Mulai Agustus, TPA Makassar Hanya Akan Menerima Sampah Residu
Selasa, 07 Jul 2026 23:07
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Ruang Media Center, Balai Kota Makassar, Selasa (7/7/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melakukan transformasi sistem pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya mencabut sanksi administratif yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Makassar.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan perubahan mendasar perlu dilakukan dengan mengarahkan operasional TPA ke sistem Sanitary Landfill.
"Posisi dan kondisi TPA kita saat ini sedang mendapatkan sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Oleh karena itu, sanksi ini harus dicabut untuk memastikan sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar benar-benar dilakukan mulai dari rumah tangga. Pada proses pencabutan ini, operasional pendamping harus berubah menjadi Sanitary Landfill," ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Dalam sistem tersebut, sampah yang masuk ke TPA tidak lagi berupa sampah utuh dari rumah tangga, melainkan hanya residu yang tidak dapat diolah kembali.
"Dengan demikian, yang dibawa ke TPA bukan lagi sampah secara utuh, melainkan residu-residu yang sudah tidak bisa diolah lagi di rumah tangga atau tempat pengelolaan sampah di masyarakat. Kita memastikan, mudah-mudahan ini bisa dijalankan tanggal 1 (Agustus). Residu itu kita akan coba. Pertama, kita akan mengurangi pengangkutan karena sudah mulai dipilah," katanya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Pemkot Makassar akan mengoptimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di seluruh kecamatan.
"Sekarang di semua kecamatan sudah akan kami pastikan harus ada, tidak boleh lagi ada kecamatan yang tidak punya TPS 3R. Bahkan kalau tidak salah di Biringkanaya ini sudah hampir tiga yang mereka mau lakukan dan proses pemilahan di rumah tangga masing-masing. Berbagai macam cara bisa dilakukan, yaitu dengan paling pertama memisahkan antara sampah organik dan non-organik," terangnya kepada wartawan.
Menurut Munafri, sampah yang telah dipilah nantinya dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
"Contoh, sampah organik bisa jadi pupuk. Bagaimana caranya? Dibuatkanlah teba modern atau bikin biopori dan sebagainya. Lalu, sampah non-organiknya bisa diolah sama yang seperti kita bawa ke apex melalui teman-teman kita yang di Rappo. Bisa juga dengan membuat kerangkeng untuk memasukkan sampah-sampah plastik dan untuk bisa dijual dan sebagainya," lanjutnya.
Wali Kota yang akrab disapa Appi itu berharap masyarakat dapat berpartisipasi aktif dengan mulai memilah sampah dari rumah tangga masing-masing.
"Di beberapa kelurahan sudah mereka menempelkan stiker-stiker bahwa rumah ini, rumah tangga ini sudah memilah sampahnya. Ini tidak boleh kita skeptis. Bahwa ada yang bilang susah, ya harus dimulai dulu. Harus dimulai dulu karena kalau memang merubah kebiasaan kan tidak gampang, tidak mudah. Nah sehingga ini harus kita lakukan terus sosialisasi tanpa henti untuk memastikan benar-benar supaya sampah ini betul-betul bisa terpilah," harapnya.
Ia menegaskan keberhasilan penerapan sistem Sanitary Landfill membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh masyarakat.
"Ini tugas kita bersama-sama untuk memastikan bahwa TPA kita nantinya ini menjadi TPA yang benar-benar menjadi TPA Sanitary Landfill yang hanya membawa residu ke sana. Karena nanti kan semua sudah tertimbun dengan tanah cuma dibuka-bukakan sedikit, bukaan inilah yang akan ditaruh sampah setiap harinya baru ditimbun lagi, buka lagi. Bikin lagi area bukaan, timbun lagi," pungkasnya.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan perubahan mendasar perlu dilakukan dengan mengarahkan operasional TPA ke sistem Sanitary Landfill.
"Posisi dan kondisi TPA kita saat ini sedang mendapatkan sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Oleh karena itu, sanksi ini harus dicabut untuk memastikan sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar benar-benar dilakukan mulai dari rumah tangga. Pada proses pencabutan ini, operasional pendamping harus berubah menjadi Sanitary Landfill," ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Dalam sistem tersebut, sampah yang masuk ke TPA tidak lagi berupa sampah utuh dari rumah tangga, melainkan hanya residu yang tidak dapat diolah kembali.
"Dengan demikian, yang dibawa ke TPA bukan lagi sampah secara utuh, melainkan residu-residu yang sudah tidak bisa diolah lagi di rumah tangga atau tempat pengelolaan sampah di masyarakat. Kita memastikan, mudah-mudahan ini bisa dijalankan tanggal 1 (Agustus). Residu itu kita akan coba. Pertama, kita akan mengurangi pengangkutan karena sudah mulai dipilah," katanya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Pemkot Makassar akan mengoptimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di seluruh kecamatan.
"Sekarang di semua kecamatan sudah akan kami pastikan harus ada, tidak boleh lagi ada kecamatan yang tidak punya TPS 3R. Bahkan kalau tidak salah di Biringkanaya ini sudah hampir tiga yang mereka mau lakukan dan proses pemilahan di rumah tangga masing-masing. Berbagai macam cara bisa dilakukan, yaitu dengan paling pertama memisahkan antara sampah organik dan non-organik," terangnya kepada wartawan.
Menurut Munafri, sampah yang telah dipilah nantinya dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
"Contoh, sampah organik bisa jadi pupuk. Bagaimana caranya? Dibuatkanlah teba modern atau bikin biopori dan sebagainya. Lalu, sampah non-organiknya bisa diolah sama yang seperti kita bawa ke apex melalui teman-teman kita yang di Rappo. Bisa juga dengan membuat kerangkeng untuk memasukkan sampah-sampah plastik dan untuk bisa dijual dan sebagainya," lanjutnya.
Wali Kota yang akrab disapa Appi itu berharap masyarakat dapat berpartisipasi aktif dengan mulai memilah sampah dari rumah tangga masing-masing.
"Di beberapa kelurahan sudah mereka menempelkan stiker-stiker bahwa rumah ini, rumah tangga ini sudah memilah sampahnya. Ini tidak boleh kita skeptis. Bahwa ada yang bilang susah, ya harus dimulai dulu. Harus dimulai dulu karena kalau memang merubah kebiasaan kan tidak gampang, tidak mudah. Nah sehingga ini harus kita lakukan terus sosialisasi tanpa henti untuk memastikan benar-benar supaya sampah ini betul-betul bisa terpilah," harapnya.
Ia menegaskan keberhasilan penerapan sistem Sanitary Landfill membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh masyarakat.
"Ini tugas kita bersama-sama untuk memastikan bahwa TPA kita nantinya ini menjadi TPA yang benar-benar menjadi TPA Sanitary Landfill yang hanya membawa residu ke sana. Karena nanti kan semua sudah tertimbun dengan tanah cuma dibuka-bukakan sedikit, bukaan inilah yang akan ditaruh sampah setiap harinya baru ditimbun lagi, buka lagi. Bikin lagi area bukaan, timbun lagi," pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Pemkot Makassar Pastikan Program Seragam Gratis Siswa Baru Tuntas Awal September
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memastikan program pemberian seragam gratis bagi siswa baru tingkat SD dan SMP akan segera terealisasi.
Sabtu, 18 Jul 2026 19:34
Makassar City
DPRD Makassar Desak GMTD Segera Serahkan 18 Klaster PSU yang Tertunda 25 Tahun
DPRD Kota Makassar kembali menyoroti lambannya penyerahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) oleh PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) Tbk.
Sabtu, 18 Jul 2026 07:48
Makassar City
Belanja Modal Hanya 81,99 Persen, DPRD Makassar Minta Penjelasan Pemkot
Dalam rapat tersebut, sejumlah fraksi menyampaikan catatan kritis terhadap kinerja keuangan Pemkot Makassar. Sorotan utama diarahkan pada realisasi PAD yang belum mencapai target.
Jum'at, 17 Jul 2026 13:27
Makassar City
Marak Rumah Tinggal Jadi Kafe, Distaru Makassar Siapkan Penindakan
Dinas Tata Ruang dan Bangunan (Distaru) Kota Makassar akan memperketat pengawasan terhadap bangunan rumah tinggal yang dialihfungsikan menjadi tempat usaha, seperti toko, rumah kos, hingga kafe.
Jum'at, 17 Jul 2026 13:19
Sulsel
BPBD Makassar Latih Mahasiswa dari 23 Kampus, Siapkan 23.000 SDM Tanggap Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menggandeng 23 perguruan tinggi untuk memperkuat mitigasi bencana.
Kamis, 16 Jul 2026 08:48
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Polres Kepulauan Selayar Periksa dan Amankan Nahkoda serta ABK KLM Nurul Salsa
2
Bahlil "Ngolah" Ketua DPRD Sulsel di Musda, Lempar Kode Cicu Harap Gabung Golkar
3
BNI Gelar Dwidayatour Fest di Makassar, Tawarkan Diskon hingga Rp14 Juta
4
Ketum Bahlil Tak Tuntut IAS Harus Maju di Pilgub Sulsel, Minta Fokus Naikkan Kursi
5
Polda Sulsel Dirikan Posko DVI untuk Identifikasi Korban KLM Nurul Salsa
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Polres Kepulauan Selayar Periksa dan Amankan Nahkoda serta ABK KLM Nurul Salsa
2
Bahlil "Ngolah" Ketua DPRD Sulsel di Musda, Lempar Kode Cicu Harap Gabung Golkar
3
BNI Gelar Dwidayatour Fest di Makassar, Tawarkan Diskon hingga Rp14 Juta
4
Ketum Bahlil Tak Tuntut IAS Harus Maju di Pilgub Sulsel, Minta Fokus Naikkan Kursi
5
Polda Sulsel Dirikan Posko DVI untuk Identifikasi Korban KLM Nurul Salsa