Opini

Pepe-pepeka ri Mangkasara: Api, Rakyat, dan Panggung Kekuasaan

Minggu, 31 Agu 2025 14:24
Pepe-pepeka ri Mangkasara: Api, Rakyat, dan Panggung Kekuasaan
Api melahap Gedung DPRD Makassar dan sejumlah kendaraan yang terparkir di sekitarnya saat aksi unjuk rasa, Jumat (29/8/2025). Foto: SINDOmakassar/Maman Sukirman
Comment
Share
Di Sulawesi Selatan, ada sebuah tari tradisional yang unik: Pepe-pepeka ri Makka. Anak-anak atau remaja menari di atas bara api dengan wajah tanpa takut, sambil melantunkan doa dan zikir. Bara yang biasanya menyakitkan, di sini jadi permainan sakral. Api menjadi medium untuk meneguhkan keberanian, seakan menguji keyakinan manusia bahwa dengan iman, tubuh bisa tegak berdiri di tengah panasnya cobaan.

Nama tari ini, “ri Makka”, menunjuk pada Makkah — Tanah Suci yang dalam imajinasi masyarakat Makassar adalah sumber legitimasi religius. Dengan menyebut “Makka”, tari ini memperoleh aura Islam, sebuah jembatan antara tradisi lokal dan keyakinan universal. Api dalam tari itu bukan sekadar unsur fisik, melainkan lambang ujian, sekaligus cahaya yang bisa menerangi.

Namun, Makassar hari ini memperlihatkan wajah lain dari tarian api. Gedung DPRD Sulsel terbakar, DPRD Kota Makassar tenggelam dalam kobaran. Api yang dulu hanya ada di panggung tradisi kini hadir di jalan-jalan kota, bukan lagi sebagai simbol spiritual, melainkan ekspresi amarah yang tak terkendali. Kita seakan sedang menyaksikan lahirnya sebuah tari baru: Pepe-pepeka ri Mangkasara — tari api dalam gelanggang politik dan sosial, di mana rakyat dan penguasa sama-sama terjebak dalam kobaran yang mereka nyalakan.

Dalam Pepe-pepeka ri Makka, api dijinakkan oleh doa. Tubuh anak-anak kecil bisa melangkah di atas bara karena keyakinan mengalahkan rasa takut. Sedangkan dalam Pepe-pepeka ri Mangkasara, api justru melahap simbol-simbol kekuasaan. Gedung wakil rakyat yang mestinya jadi rumah musyawarah justru jadi bara tempat kemarahan meledak. Di sini, doa tak lagi terdengar — hanya teriakan, hanya dentum amarah, hanya kobaran yang memakan kursi, meja, dan dinding parlemen.

Sejarah Makassar tidak asing dengan api. Dari perang-perang besar di abad ke-17, dari perlawanan terhadap kolonial, hingga pemberontakan di masa republik muda, api selalu menjadi tanda bagi pergolakan. Ia adalah simbol sekaligus senjata. Api adalah bahasa Makassar: tegas, panas, langsung membakar. Tapi bahasa itu selalu punya dua sisi — api bisa jadi penerang, bisa pula jadi bencana.

Hari ini, Pepe-pepeka ri Mangkasara memberi kita pelajaran pahit. Rakyat menari di atas bara penderitaan, sementara penguasa lupa bahwa api bisa menjilat siapa saja. Mereka sibuk berjoget di panggung kekuasaan, menghibur diri dengan musik politik. Rakyat marah bukan hanya karena satu pernyataan politisi, tapi karena akumulasi ketidakpuasan: soal pajak, soal kesenjangan, soal janji yang tak ditepati. Bara itu menumpuk, lalu satu percikan cukup untuk menjadikannya kobaran besar. Di titik ini, tarian api berubah makna: bukan lagi ritus sakral yang menenangkan hati, melainkan sebuah koreografi liar dari amarah kolektif.

Dalam tari tradisional, anak-anak diajarkan bahwa api bisa dilalui tanpa luka jika ada doa yang membimbing. Tapi dalam tari kontemporer Makassar hari ini, tidak ada doa yang melindungi. Yang ada hanya tubuh-tubuh yang terbakar marah, gedung-gedung yang hangus, dan rasa percaya yang makin rapuh.

Pepe-pepeka ri Mangkasara adalah cermin zaman kita. Ia menunjukkan bagaimana rakyat dipaksa menari di atas bara yang diciptakan oleh sistem yang tak adil. Ia memperingatkan bahwa jika api tak dikendalikan, maka kota ini akan terus jadi panggung tarian berbahaya — tari yang bukan lagi sakral, melainkan tari luka, tari getir, tari kebingungan sebuah bangsa yang masih mencari cara mengelola apinya sendiri.

Tetapi api ini pun seolah menari dengan irama yang lebih rumit. Di balik kobaran, ada tata gerak yang samar: penari-penari tanpa penjaga, seolah api diberi ruang untuk bekerja. Kita seakan sedang menyaksikan bukan semata amarah rakyat, melainkan juga komposisi disharmoni para elit — sebuah tari api yang dipentaskan di atas panggung kekuasaan, dengan rakyat yang digiring sebagai penari, penonton, sekaligus korban.


Tulisan ini merupakan esai reflektif yang berangkat dari peristiwa pembakaran gedung DPRD di Makassar. Penulis menggunakan simbol Pepe-pepeka ri Mangkasara — sebuah adaptasi dari tradisi tari api Pepe-pepeka ri Makka — sebagai bingkai untuk membaca relasi antara rakyat, api, dan panggung kekuasaan. Isi tulisan sepenuhnya merupakan pandangan penulis.
Redaksi menerima tulisan ini dari seorang pembaca yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Tulisan telah disunting seperlunya untuk kepentingan keterbacaan.
(mhj)
Berita Terkait
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
Pekan Budaya Nasional: FIB Unhas Ajak Mahasiswa Se-Indonesia Berkarya dan Berkompetisi
News
Pekan Budaya Nasional: FIB Unhas Ajak Mahasiswa Se-Indonesia Berkarya dan Berkompetisi
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) membuka pendaftaran Pekan Budaya Nasional (PBN) 2026 yang dirangkaikan dengan Kompetisi Mahasiswa Se-Indonesia. Pendaftaran dibuka mulai 20 Juli hingga 20 September 2026.
Sabtu, 05 Sep 2026 09:54
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
News
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Di sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.
Rabu, 19 Agu 2026 20:52
Berita Terbaru