Keluarga Korban Pencabulan di Ponpes Manbaul Ulum Keluhkan Lambannya Penanganan Polisi
Rabu, 13 Mei 2026 13:40
Ilustrasi. Foto: Istimewa
MAROS - Penanganan kasus dugaan pencabulan di pondok pesantren Manbaul Ulum Tompobalang, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros di Polres Maros hingga kini masih bergulir.
Kasus dugaan pencabulan yang melibatkan Pimpinan Pondok Pesantren sebagai pelaku AA (64) ini telah dilaporkan sejak Februari 2025 lalu.
Lantaran sudah berproses setahun, keluarga korban pun mengeluhkan lambatnya penanganan perkara di Polres Maros. Pasalnya, terduga pelaku hingga kini belum berhasil diamankan.
Keluarga korban, AR (36), mengatakan, dugaan pelecehan itu terjadi pada akhir 2024 lalu. Namun hingga kini, belum ada perkembangan berarti dari proses hukum yang berjalan.
“Tidak ada perkembangannya. Padahal sudah setahun yang lalu. Terakhir itu saya komunikasi sama Kanit, katanya sementara diusahakan dana untuk penjemputan pelaku. Setelah itu tidak ada lagi kabarnya,” ujar AR kepada awak media, Rabu (13/05/2026).
AR mengaku, terakhir kali berkomunikasi dengan penyidik perempuan bernama Rahmitia selaku Kanit PPPA sekitar akhir tahun lalu.
Menurutnya, sejak laporan dibuat, sudah tiga kali terjadi pergantian Kepala Unit PPPA.
"Sudah tiga kali ganti Kanit, tapi belum ada perkembangan sama sekali," katanya.
Dia mengaku kecewa lantaran terduga pelaku disebut telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), tetapi belum juga ditangkap.
"Katanya sudah tahu keberadaannya di Kalimantan, tapi sampai sekarang belum ada penjemputan. Polisi bilang tunggu dana karena butuh biaya ke sana," ujarnya.
AR juga menyoroti minimnya komunikasi dari pihak kepolisian selama proses penanganan kasus berlangsung.
"Sekarang malah tidak ada kabar sama sekali dari Kanit yang baru," tambahnya.
Menurut AR, keluarga hanya berharap agar kasus tersebut segera dituntaskan dan pelaku bisa segera diamankan.
"Harapan saya dipercepat karena pelakunya masih berkeliaran. Saya mau tahu sebenarnya apa kendalanya," katanya.
Kasus ini terbongkar saat korban curhat pada bibinya di awal Januari tahun lalu.Sang anak mengaku sering di ajak ke kamar oleh sang pimpinan pesantren.
"Modusnya diajak ke kamar, disuruh pijit-pijit dan sempat dikasih uang dari awalnya Rp500 ribu menjadi Rp 1,5 juta dengan alasan “bisaki temanika?" Katanya.
Tak jarang, pimpinan pesantren ini modus menghukum santriwati di kamar muhasabah.
"Total ada empat korban, dengan perlakuan dan modus yang sama dilakukan berulang kali di ruang hukuman," sebutnya.
Dia menyebutkan, keponakannya saat itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Korban memberanikan kabur dari pondok setelah mendapat perlakuan tak menyenangkan.
"Korban ada empat, dua orang kelas 3 SMA, dua lainnya masih SMP," tururnya.
Kejadian ini pun menyisakan trauma mendalam bagi korban. Bahkan korban sempat tak masuk sekolah hingga hari ujian.
"Sempat mau dipidahkan sekolahnya, tapi pihak sekolah meminta agar tetap diselesaikan (pendidikannya) karena sudah masuk ujian, pas mau ujian baru masuk," ujar AR.
Kasi Humas Polres Maros, AKP Ahmad mengatakan, kasus tersebut masih bergulir. Tersangka telah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Kasus dugaan pencabulan yang melibatkan Pimpinan Pondok Pesantren sebagai pelaku AA (64) ini telah dilaporkan sejak Februari 2025 lalu.
Lantaran sudah berproses setahun, keluarga korban pun mengeluhkan lambatnya penanganan perkara di Polres Maros. Pasalnya, terduga pelaku hingga kini belum berhasil diamankan.
Keluarga korban, AR (36), mengatakan, dugaan pelecehan itu terjadi pada akhir 2024 lalu. Namun hingga kini, belum ada perkembangan berarti dari proses hukum yang berjalan.
“Tidak ada perkembangannya. Padahal sudah setahun yang lalu. Terakhir itu saya komunikasi sama Kanit, katanya sementara diusahakan dana untuk penjemputan pelaku. Setelah itu tidak ada lagi kabarnya,” ujar AR kepada awak media, Rabu (13/05/2026).
AR mengaku, terakhir kali berkomunikasi dengan penyidik perempuan bernama Rahmitia selaku Kanit PPPA sekitar akhir tahun lalu.
Menurutnya, sejak laporan dibuat, sudah tiga kali terjadi pergantian Kepala Unit PPPA.
