Dewan Minta Pemkot Makassar Kaji Ulang Pembangunan PLTSa di Tamalanrea
Kamis, 07 Agu 2025 05:46
Anggota DPRD Kota Makassar, Ray Suryadi Arsyad saat ditemui wartawan, di Kantor DPRD Kota Makassar, Rabu (6/8/2025). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Aliansi Gerakan Rakyat Menolak Lokasi (GERAM) menggelar aksi penolakan rencana pembangunan (PLTSa) di Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Aksi tersebut digelar di halaman Kantor DPRD Kota Makassar, Rabu (6/8/2025).
Setelah melihat hal itu, Komisi C DPRD Kota Makassar memanggil mereka untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP), bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, di Ruang Badan Anggaran, Kantor DPRD Kota Makassar.
Salah satu perwakilan masyarakat, Azis menolak secara tegas pembangunan yang berbatasan langsung dengan pemukiman perumahan di sekitar area perumahan Mula Baru, Tamalalang, Alamanda, dan Akasia.
"Kami meminta ke pemerintah kota untuk memindahkan proyek ini, karena pembangunannya berdekatan atau berbatasan langsung dengan rumah warga. Terakhir meminta dukungan DPRD Makassar untuk berdiri bersama warga dan ikut serta dalam menolak pembangunan PLTSa di wilayah padat penduduk," harapnya.
Senada dengan hal itu, warga perumahan Alamanda, Dadang Anugrah memprotes pendirian proyek yang bersebelahan rumah pada penduduk, yang dinilai merugikan masyarakat setempat.
"Kami tidak menolak proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) secara keseluruhan, tetapi kita sangat khawatir efek jangka panjangnya terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar. Polusi udara dari cerobong bisa buat sakit membuat penyakit tertentu ke depan," ujarnya dalam RDP.
Menanggapi keluhan tersebut, anggota Komisi C DPRD Kota Makassar, Ray Suryadi Arsyad, mengaku bahwa telah menerima langsung aspirasi warga terkait permasalahan yang dinilai merugikan masyarakat.
"Warga merasa terancam akan adanya kegiatan yang berlangsung di kemudian hari, baik itu bagi anak-anaknya dan cucu cucunya yang merasa bahwa tercemar udaranya, airnya, dan tentu saja jalur transportasi yang akan mengakibatkan macet nanti," katanya usai RDP tadi sore.
Legislator Partai Demokrat itu menilai bahwa kekecewaan mereka dikarenakan pihak PT Sarana Utama Sulsel (PT SUS) tidak memberikan akses diksusi bersama masyarakat perihal pembangunan proyek tersebut.
"Oleh karena itu, sangat rasional ketika mereka warga datang untuk menolak karena memang kami juga mempertanyakan wilayah itu masuk perencanaan apa. Detail tata ruangnya itu sepeti apa karena di sana kan ada perumahan, ada industri. Sehingga ini mengakibatkan adanya kekacauan di Kota Makasssar," tambah Ray.
Ketua fraksi MULIA (Demokrat—Hanura) ini juga mempertanyakan terkait adanya pembangunan yang bersifat tidak konsisten dalam hal menerapkan aturan yang ada. Kata dia, jikalau ada kesempatan untuk memindahkan proyek tersebut, maka pihaknya sepakat dengan hal itu.
"Kami memberikan masukan untuk wilayah pembuangan atau pengolahan sampah itu bisa dilangsungkan di tempat awalnya. Kota Makassar ini sebenarnya membutuhkan ruang terbuka hijau dan kita mau capai itu. Akan tetapi, tiba-tiba ini ada pembangunan industri yang akan dibangun dan akan mempengaruhi ruang terbuka hijau," tukasnya kepada awak media.
Ray berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengkaji atau meninjau ulang lokasi pekerjaan PLTSa di Kelurahan Bira. Menurutnya, penerapan tata ruang kota masih kurang sehingga terjadi semrawut dalam sistem pembangunan di Kota Makassar.
"Kami berharap Pemkot Makassar sambil menunggu terkait pembangunan PSEL secara detail tapi untuk penetapan lokasinya itu tahapan dari panitia dan pemerintah kota, semoga pemerintah bisa merasionalisasikan hal hal yang berbau masa depan kota makassar.
Setelah melihat hal itu, Komisi C DPRD Kota Makassar memanggil mereka untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP), bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, di Ruang Badan Anggaran, Kantor DPRD Kota Makassar.
Salah satu perwakilan masyarakat, Azis menolak secara tegas pembangunan yang berbatasan langsung dengan pemukiman perumahan di sekitar area perumahan Mula Baru, Tamalalang, Alamanda, dan Akasia.
"Kami meminta ke pemerintah kota untuk memindahkan proyek ini, karena pembangunannya berdekatan atau berbatasan langsung dengan rumah warga. Terakhir meminta dukungan DPRD Makassar untuk berdiri bersama warga dan ikut serta dalam menolak pembangunan PLTSa di wilayah padat penduduk," harapnya.
Senada dengan hal itu, warga perumahan Alamanda, Dadang Anugrah memprotes pendirian proyek yang bersebelahan rumah pada penduduk, yang dinilai merugikan masyarakat setempat.
"Kami tidak menolak proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) secara keseluruhan, tetapi kita sangat khawatir efek jangka panjangnya terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar. Polusi udara dari cerobong bisa buat sakit membuat penyakit tertentu ke depan," ujarnya dalam RDP.
