Orasi Pengukuhan Prof Gustia Tahir: Eco-Sufisme Solusi Etis Atasi Krisis Ekologi Global
Jum'at, 03 Apr 2026 10:48
Prof Gustia membacakan orasi ilmiahnya dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar UIN Alauddin Makassar. Foto: Istimewa
GOWA - UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Auditorium Kampus II, Gowa, Kamis (2/4/2026). Salah satu yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag.
Prof Gustia Tahir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Eco-Sufisme Islam pada Fakultas Adab dan Humaniora. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat judul “Haruskah Kita Pindah ke Planet Lain: Eco-Sufisme dan Tobat Ekologis”.
Dalam orasinya, Prof Gustia menegaskan bahwa krisis ekologis global yang terjadi saat ini bukan semata persoalan teknologi atau sains, melainkan krisis moral dan spiritual manusia.
Ia mengawali dengan kritik bahwa bumi “tidak sedang sekarat karena kekurangan teknologi, tetapi karena manusia kehilangan nuraninya.”
Menurutnya, kemajuan sains tidak diiringi kebijaksanaan. Manusia mampu menjelajah luar angkasa, tetapi gagal menjaga bumi dari kerusakan akibat eksploitasi berlebihan.
“Pertanyaan pindah ke planet lain bukan lahir dari keberanian ilmiah, tetapi dari keputusasaan moral manusia terhadap kerusakan yang ia ciptakan sendiri,” ujarnya.
Prof Gustia menilai akar krisis ekologis terletak pada cara pandang manusia yang menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Alam diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah.
Ia menyebut, perubahan peran manusia dari khalifah menjadi eksploitator menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan, yang kini memicu berbagai krisis seperti perubahan iklim, banjir, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Sebagai solusi, ia menawarkan konsep eco-sufisme, yakni pendekatan spiritual yang menempatkan relasi manusia dengan alam sebagai hubungan etis dan penuh tanggung jawab.
“Eco-sufisme mengajarkan bahwa alam adalah mitra kehidupan yang harus dihormati, bukan objek yang dieksploitasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya “tobat ekologis”, yakni perubahan cara hidup manusia agar lebih sederhana, bertanggung jawab, dan tidak melampaui batas dalam memanfaatkan alam.
Menurutnya, solusi krisis lingkungan tidak cukup dengan teknologi, tetapi membutuhkan perubahan kesadaran dan moral manusia secara mendasar.
Di akhir orasinya, Prof Gustia menegaskan bahwa masa depan bumi tidak ditentukan oleh kemampuan manusia mencari planet baru, tetapi oleh kesediaan memperbaiki hubungan dengan alam.
“Bumi masih bisa disembuhkan, selama manusia bersedia menyembuhkan dirinya sendiri,” tegasnya.
Sebagai informasi, Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag merupakan akademisi UIN Alauddin Makassar yang menekuni kajian Eco-Sufisme Islam. Ia dikenal aktif dalam pengembangan pemikiran keislaman berbasis spiritualitas dan lingkungan.
Dalam perjalanan akademiknya, ia juga mendapat dukungan luas dari sivitas akademika serta berbagai tokoh pendidikan, dan terus berkomitmen mengembangkan kajian Islam yang relevan dengan tantangan global, khususnya isu lingkungan dan kemanusiaan.
Prof Gustia Tahir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Eco-Sufisme Islam pada Fakultas Adab dan Humaniora. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat judul “Haruskah Kita Pindah ke Planet Lain: Eco-Sufisme dan Tobat Ekologis”.
Dalam orasinya, Prof Gustia menegaskan bahwa krisis ekologis global yang terjadi saat ini bukan semata persoalan teknologi atau sains, melainkan krisis moral dan spiritual manusia.
Ia mengawali dengan kritik bahwa bumi “tidak sedang sekarat karena kekurangan teknologi, tetapi karena manusia kehilangan nuraninya.”
Menurutnya, kemajuan sains tidak diiringi kebijaksanaan. Manusia mampu menjelajah luar angkasa, tetapi gagal menjaga bumi dari kerusakan akibat eksploitasi berlebihan.
“Pertanyaan pindah ke planet lain bukan lahir dari keberanian ilmiah, tetapi dari keputusasaan moral manusia terhadap kerusakan yang ia ciptakan sendiri,” ujarnya.
Prof Gustia menilai akar krisis ekologis terletak pada cara pandang manusia yang menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Alam diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah.
Ia menyebut, perubahan peran manusia dari khalifah menjadi eksploitator menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan, yang kini memicu berbagai krisis seperti perubahan iklim, banjir, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Sebagai solusi, ia menawarkan konsep eco-sufisme, yakni pendekatan spiritual yang menempatkan relasi manusia dengan alam sebagai hubungan etis dan penuh tanggung jawab.
“Eco-sufisme mengajarkan bahwa alam adalah mitra kehidupan yang harus dihormati, bukan objek yang dieksploitasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya “tobat ekologis”, yakni perubahan cara hidup manusia agar lebih sederhana, bertanggung jawab, dan tidak melampaui batas dalam memanfaatkan alam.
Menurutnya, solusi krisis lingkungan tidak cukup dengan teknologi, tetapi membutuhkan perubahan kesadaran dan moral manusia secara mendasar.
Di akhir orasinya, Prof Gustia menegaskan bahwa masa depan bumi tidak ditentukan oleh kemampuan manusia mencari planet baru, tetapi oleh kesediaan memperbaiki hubungan dengan alam.
“Bumi masih bisa disembuhkan, selama manusia bersedia menyembuhkan dirinya sendiri,” tegasnya.
Sebagai informasi, Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag merupakan akademisi UIN Alauddin Makassar yang menekuni kajian Eco-Sufisme Islam. Ia dikenal aktif dalam pengembangan pemikiran keislaman berbasis spiritualitas dan lingkungan.
Dalam perjalanan akademiknya, ia juga mendapat dukungan luas dari sivitas akademika serta berbagai tokoh pendidikan, dan terus berkomitmen mengembangkan kajian Islam yang relevan dengan tantangan global, khususnya isu lingkungan dan kemanusiaan.
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
Kukuhkan Dua Guru Besar, Polipangkep Kini Miliki 8 Profesor
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) resmi mengukuhkan dua guru besar baru melalui Rapat Senat Terbuka di Unhas Hotel & Convention, Makassar, Sabtu (18/4/2026).
Sabtu, 18 Apr 2026 15:53
Sulsel
Pertama Kali, Guru Besar dari Tiongkok Bicara Langsung di UIN Alauddin
UIN Alauddin Makassar memperkuat jejaring internasional dan dialog lintas agama melalui seminar internasional bertajuk Religion in Chinese Perspective.
Jum'at, 17 Apr 2026 23:43
Sulsel
UIN Alauddin Tuan Rumah Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin
Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin (KINMU) memasuki edisi kelima pada 2026. Tahun ini, UIN Alauddin Makassar dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan ajang tersebut.
Selasa, 14 Apr 2026 09:47
News
UIN Alauddin Masuk 3 Besar PTKI Terbaik Versi SCImago 2026
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional.
Rabu, 08 Apr 2026 20:54
News
Lulus S3 di UIN Alauddin, Mahasiswi Brunei Sebut Pengalaman di Indonesia Tak Tergantikan
UIN Alauddin Makassar kembali mencatat capaian internasional melalui wisudawan program doktor (S3) asal Brunei Darussalam, Anisa binti Alamsyah. Ia mengikuti prosesi Wisuda Angkatan 117.
Sabtu, 04 Apr 2026 11:16
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hari Kartini, Anggota DPR RI Meity Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran Jeneponto
2
Warga Aktif Jalan Kaki dan Bersepeda Bakal Dapat Insentif dari Pemkot Makassar
3
Anniversary ke-32, Mapala PNUP Tanam Ratusan Pohon di Jalur Pendakian Lembah Lohe Gowa
4
Musim Haji Tiba, Dokter Muda FK UMI Berpartisipasi Menjadi Pelayan Para Tamu Allah
5
18.971 Peserta Ikuti UTBK-SNBT 2026 di Unhas, Dibagi Jadi 16 Sesi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hari Kartini, Anggota DPR RI Meity Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran Jeneponto
2
Warga Aktif Jalan Kaki dan Bersepeda Bakal Dapat Insentif dari Pemkot Makassar
3
Anniversary ke-32, Mapala PNUP Tanam Ratusan Pohon di Jalur Pendakian Lembah Lohe Gowa
4
Musim Haji Tiba, Dokter Muda FK UMI Berpartisipasi Menjadi Pelayan Para Tamu Allah
5
18.971 Peserta Ikuti UTBK-SNBT 2026 di Unhas, Dibagi Jadi 16 Sesi