Inovasi Sipakatau Tingkatkan Temuan Kasus TB di Maros hingga 47,65 Persen

Rabu, 24 Jun 2026 14:13
Inovasi Sipakatau Tingkatkan Temuan Kasus TB di Maros hingga 47,65 Persen
Bupati Maros, AS Chaidir Syam dan Wakil Bupati Muetazim Mansyur menghadiri ajang penghargaan di Jakarta. Foto: Istimewa
Comment
Share
JAKARTA - Bupati Maros, AS Chaidir Syam, memaparkan keberhasilan inovasi Sipakatau dalam meningkatkan temuan kasus tuberkulosis (TB) di Kabupaten Maros saat menghadiri ajang penghargaan Tribun Network di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Chaidir mengatakan pemerintah daerah terus mendorong lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di sektor kesehatan.

"Kita berharap kerja-kerja pemerintah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat. Itu merupakan kerja penting yang harus dilakukan," ujarnya.

Menurut Chaidir, tingginya jumlah penderita dan suspek TB di Maros mendorong Pemerintah Kabupaten Maros bersama Dinas Kesehatan melahirkan inovasi Sipakatau atau Strategi Akselerasi Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis di Kabupaten Maros.

Program tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program prioritas nasional di bidang kesehatan yang dicanangkan Presiden RI.

Sebagai langkah penguatan program, Pemkab Maros menerbitkan Peraturan Bupati pada 2025 sebagai landasan strategi penanganan TB. Pemerintah juga mengukuhkan Duta Sipakatau yang melibatkan pelajar SMA di 14 kecamatan dan 103 desa serta kelurahan.

"Kita libatkan stakeholder, termasuk remaja-remaja di 14 kecamatan dan 103 desa. Kemudian lahir peraturan desa yang mendukung strategi penanganan TB di masing-masing wilayah," kata Chaidir.

Selain itu, pemerintah mengoptimalkan peran kader posyandu dan membangun kolaborasi lintas sektor mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa hingga kelurahan untuk memperluas penemuan kasus suspek TB.

Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Jika angka temuan suspek TB pada periode 2022 hingga 2024 berada di kisaran 30 persen, kini meningkat menjadi 47,65 persen.

"Alhamdulillah dengan strategi ini sampai sekarang sudah kita temukan 47,65 persen. Kita berharap sampai akhir tahun bisa mencapai 90 persen bahkan 100 persen sehingga penanganan dan penyembuhan masyarakat bisa kita kawal," ujarnya.

Chaidir mengungkapkan program Sipakatau telah berjalan efektif selama hampir dua tahun. Namun, tantangan terbesar masih berasal dari stigma masyarakat terhadap penyakit TB.

Menurutnya, masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena merasa malu atau menganggap gejala yang dialami hanya batuk biasa.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menghadirkan layanan khusus bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk agar lebih nyaman menjalani pemeriksaan.

"Kita buat pojok tersendiri sehingga mereka tidak malu. Privasi pasien tetap terjaga karena hanya dokter, perawat, dan pasien yang mengetahui kondisi tersebut," katanya.

Selain sektor kesehatan, Chaidir menegaskan Pemerintah Kabupaten Maros juga terus memberikan perhatian pada sektor pendidikan. Menurutnya, kedua sektor tersebut menjadi prioritas utama dalam pengalokasian anggaran daerah, tanpa mengabaikan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru