Pengamat Sebut Survei Kepuasan 80,1% jadi Modal Sosial Kepemimpinan Munafri-Aliyah
Sabtu, 21 Feb 2026 09:21
Pengamat Politik, Arief Wicaksono. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Pengamat Politik, Arief Wicaksono mengatakan Angka kepuasan 80,1% tentu merupakan modal sosial yang signifikan bagi kepemimpinan Munafri-Aliyah. Namun, dalam kajian administrasi publik dan metodologi survei, hasil seperti ini perlu dibaca secara lebih mendalam, tidak hanya sebagai agregat yang absolut.
Arief menuturkan, dalam teori public satisfaction dalam sebuah upaya pengukuran tingkat kepuasan yang ideal, terdapat penekanan tentang pentingnya pengukuran multidimensi dan komparatif.
"Sebuah survei kepuasan yang komprehensif seharusnya tidak hanya menanyakan tingkat kepuasan secara umum, tetapi juga mengukur kinerja pada sektor-sektor spesifik seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, atau penanganan banjir," katanya.
Lanjut Arief, sayangnya, rilis hasil survey itu belum (untuk tidak mengatakan, tidak) merinci variabel-variabel tersebut. Dari sisi metodologi, penggunaan multistage random sampling dengan 600 responden dan margin of error ±4,8% sudah cukup baik secara kuantitatif.
"Namun, transparansi penuh atas kuesioner dan metode pengolahan data tetap diperlukan untuk menghindari potensi bias, seperti social desirability bias di mana responden cenderung memberi jawaban positif, terutama jika survei dilakukan oleh lembaga yang memiliki kedekatan dengan penguasa," jelasnya.
Oleh karena itu, narasi dalam rilis survey tersebut perlu diseimbangkan dan diuji melalui kacamata akademik, khususnya melalui pendekatan Expectancy-Disconfirmation Theory (Oliver, 1980). Teori ini menegaskan bahwa kepuasan pada dasarnya hanyalah selisih antara ekspektasi awal publik dengan kinerja yang dirasakan.
"Tingginya tingkat kepuasan di tahun pertama masa jabatan sangat rentan dipengaruhi oleh halo effect sisa kampanye politik atau bahkan rendahnya ekspektasi dasar masyarakat terhadap birokrasi, alih-alih murni karena lonjakan kualitas tata kelola pemerintahan," tuturnya.
"Oleh karena itu, agregat angka kepuasan tersebut lebih mencerminkan persepsi politik yang bersifat sementara, ketimbang ukuran definitif atas keberhasilan struktural yang telah mengakar," sambungnya.
Menurut Arief, secara metodologis, pengukuran ideal atas keberhasilan pelayanan publik tidak cukup direpresentasikan oleh satu persentase umum yang berpotensi menutupi defisiensi di sektor-sektor krusial pembangunan kota.
Merujuk pada teori SERVQUAL (Parasuraman, Zeithaml, & Berry) dan pedoman Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), evaluasi yang komprehensif harus secara terpisah membedah dimensi tangibles (infrastruktur fisik), reliability (keandalan program), responsiveness (daya tanggap aparatur), assurance (kepastian rasa aman), dan empathy (keberpihakan pada warga).
"Tanpa pembedahan indikator sektoral yang transparan, seperti efektivitas penanganan kemacetan, banjir, atau penciptaan lapangan kerja, angka 80,1% berisiko menciptakan sebuah ilusi kemapanan semu. Ilusi ini justru dapat menenggelamkan suara belasan persen warga yang tidak puas, yang sangat mungkin merupakan kelompok rentan atau marjinal yang belum tersentuh pemerataan kebijakan sebuah rezim pemerintahan," jelasnya.
Ia menekankan, tata kelola pemerintahan yang bermutu, menuntut pergeseran signifikan dari sekadar evaluasi perseptual berbasis opini menuju outcome-based impact (dampak nyata berbasis hasil).
Tingginya angka kepuasan survei wajib divalidasi dan dikorelasikan secara positif dengan indikator makro pembangunan objektif di Makassar, seperti peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penurunan angka pengangguran, dan perbaikan rasio Gini.
"Dengan meletakkan data secara proporsional, hasil survei dapat difungsikan secara matang sebagai instrumen diagnostik untuk perbaikan pelayanan publik berkelanjutan, bukan sekadar etalase legitimasi," paparnya.
Ia pun menyarankan, untuk meningkatkan akurasi di masa depan, survei semacam ini bisa diperkaya dengan pendekatan mixed-methods, menggabungkan data kuantitatif dengan wawancara kualitatif untuk mengeksplorasi alasan di balik kepuasan atau ketidakpuasan.
"Hal ini sejalan dengan prinsip konstruktif dalam penelitian sosial, di mana hasil survei bukan hanya untuk puji-pujian belaka, namun juga sebagai alat evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemangku kepentingan dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar perbaikan yang komprehensif," tandasnya.
Arief menuturkan, dalam teori public satisfaction dalam sebuah upaya pengukuran tingkat kepuasan yang ideal, terdapat penekanan tentang pentingnya pengukuran multidimensi dan komparatif.
"Sebuah survei kepuasan yang komprehensif seharusnya tidak hanya menanyakan tingkat kepuasan secara umum, tetapi juga mengukur kinerja pada sektor-sektor spesifik seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, atau penanganan banjir," katanya.
Lanjut Arief, sayangnya, rilis hasil survey itu belum (untuk tidak mengatakan, tidak) merinci variabel-variabel tersebut. Dari sisi metodologi, penggunaan multistage random sampling dengan 600 responden dan margin of error ±4,8% sudah cukup baik secara kuantitatif.
"Namun, transparansi penuh atas kuesioner dan metode pengolahan data tetap diperlukan untuk menghindari potensi bias, seperti social desirability bias di mana responden cenderung memberi jawaban positif, terutama jika survei dilakukan oleh lembaga yang memiliki kedekatan dengan penguasa," jelasnya.
Oleh karena itu, narasi dalam rilis survey tersebut perlu diseimbangkan dan diuji melalui kacamata akademik, khususnya melalui pendekatan Expectancy-Disconfirmation Theory (Oliver, 1980). Teori ini menegaskan bahwa kepuasan pada dasarnya hanyalah selisih antara ekspektasi awal publik dengan kinerja yang dirasakan.
"Tingginya tingkat kepuasan di tahun pertama masa jabatan sangat rentan dipengaruhi oleh halo effect sisa kampanye politik atau bahkan rendahnya ekspektasi dasar masyarakat terhadap birokrasi, alih-alih murni karena lonjakan kualitas tata kelola pemerintahan," tuturnya.
"Oleh karena itu, agregat angka kepuasan tersebut lebih mencerminkan persepsi politik yang bersifat sementara, ketimbang ukuran definitif atas keberhasilan struktural yang telah mengakar," sambungnya.
Menurut Arief, secara metodologis, pengukuran ideal atas keberhasilan pelayanan publik tidak cukup direpresentasikan oleh satu persentase umum yang berpotensi menutupi defisiensi di sektor-sektor krusial pembangunan kota.
Merujuk pada teori SERVQUAL (Parasuraman, Zeithaml, & Berry) dan pedoman Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), evaluasi yang komprehensif harus secara terpisah membedah dimensi tangibles (infrastruktur fisik), reliability (keandalan program), responsiveness (daya tanggap aparatur), assurance (kepastian rasa aman), dan empathy (keberpihakan pada warga).
"Tanpa pembedahan indikator sektoral yang transparan, seperti efektivitas penanganan kemacetan, banjir, atau penciptaan lapangan kerja, angka 80,1% berisiko menciptakan sebuah ilusi kemapanan semu. Ilusi ini justru dapat menenggelamkan suara belasan persen warga yang tidak puas, yang sangat mungkin merupakan kelompok rentan atau marjinal yang belum tersentuh pemerataan kebijakan sebuah rezim pemerintahan," jelasnya.
Ia menekankan, tata kelola pemerintahan yang bermutu, menuntut pergeseran signifikan dari sekadar evaluasi perseptual berbasis opini menuju outcome-based impact (dampak nyata berbasis hasil).
Tingginya angka kepuasan survei wajib divalidasi dan dikorelasikan secara positif dengan indikator makro pembangunan objektif di Makassar, seperti peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penurunan angka pengangguran, dan perbaikan rasio Gini.
"Dengan meletakkan data secara proporsional, hasil survei dapat difungsikan secara matang sebagai instrumen diagnostik untuk perbaikan pelayanan publik berkelanjutan, bukan sekadar etalase legitimasi," paparnya.
Ia pun menyarankan, untuk meningkatkan akurasi di masa depan, survei semacam ini bisa diperkaya dengan pendekatan mixed-methods, menggabungkan data kuantitatif dengan wawancara kualitatif untuk mengeksplorasi alasan di balik kepuasan atau ketidakpuasan.
"Hal ini sejalan dengan prinsip konstruktif dalam penelitian sosial, di mana hasil survei bukan hanya untuk puji-pujian belaka, namun juga sebagai alat evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemangku kepentingan dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar perbaikan yang komprehensif," tandasnya.
(UMI)
Berita Terkait
Makassar City
GMTD Serahkan PSU Senilai Rp455 Miliar ke Pemkot Makassar
PSU yang diserahkan GMTD kepada Pemkot Makassar memiliki nilai mencapai Rp455 miliar dengan luas total 123.666 meter persegi atau sekitar 12,3 hektare.
Sabtu, 23 Mei 2026 20:22
Makassar City
Pemkot Makassar Tertibkan Kendaraan Dinas Rusak, Proses Lelang Segera Dibuka
Pemerintah Kota Makassar melalui Dishub mulai menertibkan dan memindahkan puluhan kendaraan dinas operasional yang mengalami rusak berat dari area Balai Kota Makassar, Jumat (22/5/2026).
Sabtu, 23 Mei 2026 06:48
Makassar City
Antisipasi Begal, Kelurahan Kapasa Aktifkan Posko Malam dan Perketat Patroli
Pemerintah Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, mengaktifkan kembali posko malam dan memperketat patroli wilayah untuk mengantisipasi aksi begal dan geng motor yang dinilai meresahkan warga.
Jum'at, 22 Mei 2026 17:48
Makassar City
Aktivitas Bongkar Muat di Pasar Kalimbu Veteran Utara Ditertibkan
Pemerintah Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, mulai mengambil langkah nyata, melakukan penataan dan penertiban aktivitas pedagang kaki lima (PK5), Kamis, (21/5/2026).
Kamis, 21 Mei 2026 16:30
Makassar City
Polrestabes Makassar Resmi Luncurkan Layanan SIM C1, Appi Jajal Langsung Lintasan Ujian
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meresmikan langsung layanan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) C1 di Satuan penyelenggaran administrasi surat izin mengemudi (Satpas SIM) Polrestabes Makassar, Kamis (21/5/2026).
Kamis, 21 Mei 2026 16:26
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Andi Basmal Meriahkan Jalan Santai Dies Natalis ke-74 Fakultas Hukum Unhas
2
Pemkot Makassar Tertibkan Kendaraan Dinas Rusak, Proses Lelang Segera Dibuka
3
Dies Natalis FH Unhas, Prof Amir Ilyas Dorong Silaturahmi dan Peran Aktif Alumni Bangun Kampus
4
Festival Sepak Bola Rakyat Hadir di Makassar, GGN dan Coca-Cola Dorong Talenta Muda Sulawesi
5
OJK Perkuat Budaya Integritas & Governance Generasi Muda Lewat SPARK CAMP 2026
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Andi Basmal Meriahkan Jalan Santai Dies Natalis ke-74 Fakultas Hukum Unhas
2
Pemkot Makassar Tertibkan Kendaraan Dinas Rusak, Proses Lelang Segera Dibuka
3
Dies Natalis FH Unhas, Prof Amir Ilyas Dorong Silaturahmi dan Peran Aktif Alumni Bangun Kampus
4
Festival Sepak Bola Rakyat Hadir di Makassar, GGN dan Coca-Cola Dorong Talenta Muda Sulawesi
5
OJK Perkuat Budaya Integritas & Governance Generasi Muda Lewat SPARK CAMP 2026