Lisan, Layar, dan Cahaya Takwa

Senin, 16 Mar 2026 19:37
Lisan, Layar, dan Cahaya Takwa
Dr Muh Ikhsan AR M Ag (Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI)
Comment
Share
Oleh: Dr Muh Ikhsan AR M Ag

(Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi IAIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI)

Di zaman digital, manusia tidak hanya berbicara dengan lisan, tetapi juga dengan jari-jarinya. Setiap status, komentar, unggahan, dan pesan yang dikirim melalui layar gawai pada hakikatnya adalah perpanjangan dari lisan manusia. Jika dahulu kata-kata hanya terdengar oleh orang yang berada di sekitar kita, kini ia dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Di sinilah muncul pertanyaan moral yang penting: apakah lisan digital kita telah memancarkan cahaya takwa, atau justru menyebarkan kegelapan kata-kata?

Islam memandang lisan sebagai salah satu anggota tubuh yang paling menentukan kualitas iman seseorang. Banyak kerusakan sosial berawal dari kata-kata yang tidak terjaga: fitnah, ghibah, hasutan, dan kebohongan. Karena itu Al-Qur’an mengingatkan manusia agar berhati-hati dengan apa yang diucapkannya.

Allah berfirman:

*مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ*

“Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”(QS. Qaf: 18)

Ayat ini memiliki relevansi yang luar biasa dengan dunia digital. Apa yang kita tulis di layar ponsel tidak pernah benar-benar hilang. Ia meninggalkan jejak digital yang dapat dibaca kembali kapan saja. Dalam bahasa spiritual, *setiap huruf yang kita ketik sebenarnya sedang dicatat dalam lembar amal kita*.

Layar sebagai Cermin Hati

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia seperti cermin yang memantulkan isi hati manusia. Jika hati dipenuhi kebijaksanaan, maka layar akan menampilkan kata-kata yang menenangkan. Namun jika hati dipenuhi kemarahan, iri hati, dan kesombongan, maka layar berubah menjadi medan konflik dan kebisingan.

Karena itu problem utama dunia digital sebenarnya bukan teknologi, melainkan kualitas batin manusia yang menggunakannya.

Banyak orang merasa bebas berkata apa saja di ruang maya karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang disasar. Namun dalam perspektif spiritual, kebebasan itu sebenarnya adalah ujian. Dunia digital menguji apakah manusia mampu menjaga adab ketika tidak diawasi oleh manusia lain.

Takwa sebagai Cahaya

Dalam tradisi Islam, takwa sering digambarkan sebagai *cahalya yang menerangi hati*. Cahaya ini membuat seseorang mampu membedakan mana yang pantas diucapkan dan mana yang sebaiknya ditahan.

Orang yang hatinya diterangi takwa tidak mudah tergoda untuk:

¶ menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya,¶ mengomentari aib orang lain,¶ atau merendahkan orang hanya demi sensasi dan popularitas.

Sebaliknya, ia menggunakan lisannya untuk kebaikan: menyampaikan nasihat, menyebarkan ilmu, menenangkan orang yang sedang terluka, dan menguatkan persaudaraan.

Dalam konteks digital, takwa bukan sekadar konsep spiritual, tetapi juga etika komunikasi.

Puasa Lisan di Dunia Maya

Bulan Ramadan sering disebut sebagai latihan menahan diri. Namun sebenarnya latihan ini tidak berhenti setelah Ramadan berakhir. Dunia digital menuntut manusia untuk terus melakukan puasa lisan, yakni menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat.

Nabi Muhammad SAW bersabda"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat sederhana, tetapi sangat revolusioner jika diterapkan di era media sosial. Bayangkan jika setiap orang memegang prinsip ini sebelum menekan tombol “kirim” atau “unggah”. Ruang digital tentu akan menjadi lebih damai dan beradab.

Dari Lisan ke Cahaya

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi sarana kebaikan atau sumber kerusakan tergantung pada siapa yang menggunakannya. Layar ponsel bisa menjadi sumber dosa ketika dipenuhi kata-kata yang menyakiti orang lain, tetapi ia juga dapat menjadi jalan pahala ketika digunakan untuk menyebarkan kebaikan dan hikmah.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh komentar dan opini, barangkali bentuk kebijaksanaan yang paling langka hari ini adalah kemampuan untuk menjaga kata-kata.

Karena sesungguhnya, takwa bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga lisannya—baik di dunia nyata maupun di balik layar.

Ketika lisan terjaga dan hati dipenuhi kesadaran Ilahi, maka layar yang kecil di tangan manusia pun dapat berubah menjadi cermin cahaya takwa.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru