Film 'Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan' Bikin Haru Penonton di Makassar
Minggu, 10 Mei 2026 22:08
Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan sukses menghadirkan suasana haru di ruang bioskop di Kota Makassar saat penayangan spesial pada Minggu, 10 Mei 2026. Foto/Istimewa
MAKASSAR - Antusiasme penonton terhadap film drama keluarga Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan semakin terasa menjelang penayangan resminya pada 13 Mei 2026. Menyambut tingginya perhatian publik, Rapi Films, Screenplay Films, dan Vortera Studios menghadirkan program spesial bertajuk “Nonton Duluan” yang digelar di 40 kota di Indonesia.
Program penayangan awal ini berlangsung selama dua hari, pada 9 dan 10 Mei 2026, melalui jaringan bioskop XXI, CGV, dan Cinepolis. Khusus di Kota Makassar, dilaksanakan di Panakkukang 21 pada Minggu (10/5/2026).
Film ini sukses menghadirkan suasana haru di ruang bioskop. Tak sedikit penonton yang meninggalkan studio dengan perasaan tersentuh dan mata berkaca-kaca, sambil membawa pesan bermakna mengenai betapa berharganya kenangan dalam keluarga.
Sekadar diketahui, film karya sutradara Kuntz Agus dengan naskah tulisan Alim Sudio ini mengangkat tema tentang keluarga, kehilangan, dan memori. Ceritanya berfokus pada Kesha (Yasmin Napper), seorang mahasiswi film yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ibu, Yuke (Lulu Tobing), mulai kehilangan ingatan akibat Alzheimer.
Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan tidak hanya berbicara tentang penyakit. Cerita berkembang menjadi potret tentang bagaimana kehilangan memori perlahan mengubah hubungan dalam sebuah keluarga yang tampak harmonis.
Sejak awal, penonton diperlihatkan sosok Yuke sebagai ibu hangat yang menjadi pusat kebahagiaan keluarga. Perlahan, suasana berubah ketika daya ingatnya mulai menurun. Dari lupa jalan pulang hingga tak lagi mengenali orang-orang terdekat, perubahan kecil itu justru menjadi sumber emosi terbesar dalam film.
Alih-alih menghadirkan drama berlebihan, film ini memilih pendekatan yang sederhana dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tatapan kosong seorang ibu kepada anaknya, percakapan yang terlupakan, hingga suasana rumah yang perlahan berubah dingin menjadi momen-momen yang membekas bagi penonton.
Karakter Kesha juga menjadi kekuatan utama cerita. Di tengah impian dan masa depannya sebagai mahasiswa tingkat akhir sekolah film, ia dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mengejar cita-cita atau pulang menemani ibunya sebelum semuanya terlambat. Konflik batin tersebut terasa relevan dengan kehidupan banyak anak muda saat ini.
Chemistry antarpemain menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa begitu personal. Lulu Tobing dan Yasmin Napper berhasil membangun hubungan ibu dan anak yang natural, membuat penonton percaya bahwa mereka benar-benar sebuah keluarga yang sedang menghadapi kehilangan perlahan.
Kehadiran Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar turut memperkuat dinamika cerita. Masing-masing karakter memperlihatkan bagaimana satu penyakit dapat memengaruhi seluruh anggota keluarga secara emosional.
Secara visual, film ini tampil sederhana tanpa banyak gimmick. Musik latar digunakan secukupnya sehingga emosi para pemain terasa lebih menonjol dan jujur. Pendekatan tersebut membuat suasana film terasa sunyi, tetapi menyakitkan.
Respons penonton pada penayangan awal pun dipenuhi haru. Banyak yang mengaku keluar bioskop dengan perasaan emosional sekaligus lebih menghargai kenangan bersama keluarga.
“Rasanya setelah nonton film ini aku pengin peluk mama papa. Jadi ingat banyak kenangan masa kecil yang sederhana, tapi ternyata sangat berharga,” ujar salah satu penonton usai menyaksikan film tersebut.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026. Tiket penayangan “Nonton Duluan” sudah dapat dipesan melalui aplikasi M-TIX, TIX ID, CGV, dan Cinepolis di kota-kota yang telah ditentukan.
Program penayangan awal ini berlangsung selama dua hari, pada 9 dan 10 Mei 2026, melalui jaringan bioskop XXI, CGV, dan Cinepolis. Khusus di Kota Makassar, dilaksanakan di Panakkukang 21 pada Minggu (10/5/2026).
Film ini sukses menghadirkan suasana haru di ruang bioskop. Tak sedikit penonton yang meninggalkan studio dengan perasaan tersentuh dan mata berkaca-kaca, sambil membawa pesan bermakna mengenai betapa berharganya kenangan dalam keluarga.
Sekadar diketahui, film karya sutradara Kuntz Agus dengan naskah tulisan Alim Sudio ini mengangkat tema tentang keluarga, kehilangan, dan memori. Ceritanya berfokus pada Kesha (Yasmin Napper), seorang mahasiswi film yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang ibu, Yuke (Lulu Tobing), mulai kehilangan ingatan akibat Alzheimer.
Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan tidak hanya berbicara tentang penyakit. Cerita berkembang menjadi potret tentang bagaimana kehilangan memori perlahan mengubah hubungan dalam sebuah keluarga yang tampak harmonis.
Sejak awal, penonton diperlihatkan sosok Yuke sebagai ibu hangat yang menjadi pusat kebahagiaan keluarga. Perlahan, suasana berubah ketika daya ingatnya mulai menurun. Dari lupa jalan pulang hingga tak lagi mengenali orang-orang terdekat, perubahan kecil itu justru menjadi sumber emosi terbesar dalam film.
Alih-alih menghadirkan drama berlebihan, film ini memilih pendekatan yang sederhana dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tatapan kosong seorang ibu kepada anaknya, percakapan yang terlupakan, hingga suasana rumah yang perlahan berubah dingin menjadi momen-momen yang membekas bagi penonton.
Karakter Kesha juga menjadi kekuatan utama cerita. Di tengah impian dan masa depannya sebagai mahasiswa tingkat akhir sekolah film, ia dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mengejar cita-cita atau pulang menemani ibunya sebelum semuanya terlambat. Konflik batin tersebut terasa relevan dengan kehidupan banyak anak muda saat ini.
Chemistry antarpemain menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa begitu personal. Lulu Tobing dan Yasmin Napper berhasil membangun hubungan ibu dan anak yang natural, membuat penonton percaya bahwa mereka benar-benar sebuah keluarga yang sedang menghadapi kehilangan perlahan.
Kehadiran Ibnu Jamil, Shofia Shireen, dan Jordan Omar turut memperkuat dinamika cerita. Masing-masing karakter memperlihatkan bagaimana satu penyakit dapat memengaruhi seluruh anggota keluarga secara emosional.
Secara visual, film ini tampil sederhana tanpa banyak gimmick. Musik latar digunakan secukupnya sehingga emosi para pemain terasa lebih menonjol dan jujur. Pendekatan tersebut membuat suasana film terasa sunyi, tetapi menyakitkan.
Respons penonton pada penayangan awal pun dipenuhi haru. Banyak yang mengaku keluar bioskop dengan perasaan emosional sekaligus lebih menghargai kenangan bersama keluarga.
“Rasanya setelah nonton film ini aku pengin peluk mama papa. Jadi ingat banyak kenangan masa kecil yang sederhana, tapi ternyata sangat berharga,” ujar salah satu penonton usai menyaksikan film tersebut.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026. Tiket penayangan “Nonton Duluan” sudah dapat dipesan melalui aplikasi M-TIX, TIX ID, CGV, dan Cinepolis di kota-kota yang telah ditentukan.
(TRI)
Berita Terkait
News
Sutradara Film Solata Bawa Film Berlatar Sulawesi Selatan Keliling Eropa Tahun Depan
Setelah tayang perdana di bioskop pada November 2025 lalu, film SOLATA tayang perdana secara internasional di Sofia [Bulgaria] pada Januari 2026. Film besutan sutradara Ichwan Persada tersebut tayang perdana di acara Sofia Menar Film Festival
Minggu, 27 Sep 2026 13:07
News
Kisah Nyata Cinta hingga Maut Memisahkan, Baby Udon Siap Tayang 3 September
Aktor Denny Sumargo bersama Fanny Kondoh membagikan kisah mendalam di balik pembuatan film terbaru mereka berjudul "Baby Udon".
Minggu, 30 Agu 2026 08:49
Lifestyle
Nobar Film SOLATA Sambil Berdonasi untuk Korban Gempa NTT
Pengusaha Menulis Buku Indonesia [PEMBIS] bekerjasama dengan Darut Tauhid Peduli dalam waktu dekat akan menggelar nonton bareng film SOLATA. Tak sekedar nonton bareng, kegiatan ini juga bagian dari program donasi untuk korban bencana gempa bumi
Senin, 24 Agu 2026 19:59
Lifestyle
Setelah Yordania, Film Solata Kembali Berkiprah di Festival Film Cekoslowakia
Film SOLATA baru saja mendapat sambutan meriah saat hadir di Jordan Children and Youth’s Film Festival pada 18 Agustus lalu.
Minggu, 23 Agu 2026 13:52
News
Film SOLATA Akan Hadir di Jordan Children And Youth’s Film Festival Amman
Setelah tampil di 2 festival bertaraf internasional di Bulgaria dan beroleh penghargaan khusus di Golden FEMI Film Festival Juni 2026 lalu, film SOLATA kembali melanjutkan kiprahnya.
Rabu, 12 Agu 2026 18:19
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Semen Tonasa Ungkap Keunggulan Bata Interlock Presisi untuk Bangun Rumah
2
Kebakaran Lahan 3 Hektare di Lutim Padam Setelah Tiga Jam Pemadaman
3
Tekuk Kaltim 1-0, Superco Superteam Juara dan Siap Lahirkan Talenta Timnas
4
SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bentuk Karakter Siswa Lewat Perkemahan Pramuka
5
IAS Disambut Empat Calon Ketua Golkar Bulukumba Saat Singgah dari Selayar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Semen Tonasa Ungkap Keunggulan Bata Interlock Presisi untuk Bangun Rumah
2
Kebakaran Lahan 3 Hektare di Lutim Padam Setelah Tiga Jam Pemadaman
3
Tekuk Kaltim 1-0, Superco Superteam Juara dan Siap Lahirkan Talenta Timnas
4
SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bentuk Karakter Siswa Lewat Perkemahan Pramuka
5
IAS Disambut Empat Calon Ketua Golkar Bulukumba Saat Singgah dari Selayar