu, 25 Feb 2026 12:40
News
MDA Hadiri Kunker Komite II DPD RI, Bahas Persiapan Pra-Penambangan di Sulsel
PT Masmindo Dwi Area (MDA) menghadiri Kunjungan Kerja Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) yang digelar di Kantor Perwakilan DPD RI Provinsi Sulawesi Selatan.
Jum'at, 06 Feb 2026 10:31
News
DPD RI jadi Garda Terdepan Suarakan Kepentingan Daerah Selaras Asta Cita
Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda pembangunan nasional.
Senin, 26 Jan 2026 22:27
Makassar City
DPRD Makassar Siap Kawal Bapenda Kejar Target PAD Rp2,4 Triliun
Komisi B DPRD Kota Makassar menggelar rapat kerja bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar di Gedung Perumnas Regional VII, Jalan Hertasning, Rabu (14/1/2026).
Kamis, 15 Jan 2026 06:54
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Demokrasi “Islam” Indonesia
2
Ilham Ari Fauzi Siapkan Road Show ke 24 Daerah, PPP Sulsel Gaspol Konsolidasi Jelang Muscab
3
Perluas Layanan Kemanusiaan, PMI Mariso Siap Perkuat Peran di Tingkat Kecamatan
4
LBH Pers Makassar Tuntut Kasus Kekerasan Jurnalis Dilanjutkan Lewat Praperadilan
5
PT Grand Puri Apresiasi Gubernur Kawal Proyek PSEL Makassar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Demokrasi “Islam” Indonesia
2
Ilham Ari Fauzi Siapkan Road Show ke 24 Daerah, PPP Sulsel Gaspol Konsolidasi Jelang Muscab
3
Perluas Layanan Kemanusiaan, PMI Mariso Siap Perkuat Peran di Tingkat Kecamatan
4
LBH Pers Makassar Tuntut Kasus Kekerasan Jurnalis Dilanjutkan Lewat Praperadilan
5
PT Grand Puri Apresiasi Gubernur Kawal Proyek PSEL Makassar