Opini
Ramadan dan Demokrasi: Ikhtiar Bawaslu Merawat Amanah dan Ukhuwah
Rabu, 04 Mar 2026 05:38
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Foto: Istimewa
Oleh: Samsir Salam
(Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan)
TULISAN ini disajikan untuk menemani kegiatan Ngabuburit Bawaslu Pangkajene dan Kepulauan, sebagai ruang berbagi refleksi Ramadan tentang demokrasi, amanah, dan ukhuwah.
Ramadan selalu datang sebagai musim jeda—jeda dari hiruk-pikuk syahwat, jeda dari ambisi yang berlebihan, dan jeda dari kegaduhan yang sering kita ciptakan sendiri dalam kehidupan publik. Di bulan ini, manusia diajak menata ulang relasi dengan Tuhan, sekaligus mengoreksi hubungan dengan sesama. Karena itu, Ramadan sejatinya bukan hanya peristiwa ritual, melainkan momentum etis bagi demokrasi.
Demokrasi kerap dipahami sebatas mekanisme: memilih, dihitung, lalu ditetapkan. Namun Ramadan mengingatkan bahwa yang lebih menentukan dari mekanisme adalah pertanggungjawaban batin.
Hak pilih bukan komoditas yang layak ditukar dengan janji sesaat, melainkan ikrar moral yang kelak dimintai jawabannya. Ketika pilihan politik digerakkan oleh imbalan, demokrasi mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan daya didiknya. Ia tidak lagi membentuk warga yang berdaulat, melainkan sekadar melatih kepatuhan yang dibungkus prosedur.
Dalam konteks tersebut, pandangan Jimly Asshiddiqie layak direnungkan kembali. Demokrasi, menurutnya, tidak pernah cukup hanya dengan prosedur elektoral; ia menuntut etika konstitusional yang hidup dalam kesadaran warga dan penyelenggara negara. Tanpa fondasi moral itu, demokrasi mudah berubah menjadi legalitas tanpa legitimasi—sah menurut aturan, tetapi kosong secara keadilan.
Al-Qur’an mengingatkan dengan nada yang jarang hadir dalam wacana politik:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27).
Ayat ini tidak berbicara tentang ibadah mahdhah semata, melainkan tentang etika kekuasaan. Mengkhianati amanah publik—baik melalui kebijakan yang timpang, penegakan hukum yang tebang pilih, maupun kontestasi politik yang transaksional—adalah bentuk pengkhianatan yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Dalam lanskap itulah, peran Bawaslu menemukan relevansinya. Pengawasan pemilu tidak semata memastikan prosedur berjalan sesuai aturan, tetapi menjaga agar amanah publik tidak tergelincir menjadi transaksi.
Di bulan Ramadan, tugas ini memperoleh dimensi etik yang lebih tenang: menegakkan keadilan tanpa memperuncing suasana, serta mengawal proses demokrasi tanpa merusak ukhuwah. Dengan cara itu, pengawasan hadir bukan hanya untuk menjamin keabsahan pemilu, tetapi juga ketertiban sosial yang menyertainya.
Dalam kerangka pemahaman ini, pemikiran Nurcholish Madjid patut kita mendaras ulang. Cak Nur melihat demokrasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses pendewasaan bersama. Demokrasi melatih kejujuran, kesediaan menerima perbedaan, dan keberanian untuk dikoreksi. Ketika ruang ini dipenuhi transaksi dan klaim kebenaran sepihak, demokrasi tetap berjalan, tetapi kehilangan makna pendidikannya.
Namun demokrasi tidak berhenti pada amanah; ia juga menyangkut ukhuwah. Kontestasi politik kerap merobek persaudaraan, seolah perbedaan pilihan adalah alasan sah untuk memutus silaturahmi. Ramadan justru datang membawa pesan sebaliknya. Puasa mempertemukan manusia dalam rasa lapar yang sama, mengajarkan bahwa perbedaan tidak menghapus kemanusiaan. Demokrasi yang sehat seharusnya merawat perbedaan tanpa mengorbankan persaudaraan.
Dalam suasana semacam itu, pesan-pesan Abdurrahman Wahid terasa semakin bermakna. Gus Dur pernah mengingatkan bahwa yang lebih berbahaya dari konflik terbuka adalah kesalehan yang kehilangan kemanusiaan. Demokrasi yang religius bukan demokrasi yang gemar mengutip ayat untuk menyerang lawan, melainkan demokrasi yang menghadirkan keadilan sebagai ibadah sosial.
Pada saat yang sama, Ramadhan mengajarkan kejujuran sunyi. Tidak ada polisi puasa yang mengawasi dari subuh hingga magrib. Integritas lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Dari sini, demokrasi belajar: regulasi penting, tetapi tanpa kesadaran moral, ia mudah disiasati. Aturan dapat diperketat, namun nurani yang longgar akan selalu menemukan celah.
Pada akhirnya, Ramadhan menantang kita untuk bertanya: apakah demokrasi kita sekadar rutinitas lima tahunan, atau benar-benar jalan merawat amanah dan menjaga ukhuwah? Jika puasa hanya menahan lapar, demokrasi hanya prosedur. Tetapi jika puasa melahirkan empati, dan demokrasi melahirkan keadilan, keduanya bertemu pada tujuan yang sama: memuliakan manusia.
Ramadan akan berlalu, tetapi nilai-nilainya seharusnya tinggal. Demokrasi yang dirawat dengan amanah dan ukhuwah tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari kesediaan menahan diri—seperti puasa—demi kebaikan bersama.
(Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan)
TULISAN ini disajikan untuk menemani kegiatan Ngabuburit Bawaslu Pangkajene dan Kepulauan, sebagai ruang berbagi refleksi Ramadan tentang demokrasi, amanah, dan ukhuwah.
Ramadan selalu datang sebagai musim jeda—jeda dari hiruk-pikuk syahwat, jeda dari ambisi yang berlebihan, dan jeda dari kegaduhan yang sering kita ciptakan sendiri dalam kehidupan publik. Di bulan ini, manusia diajak menata ulang relasi dengan Tuhan, sekaligus mengoreksi hubungan dengan sesama. Karena itu, Ramadan sejatinya bukan hanya peristiwa ritual, melainkan momentum etis bagi demokrasi.
Demokrasi kerap dipahami sebatas mekanisme: memilih, dihitung, lalu ditetapkan. Namun Ramadan mengingatkan bahwa yang lebih menentukan dari mekanisme adalah pertanggungjawaban batin.
Hak pilih bukan komoditas yang layak ditukar dengan janji sesaat, melainkan ikrar moral yang kelak dimintai jawabannya. Ketika pilihan politik digerakkan oleh imbalan, demokrasi mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan daya didiknya. Ia tidak lagi membentuk warga yang berdaulat, melainkan sekadar melatih kepatuhan yang dibungkus prosedur.
Dalam konteks tersebut, pandangan Jimly Asshiddiqie layak direnungkan kembali. Demokrasi, menurutnya, tidak pernah cukup hanya dengan prosedur elektoral; ia menuntut etika konstitusional yang hidup dalam kesadaran warga dan penyelenggara negara. Tanpa fondasi moral itu, demokrasi mudah berubah menjadi legalitas tanpa legitimasi—sah menurut aturan, tetapi kosong secara keadilan.
Al-Qur’an mengingatkan dengan nada yang jarang hadir dalam wacana politik:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27).
Ayat ini tidak berbicara tentang ibadah mahdhah semata, melainkan tentang etika kekuasaan. Mengkhianati amanah publik—baik melalui kebijakan yang timpang, penegakan hukum yang tebang pilih, maupun kontestasi politik yang transaksional—adalah bentuk pengkhianatan yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Dalam lanskap itulah, peran Bawaslu menemukan relevansinya. Pengawasan pemilu tidak semata memastikan prosedur berjalan sesuai aturan, tetapi menjaga agar amanah publik tidak tergelincir menjadi transaksi.
Di bulan Ramadan, tugas ini memperoleh dimensi etik yang lebih tenang: menegakkan keadilan tanpa memperuncing suasana, serta mengawal proses demokrasi tanpa merusak ukhuwah. Dengan cara itu, pengawasan hadir bukan hanya untuk menjamin keabsahan pemilu, tetapi juga ketertiban sosial yang menyertainya.
Dalam kerangka pemahaman ini, pemikiran Nurcholish Madjid patut kita mendaras ulang. Cak Nur melihat demokrasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses pendewasaan bersama. Demokrasi melatih kejujuran, kesediaan menerima perbedaan, dan keberanian untuk dikoreksi. Ketika ruang ini dipenuhi transaksi dan klaim kebenaran sepihak, demokrasi tetap berjalan, tetapi kehilangan makna pendidikannya.
Namun demokrasi tidak berhenti pada amanah; ia juga menyangkut ukhuwah. Kontestasi politik kerap merobek persaudaraan, seolah perbedaan pilihan adalah alasan sah untuk memutus silaturahmi. Ramadan justru datang membawa pesan sebaliknya. Puasa mempertemukan manusia dalam rasa lapar yang sama, mengajarkan bahwa perbedaan tidak menghapus kemanusiaan. Demokrasi yang sehat seharusnya merawat perbedaan tanpa mengorbankan persaudaraan.
