Sambut HLN ke-81, PLN Perluas Pemanfaatan Listrik untuk Pertanian

Minggu, 11 Okt 2026 19:06
Sambut HLN ke-81, PLN Perluas Pemanfaatan Listrik untuk Pertanian
Petugas PLN saat melakukan pengecekan SPLU yang dimanfaatkan untuk program Electrifying Agriculture bagi produktobitas petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone. Foto/IST
Comment
Share
MAKASSAR - Ketika pasokan air menjadi tantangan bagi petani saat kemarau, listrik membuka peluang untuk menjaga produktivitas sawah sekaligus menekan biaya operasional. Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) mendorong pemanfaatan listrik untuk mendukung pertanian yang lebih produktif dan efisien.

Program ini menjadi bagian dari upaya PLN memperluas manfaat listrik menjelang Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 pada 27 Oktober 2026. Sejak dijalankan pada 2021, Electrifying Agriculture terus berkembang. Hingga September 2026, jumlah pelanggannya mencapai 4.438 dengan total daya tersambung 208.553,3 kilovolt ampere (kVA).

General Manager PLN UID Sulselrabar Didik Wicaksono mengatakan, program tersebut merupakan komitmen PLN untuk menjadikan listrik sebagai penggerak sektor produktif dan perekonomian daerah. “Melalui Electrifying Agriculture, kami mendorong pemanfaatan listrik yang lebih produktif dan efisien guna membantu petani menekan biaya operasional, meningkatkan hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.

Salah satu penerapannya terlihat di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Di wilayah ini, pemanfaatan listrik untuk pompanisasi membantu petani memenuhi kebutuhan air sawah, terutama ketika pasokan dari Bendung Takkalasi berkurang saat kemarau panjang.

Sekitar 395 hektare lahan di Desa Takkalasi dikelola oleh 13 kelompok tani. Untuk mendukung pengairan, pada 2025 tersedia 39 titik sumur bor yang dimanfaatkan bersama program listrik masuk sawah untuk mengoperasikan pompa air.

Upaya menjaga ketersediaan air tersebut berjalan beriringan dengan berbagai langkah peningkatan produksi, termasuk optimalisasi lahan dan bantuan benih. Pada panen Agustus 2026, produktivitas tercatat sekitar 10,4 ton per hektare, meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare.

Pemanfaatan listrik memungkinkan pompa air dioperasikan tanpa sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak. Selain mendukung pengairan, listrik juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan agrikultur, mulai dari pompa irigasi, pencahayaan, dan ventilasi hingga pengoperasian peralatan pendukung peternakan. Teknologi tersebut membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi serta mengembangkan usahanya.

Didik menegaskan, pengembangan Electrifying Agriculture tidak hanya berfokus pada penambahan pelanggan dan daya tersambung, tetapi juga pada manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Kami terus mendorong pemanfaatan listrik, mulai dari pengairan sawah, pengembangan usaha perkebunan, hingga modernisasi peternakan,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan pertanian berbasis listrik membutuhkan kolaborasi PLN, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut diperlukan agar infrastruktur kelistrikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan mampu mendukung keberlanjutan usaha agrikultur.

Menjelang HLN ke-81, PLN UID Sulselrabar berkomitmen memperluas pemanfaatan listrik untuk mendorong transformasi sektor agrikultur. “Kami ingin listrik hadir sebagai energi yang menggerakkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, dan menghadirkan kesejahteraan yang semakin merata,” tutup Didik.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru