Warga Tamalanrea Bersatu Tolak PSEL, Sebut Masa Depan Generasi Dipertaruhkan
Kamis, 14 Mei 2026 06:21
Warga berunjuk rasa di depan Balai Kota Makassar, kemarin. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau PLTSa oleh PT SUS di Kecamatan Tamalanrea, Makassar, terus menguat.
Penolakan tersebut dimotori Gerakan Rakyat Menolak Lokasi Pembangunan (Geram) PLTSa melalui aksi demonstrasi yang digelar, Rabu (13/5/2026).
Koordinator aliansi, Akbar Adhy, menegaskan warga Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, menolak pembangunan fasilitas PSEL di wilayah mereka karena dinilai terlalu dekat dengan kawasan permukiman.
"Penolakan ini bukan tanpa alasan. Kami meminta pemerintah pusat untuk mempertimbangkan lokasi lain yang lebih layak dan tidak berada di tengah permukiman warga," tegasnya.
Menurut Akbar, penolakan tersebut bukan ditujukan terhadap program pengelolaan sampah, melainkan berkaitan dengan lokasi pembangunan yang dianggap dapat berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat.
Ia menilai proyek tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, lingkungan, serta masa depan generasi mendatang. Selain itu, warga juga menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat dalam setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar.
Akbar mengatakan massa aksi berasal dari sejumlah wilayah yang terdampak, di antaranya Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, dan Alamanda.
"Sejujurnya, kami gabungan. Massa aksi berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, dan Alamanda," jelasnya.
Menurutnya, berbagai aspirasi yang telah disampaikan sebelumnya dinilai belum mendapatkan respons, sehingga warga memilih menyuarakan penolakan melalui aksi demonstrasi.
"Kami turun aksi, membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan penolakan, sekaligus seruan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Satu tujuanya menolak lokasi PSEL di pemukiman kami Tamalanrea," sambungnya.
Akbar menilai lokasi pembangunan PSEL terlalu dekat dengan permukiman warga dan berpotensi menimbulkan dampak sosial maupun lingkungan, termasuk pencemaran udara, gangguan kesehatan, hingga penurunan kualitas hidup masyarakat sekitar.
"Pada dasarnya tidak menolak program pengelolaan sampah maupun pembangunan. Namun, warga menolak jika proyek tersebut dipaksakan berdiri di kawasan padat penduduk. Kami tidak anti pembangunan PSEL, tapi jangan bangun di tengah permukiman kami. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan warga," ujarnya dengan nada tegas.
Warga dari Mula Baru, Bontoa, Akasia, Alamanda, dan Tamalalang juga menyampaikan kekhawatiran atas proses pengambilan keputusan yang dinilai belum melibatkan masyarakat terdampak secara maksimal.
"Pernyataan bahwa lokasi tetap di Tamalanrea membuat kami resah. Seolah suara kami tidak dianggap," tutup Akbar.
Penolakan tersebut dimotori Gerakan Rakyat Menolak Lokasi Pembangunan (Geram) PLTSa melalui aksi demonstrasi yang digelar, Rabu (13/5/2026).
Koordinator aliansi, Akbar Adhy, menegaskan warga Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, menolak pembangunan fasilitas PSEL di wilayah mereka karena dinilai terlalu dekat dengan kawasan permukiman.
"Penolakan ini bukan tanpa alasan. Kami meminta pemerintah pusat untuk mempertimbangkan lokasi lain yang lebih layak dan tidak berada di tengah permukiman warga," tegasnya.
Menurut Akbar, penolakan tersebut bukan ditujukan terhadap program pengelolaan sampah, melainkan berkaitan dengan lokasi pembangunan yang dianggap dapat berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat.
Ia menilai proyek tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, lingkungan, serta masa depan generasi mendatang. Selain itu, warga juga menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat dalam setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar.
Akbar mengatakan massa aksi berasal dari sejumlah wilayah yang terdampak, di antaranya Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, dan Alamanda.
"Sejujurnya, kami gabungan. Massa aksi berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, dan Alamanda," jelasnya.
Menurutnya, berbagai aspirasi yang telah disampaikan sebelumnya dinilai belum mendapatkan respons, sehingga warga memilih menyuarakan penolakan melalui aksi demonstrasi.
"Kami turun aksi, membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan penolakan, sekaligus seruan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Satu tujuanya menolak lokasi PSEL di pemukiman kami Tamalanrea," sambungnya.
Akbar menilai lokasi pembangunan PSEL terlalu dekat dengan permukiman warga dan berpotensi menimbulkan dampak sosial maupun lingkungan, termasuk pencemaran udara, gangguan kesehatan, hingga penurunan kualitas hidup masyarakat sekitar.
"Pada dasarnya tidak menolak program pengelolaan sampah maupun pembangunan. Namun, warga menolak jika proyek tersebut dipaksakan berdiri di kawasan padat penduduk. Kami tidak anti pembangunan PSEL, tapi jangan bangun di tengah permukiman kami. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan warga," ujarnya dengan nada tegas.
Warga dari Mula Baru, Bontoa, Akasia, Alamanda, dan Tamalalang juga menyampaikan kekhawatiran atas proses pengambilan keputusan yang dinilai belum melibatkan masyarakat terdampak secara maksimal.
"Pernyataan bahwa lokasi tetap di Tamalanrea membuat kami resah. Seolah suara kami tidak dianggap," tutup Akbar.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Ekonomi Makassar Melaju 7,04 Persen, DPRD Puji Kepemimpinan Munafri
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Makassar memberikan apresiasi terhadap kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar.
Sabtu, 26 Sep 2026 22:13
Makassar City
Revitalisasi Pedestrian Kajaolalido-Thamrin, Pemkot Makassar Bahas Penanganan Pohon
Keberadaan pohon eksisting menjadi salah satu persoalan yang harus ditangani dalam proyek revitalisasi pedestrian di Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin, Kota Makassar.
Sabtu, 26 Sep 2026 00:52
News
Transformasi Layanan Digital Pemkot Makassar Berbuah Predikat Kota TP2DD Terbaik
Upaya Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam mendorong transformasi digitalisasi layanan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan transaksi keuangan daerah mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Kamis, 24 Sep 2026 23:02
Sulsel
SiLPA Bertambah Rp219 Miliar, Pemkot Makassar Lakukan Penyesuaian
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pemerintah Kota Makassar bertambah sekitar Rp219 miliar setelah melalui pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kamis, 24 Sep 2026 06:08
Makassar City
Pemkot Makassar–Pertamina Matangkan Aturan Klasterisasi SPBU dan Jam Operasional Solar
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar bersama PT Pertamina Patra Niaga terus mematangkan langkah strategis guna mengurai dan mencegah kemacetan akibat antrean panjang kendaraan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di berbagai SPBU.
Rabu, 23 Sep 2026 19:13
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGMP Pendidikan Pancasila SMA Makassar Siap Dilantik, Dirangkai Seminar Pendidikan
2
PT CLM Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bulu Poloe, Dua Ton Sampah Ikut Diangkut
3
Tamsil Linrung Minta Maaf atas Dua Peristiwa yang Menimpa Siswa ICM, Siapkan Langkah Konkret
4
Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum
5
Sowan ke Andi Fahsar Padjalangi, Plt Golkar Bone: Kami Hanya Mengisi Kekosongan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGMP Pendidikan Pancasila SMA Makassar Siap Dilantik, Dirangkai Seminar Pendidikan
2
PT CLM Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bulu Poloe, Dua Ton Sampah Ikut Diangkut
3
Tamsil Linrung Minta Maaf atas Dua Peristiwa yang Menimpa Siswa ICM, Siapkan Langkah Konkret
4
Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum
5
Sowan ke Andi Fahsar Padjalangi, Plt Golkar Bone: Kami Hanya Mengisi Kekosongan