Menanggapi keluhan tersebut, anggota Komisi C DPRD Kota Makassar, Ray Suryadi Arsyad, mengaku bahwa telah menerima langsung aspirasi warga terkait permasalahan yang dinilai merugikan masyarakat.
"Warga merasa terancam akan adanya kegiatan yang berlangsung di kemudian hari, baik itu bagi anak-anaknya dan cucu cucunya yang merasa bahwa tercemar udaranya, airnya, dan tentu saja jalur transportasi yang akan mengakibatkan macet nanti," katanya usai RDP tadi sore.
Legislator Partai Demokrat itu menilai bahwa kekecewaan mereka dikarenakan pihak PT Sarana Utama Sulsel (PT SUS) tidak memberikan akses diksusi bersama masyarakat perihal pembangunan proyek tersebut.
"Oleh karena itu, sangat rasional ketika mereka warga datang untuk menolak karena memang kami juga mempertanyakan wilayah itu masuk perencanaan apa. Detail tata ruangnya itu sepeti apa karena di sana kan ada perumahan, ada industri. Sehingga ini mengakibatkan adanya kekacauan di Kota Makasssar," tambah Ray.
Ketua fraksi MULIA (Demokrat—Hanura) ini juga mempertanyakan terkait adanya pembangunan yang bersifat tidak konsisten dalam hal menerapkan aturan yang ada. Kata dia, jikalau ada kesempatan untuk memindahkan proyek tersebut, maka pihaknya sepakat dengan hal itu.
"Kami memberikan masukan untuk wilayah pembuangan atau pengolahan sampah itu bisa dilangsungkan di tempat awalnya. Kota Makassar ini sebenarnya membutuhkan ruang terbuka hijau dan kita mau capai itu. Akan tetapi, tiba-tiba ini ada pembangunan industri yang akan dibangun dan akan mempengaruhi ruang terbuka hijau," tukasnya kepada awak media.
Ray berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengkaji atau meninjau ulang lokasi pekerjaan PLTSa di Kelurahan Bira. Menurutnya, penerapan tata ruang kota masih kurang sehingga terjadi semrawut dalam sistem pembangunan di Kota Makassar.
"Kami berharap Pemkot Makassar sambil menunggu terkait pembangunan PSEL secara detail tapi untuk penetapan lokasinya itu tahapan dari panitia dan pemerintah kota, semoga pemerintah bisa merasionalisasikan hal hal yang berbau masa depan kota makassar.
(MAN)
Berita Terkait
News
Tekan Volume Sampah, Kelurahan Daya Gencarkan Kebijakan Pemilahan Sampah Rumah Tangga
Pemerintah Kelurahan Daya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, telah menggencarkan kebijakan pemilihan sampah bagi setiap keluarga yang mulai diberlakukan pada 1 Agustus 2026 mendatang.
Senin, 27 Jul 2026 09:41
Makassar City
DP2 Makassar Perkuat Program Urban Farming di 15 Lokasi Terintegrasi
Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar terus memperkuat pelaksanaan program urban farming atau pertanian perkotaan guna meningkatkan ketahanan pangan di tingkat masyarakat.
Minggu, 26 Jul 2026 12:17
Makassar City
Kemendagri Usul Reward dan Punishment untuk Dongkrak Kinerja OPD Makassar
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mempercepat realisasi belanja daerah dan meningkatkan akurasi perencanaan anggaran.
Sabtu, 25 Jul 2026 23:12
Makassar City
Wali Kota Siapkan Sanksi dan Penghargaan bagi OPD Berdasarkan Serapan Anggaran
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya percepatan eksekusi anggaran pada awal tahun untuk menghindari keterlambatan program yang kerap berulang.
Sabtu, 25 Jul 2026 22:14
News
DPRD Makassar Telusuri Legalitas Rumah Contoh di Jalan Metro Tanjung Bunga
Komisi C DPRD Kota Makassar menyoroti keberadaan bangunan rumah contoh di tengah Jalan Metro Tanjung Bunga yang diduga berdiri di atas lahan fasilitas umum (fasum) atau fasilitas sosial (fasos).
Sabtu, 25 Jul 2026 11:57
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
DPRD Luwu Timur Soroti PT PUL, Diduga Gunakan Jalan Nasional Tanpa Izin
2
Andi Muzakkir Aqil Ditunjuk sebagai Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kota Makassar
3
Reses di Gowa, Andi Tenri Indah Serap Keluhan Warga Soal Zonasi dan Akses Sekolah Negeri
4
DP2 Makassar Perkuat Program Urban Farming di 15 Lokasi Terintegrasi
5
Kalla Property Umumkan Pemenang Program Shop & Greet, Hadiah Utama Mobil BYD
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
DPRD Luwu Timur Soroti PT PUL, Diduga Gunakan Jalan Nasional Tanpa Izin
2
Andi Muzakkir Aqil Ditunjuk sebagai Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kota Makassar
3
Reses di Gowa, Andi Tenri Indah Serap Keluhan Warga Soal Zonasi dan Akses Sekolah Negeri
4
DP2 Makassar Perkuat Program Urban Farming di 15 Lokasi Terintegrasi
5
Kalla Property Umumkan Pemenang Program Shop & Greet, Hadiah Utama Mobil BYD