"Sudah tiga kali ganti Kanit, tapi belum ada perkembangan sama sekali," katanya.
Dia mengaku kecewa lantaran terduga pelaku disebut telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), tetapi belum juga ditangkap.
"Katanya sudah tahu keberadaannya di Kalimantan, tapi sampai sekarang belum ada penjemputan. Polisi bilang tunggu dana karena butuh biaya ke sana," ujarnya.
AR juga menyoroti minimnya komunikasi dari pihak kepolisian selama proses penanganan kasus berlangsung.
"Sekarang malah tidak ada kabar sama sekali dari Kanit yang baru," tambahnya.
Menurut AR, keluarga hanya berharap agar kasus tersebut segera dituntaskan dan pelaku bisa segera diamankan.
"Harapan saya dipercepat karena pelakunya masih berkeliaran. Saya mau tahu sebenarnya apa kendalanya," katanya.
Kasus ini terbongkar saat korban curhat pada bibinya di awal Januari tahun lalu.Sang anak mengaku sering di ajak ke kamar oleh sang pimpinan pesantren.
"Modusnya diajak ke kamar, disuruh pijit-pijit dan sempat dikasih uang dari awalnya Rp500 ribu menjadi Rp 1,5 juta dengan alasan “bisaki temanika?" Katanya.
Tak jarang, pimpinan pesantren ini modus menghukum santriwati di kamar muhasabah.
"Total ada empat korban, dengan perlakuan dan modus yang sama dilakukan berulang kali di ruang hukuman," sebutnya.
Dia menyebutkan, keponakannya saat itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Korban memberanikan kabur dari pondok setelah mendapat perlakuan tak menyenangkan.
"Korban ada empat, dua orang kelas 3 SMA, dua lainnya masih SMP," tururnya.
Kejadian ini pun menyisakan trauma mendalam bagi korban. Bahkan korban sempat tak masuk sekolah hingga hari ujian.
"Sempat mau dipidahkan sekolahnya, tapi pihak sekolah meminta agar tetap diselesaikan (pendidikannya) karena sudah masuk ujian, pas mau ujian baru masuk," ujar AR.
Kasi Humas Polres Maros, AKP Ahmad mengatakan, kasus tersebut masih bergulir. Tersangka telah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
Pria Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Maros, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan
Warga Desa Sudirman, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, digegerkan dengan penemuan jenazah seorang pria yang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan raya, Minggu (7/6/2026).
Senin, 08 Jun 2026 13:16
Sulsel
Ketua Komisi III DPRD Maros Desak Polisi Tuntaskan Kasus Dugaan Pencabulan di Ponpes
Ketua Komisi III DPRD Maros, Haeriah Rahman, mendesak Polres Maros segera menuntaskan kasus dugaan pencabulan di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Tompobalang, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung.
Rabu, 13 Mei 2026 14:55
Sulsel
Terduga Pencuri Kabur Saat Diperiksa, Ditangkap Lagi 5 Jam Kemudian
Seorang terduga pelaku pencurian di Kabupaten Maros melarikan diri saat menjalani pemeriksaan di Posko Jatanras Polres Maros, Rabu malam (8/4/2026).
Kamis, 09 Apr 2026 17:23
Sulsel
Antisipasi Arus Mudik, Polisi Atur Lalin di Jalan Pahlawan Jeneponto
Personel Pos Terpadu Operasi Ketupat 2026 Polres Jeneponto melakukan pengaturan arus lalu lintas di Jalan Pahlawan, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Senin (16/3/2026) malam.
Selasa, 17 Mar 2026 22:11
News
Oknum Dosen di Parepare Lakukan Pencabulan di Minimarket Ahmad Yani
Oknum dosen di Kota Parepare berinisial S diamankan pihak kepolisian usai mencabuli seorang wanita benisial MF di salah satu mini market pada Ahad, 1 Maret 2026 sekira pukul 23.00 WITA.
Rabu, 04 Mar 2026 22:35
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PLN Icon Plus Bidik Perluasan Pelanggan Iconnet Lewat Semesta Berpesta di Makassar
2
Usung Fitur Lebih Lengkap, Hyundai Gowa Perkenalkan New CRETA di Makassar
3
Mutasi Besar Polda Sulsel, Sejumlah Pejabat Utama dan Kapolres Berganti
4
Kurang dari 24 Jam, Polres Jeneponto Tangkap 3 Pelaku Pengeroyokan Petani
5
Bupati Gowa Siap Hadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Ponpes Parmusi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PLN Icon Plus Bidik Perluasan Pelanggan Iconnet Lewat Semesta Berpesta di Makassar
2
Usung Fitur Lebih Lengkap, Hyundai Gowa Perkenalkan New CRETA di Makassar
3
Mutasi Besar Polda Sulsel, Sejumlah Pejabat Utama dan Kapolres Berganti
4
Kurang dari 24 Jam, Polres Jeneponto Tangkap 3 Pelaku Pengeroyokan Petani
5
Bupati Gowa Siap Hadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Ponpes Parmusi