Dalam suasana semacam itu, pesan-pesan Abdurrahman Wahid terasa semakin bermakna. Gus Dur pernah mengingatkan bahwa yang lebih berbahaya dari konflik terbuka adalah kesalehan yang kehilangan kemanusiaan. Demokrasi yang religius bukan demokrasi yang gemar mengutip ayat untuk menyerang lawan, melainkan demokrasi yang menghadirkan keadilan sebagai ibadah sosial.
Pada saat yang sama, Ramadhan mengajarkan kejujuran sunyi. Tidak ada polisi puasa yang mengawasi dari subuh hingga magrib. Integritas lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Dari sini, demokrasi belajar: regulasi penting, tetapi tanpa kesadaran moral, ia mudah disiasati. Aturan dapat diperketat, namun nurani yang longgar akan selalu menemukan celah.
Pada akhirnya, Ramadhan menantang kita untuk bertanya: apakah demokrasi kita sekadar rutinitas lima tahunan, atau benar-benar jalan merawat amanah dan menjaga ukhuwah? Jika puasa hanya menahan lapar, demokrasi hanya prosedur. Tetapi jika puasa melahirkan empati, dan demokrasi melahirkan keadilan, keduanya bertemu pada tujuan yang sama: memuliakan manusia.
Ramadan akan berlalu, tetapi nilai-nilainya seharusnya tinggal. Demokrasi yang dirawat dengan amanah dan ukhuwah tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari kesediaan menahan diri—seperti puasa—demi kebaikan bersama.
(GUS)
Berita Terkait
News
Akhir Ramadan: Service Rutin Tahunan bagi Tubuh hingga Hati kita
RAMADAN hampir selesai. Sebulan penuh kita menjalani rutinitas yang tidak biasa: bangun lebih pagi, menahan lapar dan haus sepanjang hari, serta mengurangi banyak kebiasaan yang selama ini terasa wajar.
Sabtu, 14 Mar 2026 11:10
News
Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Kebenaran dapat bersumber dari dua sumber yakni kebenaran wahyu (al-haqq) yang bersifat transendental dan kebenaran ilmiah yang bersifat relatif, belum pasti, serta hasil ijtihad manusia.
Jum'at, 13 Mar 2026 12:02
News
Ketika Demokrasi Tersandera Politik Uang
Setiap kali seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi, kita tidak hanya menyaksikan kejatuhan seorang pejabat, tetapi juga melihat cermin retaknya integritas demokrasi kita.
Jum'at, 13 Mar 2026 05:39
News
Politik dan Simbolisasi Agama
Mencermati ekspresi Islam Indonesia sejak awal keterlibatan dalam proses pembangunan bangsa hingga kini, kita akan menemukan varian kelompok Islam yang cenderung kepada perjuangan yang menekankan pada legal-formal agama dalam kehidupan politik.
Kamis, 12 Mar 2026 13:10
News
Mi‘raj Sunyi di Malam Ramadan
RAMADAN bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan pendakian spiritual. Siang hari Ramadan melatih manusia menahan lapar dan dahaga, sedangkan malam hari Ramadan membuka jalan bagi jiwa untuk kembali kepada sumber cahayanya.
Kamis, 12 Mar 2026 06:00
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SPJM Berangkatkan 360 Pemudik Gratis dari Makassar ke Palopo dan Sorowako
2
Warga Selayar Temukan Lagi Plastik "Bugatti" Diduga Kokain di Pesisir Pantai, Total jadi 30 Paket
3
Overstay Lebih dari 60 Hari, WNA Austria Dideportasi
4
Andi Sudirman Serahkan Beasiswa Disabilitas untuk Ribuan Siswa SLB se-Sulsel
5
Jelang Libur Lebaran, BRI Imbau Waspada Ancaman Penipuan File APK
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SPJM Berangkatkan 360 Pemudik Gratis dari Makassar ke Palopo dan Sorowako
2
Warga Selayar Temukan Lagi Plastik "Bugatti" Diduga Kokain di Pesisir Pantai, Total jadi 30 Paket
3
Overstay Lebih dari 60 Hari, WNA Austria Dideportasi
4
Andi Sudirman Serahkan Beasiswa Disabilitas untuk Ribuan Siswa SLB se-Sulsel
5
Jelang Libur Lebaran, BRI Imbau Waspada Ancaman Penipuan File APK