100 Ribu Warga Maros Terdampak Krisis Air Bersih
Selasa, 08 Sep 2026 13:24
Proses distribusi air bersih di wilayah terdampak kekeringan. Foto: Istimewa
MAROS - Kekeringan ekstrem melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sebanyak 11 dari 14 kecamatan terdampak krisis air bersih dengan jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai 100 ribu jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, TNI bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros meningkatkan distribusi bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Kepala BPBD Maros, Towadeng mengatakan, kondisi kekeringan tahun ini semakin meluas. Pemerintah Kabupaten Maros bahkan telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak awal Agustus 2026.
"Kondisi kekeringan yang melanda Kabupaten Maros ini memang sudah pada level tanggap darurat. Saat ini dampaknya meluas hingga 11 kecamatan," kata Towadeng saat dikonfirmasi (8/9/2026).
Menurutnya, wilayah terdampak tidak hanya berada di kawasan pesisir dan perkotaan. Daerah pegunungan seperti Kappang juga mulai mengalami krisis air sehingga harus mendapatkan pasokan air bersih.
"Daerah pegunungan seperti Kappang yang berjarak 1,5 jam dari sumber air sudah mulai kita suplai. Kekeringan kali ini lebih parah Dibanding 2023," jelasnya.
Towadeng mengatakan, kondisi kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan 2023. Saat itu, sekitar 10 kecamatan yang terdampak kekeringan dengan durasi sekitar tiga bulan.
Sementara tahun ini, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang, yakni mulai Juli hingga November. Kondisi tersebut diperparah suhu udara ekstrem yang diperkirakan mencapai 38-40 derajat Celsius pada siang hari.
"Ini lebih parah dibandingkan 2023. Tahun ini kemarau diperkirakan berlangsung sekitar empat bulan," jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sumber-sumber air baku di Maros. Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan masyarakat mulai mengering.
"Sumber air di Lekopancing dan Bantimurung saat ini sudah mengering dan tidak bisa diandalkan lagi menjadi air baku yang diolah oleh PDAM," ungkap Towadeng.
Sebanyak 11 dari 14 kecamatan terdampak krisis air bersih dengan jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai 100 ribu jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, TNI bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros meningkatkan distribusi bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Kepala BPBD Maros, Towadeng mengatakan, kondisi kekeringan tahun ini semakin meluas. Pemerintah Kabupaten Maros bahkan telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak awal Agustus 2026.
"Kondisi kekeringan yang melanda Kabupaten Maros ini memang sudah pada level tanggap darurat. Saat ini dampaknya meluas hingga 11 kecamatan," kata Towadeng saat dikonfirmasi (8/9/2026).
Menurutnya, wilayah terdampak tidak hanya berada di kawasan pesisir dan perkotaan. Daerah pegunungan seperti Kappang juga mulai mengalami krisis air sehingga harus mendapatkan pasokan air bersih.
"Daerah pegunungan seperti Kappang yang berjarak 1,5 jam dari sumber air sudah mulai kita suplai. Kekeringan kali ini lebih parah Dibanding 2023," jelasnya.
Towadeng mengatakan, kondisi kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan 2023. Saat itu, sekitar 10 kecamatan yang terdampak kekeringan dengan durasi sekitar tiga bulan.
Sementara tahun ini, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang, yakni mulai Juli hingga November. Kondisi tersebut diperparah suhu udara ekstrem yang diperkirakan mencapai 38-40 derajat Celsius pada siang hari.
"Ini lebih parah dibandingkan 2023. Tahun ini kemarau diperkirakan berlangsung sekitar empat bulan," jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sumber-sumber air baku di Maros. Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan masyarakat mulai mengering.
"Sumber air di Lekopancing dan Bantimurung saat ini sudah mengering dan tidak bisa diandalkan lagi menjadi air baku yang diolah oleh PDAM," ungkap Towadeng.
(MAN)
Berita Terkait
News
Ancaman Kemarau Panjang, BPBD Maros Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros mulai memetakan wilayah rawan terdampak musim kemarau panjang tahun ini.
Minggu, 19 Apr 2026 07:09
News
Angin Kencang Rusak 10 Rumah di Moncongloe Maros
Sebanyak 10 rumah milik warga di Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros rusak diterjang angin kencang, (1/2/2026). Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 Wita.
Minggu, 01 Feb 2026 18:40
Sulsel
Angin Kencang Rusak Rumah Warga di Moncongloe Maros
Hujan deras disertai angin kencang membuat tiga rumah di Perumahan Bukit Asera di Dusun Manjalling, Desa Bonto Bunga, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, rusak, Rabu (28/1/2026).
Rabu, 28 Jan 2026 20:52
Sulsel
Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Maros, Pohon Tumbang dan Atap Rusak
Hujan deras yang disertai angin kencang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Maros dalam dua hari ini.
Minggu, 11 Jan 2026 20:06
Sulsel
BPBD Maros Petakan Wilayah Rawan Bencana, 10 Kecamatan Berpotensi Banjir
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan mulai melakukan pemetaan wilayah rawan bencana alam, memasuki musim penghujan.
Senin, 10 Nov 2025 06:05
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Polda Sulsel Tangkap 22 Passobis, Kerugian Korban Tembus Rp1,1 Miliar
2
PLTU Jeneponto Kembali Beroperasi, PLN Percepat Pemulihan Listrik Sistem Sulbagsel
3
Pemkot Makassar Kaji Aspek Geografis dan Regulasi Calon TPU Baru di Maros
4
Transaksi BBM Subsidi Tak Wajar, Pertamina Sulawesi Blokir 4.767 QR Code
5
1.500 Pelari Bakal Ramaikan GoldRun Pegadaian Makassar, Hadiah Emas Batangan Menanti
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Polda Sulsel Tangkap 22 Passobis, Kerugian Korban Tembus Rp1,1 Miliar
2
PLTU Jeneponto Kembali Beroperasi, PLN Percepat Pemulihan Listrik Sistem Sulbagsel
3
Pemkot Makassar Kaji Aspek Geografis dan Regulasi Calon TPU Baru di Maros
4
Transaksi BBM Subsidi Tak Wajar, Pertamina Sulawesi Blokir 4.767 QR Code
5
1.500 Pelari Bakal Ramaikan GoldRun Pegadaian Makassar, Hadiah Emas Batangan Menanti