Songkok Guru untuk Gus Rozin, Simbol Penghormatan & Persaudaraan Ulama
Minggu, 09 Agu 2026 21:12
Rais Syuriah PWNU Sulsel, Anregurutta KH Baharuddin HS menyerahkan Songkok Guru kepada Gus Rozin sebagai bentuk penghormatan dan pengikat silaturahmi antartokoh NU lintas daerah. Foto/IST
MAKASSAR - Pertemuan ulama Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan di Makassar, belum lama ini, ditandai dengan pertukaran simbol tradisi dan keilmuan pesantren. Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan, Anregurutta KH Baharuddin HS menyerahkan Songkok Guru kepada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai bentuk penghormatan dan pengikat silaturahmi antartokoh NU lintas daerah.
Songkok Guru bukan sekadar penutup kepala khas Sulawesi Selatan. Bagi masyarakat setempat, songkok tersebut merepresentasikan identitas, kehormatan, dan tradisi keulamaan. Penyerahannya kepada Gus Rozin menjadi simbol persaudaraan sekaligus penghormatan terhadap tradisi ulama Sulawesi Selatan.
Sebaliknya, Gus Rozin memberikan sarung batik khas Jawa Tengah dan kitab karya KH MA Sahal Mahfudh kepada Anregurutta KH Baharuddin HS. Pertukaran tersebut mempertemukan dua kekayaan tradisi: budaya dan simbol keulamaan Sulawesi Selatan dengan warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Bagi Gus Rozin, silaturahmi antartokoh NU memiliki arti penting dalam perjalanan organisasi memasuki abad kedua. NU, menurut dia, tidak dibangun semata-mata melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui jaringan silaturahmi ulama, tradisi pesantren, hubungan kultural, serta pertukaran pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Pertemuan tersebut sekaligus menunjukkan keberagaman tradisi keulamaan di tubuh NU. Meski memiliki latar budaya yang berbeda, tradisi tersebut dipertautkan oleh nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan semangat khidmah.
Merawat Tradisi, Menyatukan NU
Gus Rozin yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU memandang tradisi keulamaan sebagai salah satu fondasi penting bagi masa depan jam'iyyah.
Pemikiran dan warisan keilmuan KH MA Sahal Mahfudh, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan intelektual Gus Rozin, turut menjadi bagian dari tradisi pesantren yang terus dibawa dalam ikhtiar membangun NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menawarkan gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Gagasan tersebut, menurutnya, tidak berarti meninggalkan akar sejarah dan tradisi organisasi ketika NU memasuki abad kedua.
Transformasi justru perlu dilakukan dengan memperkuat fondasi yang diwariskan para ulama dan muassis NU, kemudian menerjemahkannya untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan.
Dalam kerangka itu, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi bagian penting. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, dan tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren di Nusantara.
Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi
Bagi Gus Rozin, silaturahmi antardaerah tidak seharusnya berhenti pada pertemuan simbolik. Hubungan antara pengurus, ulama, pesantren, dan warga NU perlu dikembangkan menjadi kerja sama yang konkret.
Pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan dan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga pengembangan kebudayaan menjadi sejumlah ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan.
Dalam konteks tersebut, silaturahmi ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar memiliki makna lebih luas. Pertemuan itu menunjukkan bahwa NU abad kedua tetap perlu berakar pada tradisi ulama, sekaligus mampu membangun jembatan antardaerah untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Songkok Guru yang diberikan kepada Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Keduanya bertemu dalam satu pesan: merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua.
Songkok Guru bukan sekadar penutup kepala khas Sulawesi Selatan. Bagi masyarakat setempat, songkok tersebut merepresentasikan identitas, kehormatan, dan tradisi keulamaan. Penyerahannya kepada Gus Rozin menjadi simbol persaudaraan sekaligus penghormatan terhadap tradisi ulama Sulawesi Selatan.
Sebaliknya, Gus Rozin memberikan sarung batik khas Jawa Tengah dan kitab karya KH MA Sahal Mahfudh kepada Anregurutta KH Baharuddin HS. Pertukaran tersebut mempertemukan dua kekayaan tradisi: budaya dan simbol keulamaan Sulawesi Selatan dengan warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Bagi Gus Rozin, silaturahmi antartokoh NU memiliki arti penting dalam perjalanan organisasi memasuki abad kedua. NU, menurut dia, tidak dibangun semata-mata melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui jaringan silaturahmi ulama, tradisi pesantren, hubungan kultural, serta pertukaran pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Pertemuan tersebut sekaligus menunjukkan keberagaman tradisi keulamaan di tubuh NU. Meski memiliki latar budaya yang berbeda, tradisi tersebut dipertautkan oleh nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan semangat khidmah.
Merawat Tradisi, Menyatukan NU
Gus Rozin yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU memandang tradisi keulamaan sebagai salah satu fondasi penting bagi masa depan jam'iyyah.
Pemikiran dan warisan keilmuan KH MA Sahal Mahfudh, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan intelektual Gus Rozin, turut menjadi bagian dari tradisi pesantren yang terus dibawa dalam ikhtiar membangun NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menawarkan gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Gagasan tersebut, menurutnya, tidak berarti meninggalkan akar sejarah dan tradisi organisasi ketika NU memasuki abad kedua.
Transformasi justru perlu dilakukan dengan memperkuat fondasi yang diwariskan para ulama dan muassis NU, kemudian menerjemahkannya untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan.
Dalam kerangka itu, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi bagian penting. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, dan tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren di Nusantara.
Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi
Bagi Gus Rozin, silaturahmi antardaerah tidak seharusnya berhenti pada pertemuan simbolik. Hubungan antara pengurus, ulama, pesantren, dan warga NU perlu dikembangkan menjadi kerja sama yang konkret.
Pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan dan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga pengembangan kebudayaan menjadi sejumlah ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan.
Dalam konteks tersebut, silaturahmi ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar memiliki makna lebih luas. Pertemuan itu menunjukkan bahwa NU abad kedua tetap perlu berakar pada tradisi ulama, sekaligus mampu membangun jembatan antardaerah untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Songkok Guru yang diberikan kepada Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Keduanya bertemu dalam satu pesan: merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua.
(TRI)
Berita Terkait
News
Haul ke-20 Puang Ramma, Kisah Sang Mursyid Dikemas dalam Manakib dan Novel
Tak hanya buku tentang Puang Ramma, rangkaian haul juga akan menjadi momentum peluncuran sejumlah karya yang berkaitan dengan Syekh Yusuf Al-Makassary.
Jum'at, 04 Sep 2026 20:36
News
Haul 20 Tahun Pendiri NU Sulsel Puang Ramma, 2.000 Jemaah Bakal Hadir
Sekitar 2.000 jemaah diperkirakan bakal menghadiri Haul ke-20 KHS Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad, 6 September 2026.
Jum'at, 04 Sep 2026 17:36
News
Gus Kikin Jadi Ketum PBNU, Idrus Marham: Duet Ideal untuk Masa Depan NU
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.
Senin, 31 Agu 2026 16:46
News
Idrus Marham Luncurkan Buku “Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban” di Jakarta
Buku berjudul Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban karya Idrus Marham akan diluncurkan dalam sebuah acara yang digelar di Hotel Novotel, Jakarta, Senin (24/08/2026) hari ini.
Minggu, 23 Agu 2026 20:27
News
Gus Zaki: Muktamar NU Harus Berdaulat, Tolak Politik Paket
Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad alias Gus Zaki mengingatkan agar pencalonan Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 tidak dikunci melalui paket-paket kepemimpinan.
Rabu, 19 Agu 2026 19:38
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dua Laporan Soal Islamic Center Malili Masuk ke Kejari Lutim, Status Lahan Jadi Sorotan
2
Soroti Kebutuhan Air Bersih di Kota, Andi Iwan Minta PAMSIMAS Bisa Masuk Kelurahan
3
Puncak Hari Kesatuan Gerak PKK Maros ke-54, Dorong Program Literasi hingga Tingkat Desa
4
Pertamina Resmikan Jembatan Kaluppini, Akses Pendidikan dan Ekonomi Warga Makin Lancar
5
11 Ribu Kendaraan di Maros Tunggak Pajak, Samsat Gelar Penertiban
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dua Laporan Soal Islamic Center Malili Masuk ke Kejari Lutim, Status Lahan Jadi Sorotan
2
Soroti Kebutuhan Air Bersih di Kota, Andi Iwan Minta PAMSIMAS Bisa Masuk Kelurahan
3
Puncak Hari Kesatuan Gerak PKK Maros ke-54, Dorong Program Literasi hingga Tingkat Desa
4
Pertamina Resmikan Jembatan Kaluppini, Akses Pendidikan dan Ekonomi Warga Makin Lancar
5
11 Ribu Kendaraan di Maros Tunggak Pajak, Samsat Gelar Penertiban