Haul ke-20 Puang Ramma, Kisah Sang Mursyid Dikemas dalam Manakib dan Novel

Jum'at, 04 Sep 2026 20:36
Haul ke-20 Puang Ramma, Kisah Sang Mursyid Dikemas dalam Manakib dan Novel
Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy, Syekh Sayyid A. Rahim Assegaf Puang Makka, bersama panitia menyampaikan rencana kegiatan Haul ke-20 pendiri NU Sulsel, Puang Ramma. Foto/IST
Comment
Share
MAKASSAR - Dua dekade setelah wafatnya Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma, jejak perjuangan dan perjalanan hidup salah satu tokoh penting Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary itu akan diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui buku.

Dua karya yang mengisahkan sosok Puang Ramma, yakni manakib atau ringkasan riwayat hidup dan versi novelnya, akan diluncurkan dalam rangkaian Haul ke-20 Puang Ramma yang digelar di Jalan Baji Bicara, Kota Makassar, Minggu (6/9/2026).

Rencana peluncuran buku tersebut disampaikan Staf Khusus Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary, H. Kamaruddin Natsir, dalam konferensi pers Haul ke-20 Puang Ramma, Jumat (4/9/2026).

Kamaruddin mengatakan, penerbitan dua versi buku tersebut merupakan bentuk apresiasi dan kecintaan para murid kepada Puang Ramma. Selain itu, buku tersebut diharapkan menjadi medium untuk memperkenalkan sosok Puang Ramma dan Tarekat Khalwatiyah kepada pembaca dari generasi yang lebih muda.

Menurut dia, manakib disusun dalam bentuk yang lebih serius dan ditujukan terutama bagi pembaca yang ingin mengetahui riwayat hidup Puang Ramma secara ringkas. Sementara versi novel dibuat dengan gaya yang lebih ringan dan mudah dibaca.

“Kalau manakib ini biasanya orang-orang yang sepuh-sepuh, yang senior-senior dan agak berat membacanya. Tapi kalau dikemas dalam bentuk novel, itu ringan,” kata Kamaruddin.

Ia mengatakan, format novel tersebut sengaja dipilih agar kisah Puang Ramma dapat menjangkau milenial, Gen Z, hingga generasi Alpha. “Bagaimana memperkenalkan Tarekat Khalwatiyah ini kepada milenial, Gen Z, bahkan Gen Alfa,” ujarnya.

Tak hanya buku tentang Puang Ramma, rangkaian haul juga akan menjadi momentum peluncuran sejumlah karya yang berkaitan dengan Syekh Yusuf Al-Makassary.

Salah satunya merupakan karya Syekh Imran Abdillah, salah seorang khalifah Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary, yang mengangkat pemikiran dan karya Syekh Yusuf.

Selain itu, tiga karya Syekh Yusuf juga akan diluncurkan dalam versi yang telah dialihbahasakan dan dilengkapi anotasi. Ketiganya adalah Zubdatul Asrar, Sirrul Asrar, dan Qurratul 'Ain.

Kamaruddin menyebut rangkaian karya tersebut sebagai bagian dari upaya para murid untuk menjaga dan meneruskan warisan keilmuan para mursyid dalam mata rantai Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary.

“Jadi, karya-karya ini adalah bagian dari apresiasi kami, rasa cinta kami kepada mursyid-mursyid kami,” katanya.

Puang Ramma merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary. Ia merupakan mursyid ke-11 tarekat tersebut dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.

Estafet kemursyidan kemudian dilanjutkan Syekh Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, yang saat ini menjadi Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary.

Ketua Panitia Haul ke-20 Puang Ramma, Capt. Suparman, mengatakan haul tahun ini tidak sekadar menjadi agenda mengenang wafatnya Puang Ramma, tetapi juga momentum untuk mengingat kembali perjuangan, dakwah, dan cara sang mursyid membimbing umat.

“Haul yang ke-20 ini bukan hanya rutinitas tahunan semata. Ini momentum bagi kita semua bagaimana mengenang beliau, mengenang perjuangan beliau, mengenang dakwah beliau, dan mengenang cara-cara beliau dalam membimbing umat,” kata Suparman.

Puncak Haul ke-20 Puang Ramma akan berlangsung pada Minggu, 6 September 2026, mulai pukul 08.30 Wita hingga selesai di Jalan Baji Bicara, Makassar. Panitia memperkirakan sekitar 2.000 jemaah dari sejumlah daerah akan hadir.

Selain puncak haul di Makassar, rangkaian kegiatan juga mencakup Ziarah Kubro di kompleks pemakaman Tambua, Maros, yang berlangsung 6–8 September 2026.

Namun, bagi keluarga besar dan murid-murid Puang Ramma, peringatan dua dekade wafatnya sang mursyid tahun ini juga menjadi kesempatan untuk memastikan warisan pemikiran, perjalanan hidup, dan karya para ulama tetap dapat dibaca oleh generasi berikutnya—bukan hanya dikenang setiap tahun.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru