Menumbuhkan Budaya Investasi Terencana lewat PINTAR Reksa Dana

Sabtu, 02 Mei 2026 17:27
Menumbuhkan Budaya Investasi Terencana lewat PINTAR Reksa Dana
APRDI bersama OJK melaksanakan rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026 di beberapa kota, termasuk Makassar. Lewat kegiatan itu, mereka memperkenalkan pula Program PINTAR Reksa Dana.
Comment
Share
MAKASSAR - Industri reksa dana di Indonesia menunjukkan kinerja solid. Generasi muda alias investor pemula semakin melirik instrumen investasi ini, karena dinilai minim risiko, lebih terjangkau, dan anti-ribet.

Sepanjang 2025, pertumbuhan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) reksa dana melonjak signifikan. Terjadi peningkatan 35,06% menjadi Rp679,24 triliun, dari Rp502,92 triliun pada akhir 2024. Secara keseluruhan, total dana kelolaan investasi bahkan menembus angka Rp1.000 triliun, tepatnya mencapai Rp1.007,65 triliun atau tumbuh 25,19%.

Dari sisi jenis produk, reksa dana pendapatan tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan AUM, diikuti oleh reksa dana pasar uang, reksa dana terproteksi, dan reksa dana saham. Sebaliknya, reksa dana indeks mengalami penurunan. Tren ini menunjukkan bahwa investor domestik masih cenderung memilih instrumen dengan profil risiko konservatif hingga moderat di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Kinerja produk reksa dana juga terbilang solid. Berdasarkan indeks reksa dana dari Pasardana.id, reksa dana saham mencatatkan imbal hasil tertinggi sebesar 17,23% hingga akhir 2025. Disusul reksa dana campuran sebesar 12,48%, reksa dana pendapatan tetap 6,96%, serta reksa dana pasar uang 3,18%. Performa reksa dana saham sejalan dengan penguatan pasar saham domestik, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 22,13% sepanjang tahun.

Jumlah investor reksa dana juga terus mengalami peningkatan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 19,2 juta per akhir 2025, naik 3,23% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 18,6 juta. Menariknya, lebih dari separuh investor—tepatnya 54,24%—didominasi oleh generasi muda berusia di bawah 30 tahun, menandakan meningkatnya kesadaran berinvestasi sejak dini.

Lonjakan minat itu direspons pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana pada akhir April 2026. Dukungan juga ditunjukkan oleh Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) lewat Pekan Reksa Dana 2026.

Program dan inisiatif OJK bersama APRDI merupakan upaya memperkuat pemahaman dan partisipasi masyarakat agar menjadi investor di pasar modal, khususnya reksa dana. Juga bagian dari strategi menumbuhkan budaya investasi di kalangan masyarakat agar dilakukan secara rutin dan terencana.

Marsangap P. Tamba, Dewan Presidium APRDI, mengungkapkan pertumbuhan signifikan industri reksa dana pada tahun 2025 mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, terutama di kalangan generasi muda yang kini mendominasi komposisi investor.

Untuk itu, APRDI bersama OJK melaksanakan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 alias SOSEDU APRDI 2026. Kegiatan itu diawali dengan rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026 di berbagai kota, termasuk Makassar.

"Lewat kampanye #ReksaDanaAja, kami mendorong pendekatan edukasi yang lebih interaktif dan partisipatif agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi yang terencana melalui reksa dana," ucap Marsangap di Makassar.

Ketua Presidium APRDI, Lolita Lilana, saat peluncuran PINTAR Reksa Dana, menilai industri reksa dana masih memerlukan inovasi dan kreativitas agar produknya semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dukungan serta insentif juga dinilai penting dalam membangun budaya investasi.

“Program PINTAR Reksa Dana diharapkan dapat menggerakan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan,” kata Lolita.

Menumbuhkan Budaya Investasi Terencana lewat PINTAR Reksa Dana

Dominasi Anak Muda
Lebih separuh dari investor dana reksa didominasi anak muda. Tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga di Sulawesi Selatan.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengungkapkan bahwa hingga Februari 2026 terdapat 569.610 investor reksa dana di Sulawesi Selatan. Dari tiga instrumen utama pasar modal—saham, obligasi, dan reksa dana—instrumen reksa dana menjadi yang paling diminati, terutama oleh investor milenial dan Gen Z.

Menurut Muchlasin, tingginya minat masyarakat terhadap reksa dana tidak terlepas dari karakter instrumen investasi tersebut yang relatif mudah diakses serta cocok bagi investor pemula. Bahkan, masyarakat dapat mulai berinvestasi hanya dengan modal Rp10 ribu.

Lebih lanjut, ia menyebut diminatinya reksa dana oleh milenial dan Gen Z juga menandakan meningkatnya kesadaran finansial yang membuat kedua generasi tersebut mulai aktif menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk investasi.

“Minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, terutama dari generasi muda. Berdasarkan data BPS, penduduk usia 15–34 tahun mencapai sekitar 88,96 juta jiwa, tetapi investor reksa dana usia muda baru sekitar 12,82%. Artinya, ruang peningkatan inklusi investasi masih sangat luas dan perlu didorong secara serius. Karena jika dilihat lebih dalam, potensi tersebut masih sangat besar,” papar Moch. Muchlasin.

Ia juga menekankan bahwa investasi tidak hanya soal keuntungan, tetapi juga risiko. Karena itu, edukasi menjadi kunci agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak, termasuk memahami legalitas produk, manfaat, risiko, serta hak dan kewajiban sebelum berinvestasi.

Menumbuhkan Budaya Investasi Terencana lewat PINTAR Reksa Dana

Dorong Inklusi Investasi
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Wisyasari Dewi, menyampaikan PINTAR Reksa Dana merupakan sebuah inisiatif yang ditujukan untuk mendorong pendalaman pasar sekaligus meningkatkan inklusi keuangan. Melalui program ini, masyarakat diharapkan semakin mudah mengakses instrumen investasi, khususnya reksa dana, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan.

PINTAR Reksa Dana, ia bilang merupakan bagian dari delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal Indonesia. Ia menekankan bahwa integritas pasar tidak hanya ditentukan oleh kualitas tata kelola, tetapi juga oleh luasnya partisipasi investor domestik.

“Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional,” kata Friderica.

Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Bunga Wahyuni, dalam kunjungan ke Makassar, menyampaikan program ini bertujuan mendorong kebiasaan investasi yang disiplin dan konsisten. Hal itu dilakukan melalui penyetoran dana secara berkala dengan menggabungkan prinsip power of compounding dan dollar cost averaging.

Program ini tersedia dalam dua kategori PINTAR Reksa Dana Umum untuk seluruh lapisan masyarakat, serta PINTAR Reksa Dana SiMUDA Investasiku khusus untuk pemuda usia 18–30 tahun.

"Sekarang melakukan investasi sangatlah mudah. Yang terpenting, investor memahami profil risiko beserta tujuan keuangannya," jelas Bunga.

Ke depan, PINTAR Reksa Dana diharapkan berkembang menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, sekaligus membangun kebiasaan investasi yang sehat sejak dini di tengah masyarakat. Saat ini, program tersebut telah didukung oleh 30 Manajer Investasi dan 26 Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru