Etno Adventure Ajak Anak Pesisir Paotere Lestarikan Budaya Lewat Permainan Tradisional

Minggu, 05 Apr 2026 13:10
Etno Adventure Ajak Anak Pesisir Paotere Lestarikan Budaya Lewat Permainan Tradisional
Suasana pos permainan anak pesisir di Pelabuhan Paotere, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Minggu (5/2/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Komunitas Etno Adventure menggelar program Etno Fun bertajuk “Learn With Culture, Learn With Fun” di Sekolah Pesisir Pelabuhan Paotere, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Minggu (5/2/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari program rutin bulanan yang berfokus pada pelestarian budaya melalui pendekatan pendidikan berbasis pengalaman dan permainan.

Founder Etno Adventure, Ahmad Yusuf Suandi, mengatakan bahwa program ini menyasar anak-anak usia 10 hingga 12 tahun sekaligus mendorong keterlibatan pemuda dalam aksi sosial.

"Sasarannya kami adalah anak-anak usia 10 sampai 12 tahun dan juga penggerakan pemuda. Jadi kami memberikan wadah kepada pemuda-pemudi untuk memberikan aksi sosialnya," ujarnya.

Ia menjelaskan, Sekolah Pesisir Paotere dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu target utama dalam program pemberdayaan komunitas.

"Karena sebelumnya di sini tidak memiliki kurikulum. Tapi karena ada bantuan seperti kemarin dari Paragon Corp dan PT Vale, jadi kami mencoba untuk merevitalisasi dari sekolah ini," jelasnya.

Selain menghadirkan kegiatan edukatif, Etno Adventure juga melakukan revitalisasi fasilitas pendukung belajar, seperti penyediaan karpet dan meja yang sebelumnya belum tersedia.

"Tapi untuk ke depannya bukan hanya sekolah ini yang kita ingin sasar, tapi ada beberapa sekolah umum ataupun sekolah-sekolah marjinal yang memang sasarannya untuk program Etno Maguru dan Etno Fun," paparnya.

Sementara itu, Project Leader Etno Adventure, Muhammad Alif, menjelaskan bahwa Etno Fun merupakan program bulanan yang mengedepankan partisipasi pemuda dalam edukasi budaya dan lingkungan.

"Pada kegiatan ini itu memang kita memberdayakan pemuda untuk bagaimana mereka bisa berpartisipasi dan berkontribusi untuk mengajarkan kebudayaan, lingkungan kepada adik-adik di Sekolah Pesisir Paotere melalui hands-on learning dan games-based games," katanya.

Ia menambahkan, pendekatan yang digunakan dalam program ini berbasis pengalaman langsung agar lebih mudah dipahami anak-anak.

"Untuk program lainnya itu seperti ada Etno Maguru yang kemarin juga dilaksanakan di sini. Fokusnya terkait bagaimana memberikan juga pendidikan tetapi lebih ke bagaimana nilai-nilai Bugis itu sendiri, Kak, seperti Sipakakatau, Sipakallebbi, dan Sipakainge itu sendiri. Kami mengajarkan tentang bagaimana sih penerapan nilai-nilai tersebut kepada adik-adik di Sekolah Pesisir Paotere ini," tegasnya.

Ke depan, Etno Adventure juga berencana meluncurkan program Etno Coliving yang saat ini masih dalam tahap persiapan.

"Untuk Etno Coliving itu sendiri akan berfokus pada bagaimana kami di Etno Adventure ini akan ikut memberdayakan masyarakat-masyarakat yang ada di sekitar sini, untuk bagaimana sistem pengelolaan limbah yang baik sehingga dapat bernilai ekonomis ke depannya," tukasnya.

Alif menegaskan bahwa seluruh program Etno Adventure berorientasi pada pelestarian nilai-nilai budaya lokal, termasuk melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai.

"Jadi rencananya kami akan memanfaatkan limbah-limbah yang ada di daerah pesisir, mungkin seperti sisik ikan ataupun sampah-sampah lainnya yang kemudian akan dibuat menjadi sebuah kerajinan begitu," jabarnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Juan Truli Paelongan, menyebutkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 30 anak yang berasal dari kawasan pesisir Paotere.

"Di sini juga ada yang namanya dibilang sekolah yang nonformal, yang dibimbing sama Bu Nurung (Pendiri Sekolah Pesisir Paotere). Jadi melalui Bu Nurung kami itu komunikasi buat adakan kegiatan. Di situ juga kami tanyakan berapa jumlah anak yang dapat hadir, jam berapa kami bisa melaksanakan kegiatan. Jadi memang perantaranya buat laksanakan ini kegiatan buat mengumpulkan anak-anak dari Bu Nurung," jelasnya kepada SINDO Makassar.

Ia mengungkapkan, kegiatan ini juga menjadi upaya untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap penggunaan gawai.

"Kami di sini tujuannya memang buat mengenalkan lagi budaya-budaya ke mereka. Terus apalagi kan di sini sekolah nonformal mungkin agak bedaki dengan sekolah umum yang biasa. Jadi pelajaran-pelajaran budaya supaya mereka juga bisa melestarikan ke depannya nanti," ucapnya.

Melalui pengenalan budaya, termasuk permainan tradisional, diharapkan anak-anak dapat menjaga dan melestarikan warisan budaya di masa depan.

"Budaya-budaya yang kami ajarkan juga ini bukan hanya tentang mengenai sejarah, tapi juga permainan-permainan tradisional. Nah itu mungkin yang bisa mereka lestarikan ke depannya nanti," harap Juan.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru