Dikukuhkan jadi Guru Besar, Prof Afifuddin Tawarkan Model Pendidikan Islam Anti-Radikalisme
Kamis, 02 Apr 2026 23:22
Prof Afifuddin membacakan orasi ilmiahnya dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar UIN Alauddin Makassar. Foto: Istimewa
GOWA - UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Auditorium Kampus II, Gowa, Kamis (2/4/2026). Salah satu yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. H. Afifuddin, Lc., M.Ag.
Prof Afifuddin dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Pendidikan Islam Multikultural pada Fakultas Adab dan Humaniora. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat judul “Mangaji Tudang: Model Pendidikan Islam Multikultural dan Deradikalisasi Berbasis Keluhuran Akhlak Pesantren.”
Dalam pemaparannya, Prof Afifuddin menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan ekosistem sosial yang mampu menanamkan nilai toleransi, inklusivitas, dan keluhuran akhlak secara utuh.
Ia menjelaskan, tradisi mangaji tudang alias model belajar dengan duduk melingkar, relasi egaliter antara guru dan santri, serta interaksi yang hangat, merupakan praktik pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter.
“Dalam perspektif pedagogi Islam, praktik ini merepresentasikan konsep ta’dib, yakni penanaman adab sebelum pengetahuan,” ujarnya.
Menurutnya, ruang belajar komunal dalam tradisi tersebut menjadi “laboratorium sosial” yang mempertemukan santri dari beragam latar belakang. Interaksi ini secara alami menumbuhkan empati, solidaritas, dan kemampuan hidup dalam perbedaan.
Selain itu, penggunaan kitab kuning yang memuat beragam pandangan ulama dinilai melatih sikap terbuka dan kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa. Hal ini, kata dia, menjadi fondasi penting dalam membangun cara beragama yang moderat.
Prof Afifuddin juga menyoroti relevansi mangaji tudang di tengah tantangan era digital. Generasi Z, yang tumbuh dalam budaya instan dan individualistik, dinilai membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan kolaboratif.
“Tradisi ini justru menjadi antitesis dari budaya digital yang serba cepat, karena mengajarkan kesabaran, kedalaman berpikir, dan interaksi sosial yang autentik,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa mangaji tudang memiliki potensi besar sebagai model deradikalisasi berbasis pendidikan. Radikalisme, menurutnya, tidak hanya disebabkan oleh kesalahan memahami teks agama, tetapi juga kegagalan pendidikan dalam membentuk adab dan empati sosial.
Melalui pembiasaan nilai moderat, penghargaan terhadap perbedaan, serta kehidupan komunal pesantren, proses deradikalisasi dapat berlangsung secara preventif dan berkelanjutan.
“Pesantren menjalankan fungsi deradikalisasi sebagai ‘vaksin ideologis’ melalui keteladanan dan penguatan komunitas moral,” tegasnya.
Secara akademik, ia menilai keunggulan mangaji tudang terletak pada integrasi tiga aspek sekaligus, yakni epistemik, pedagogik, dan sosiologis. Ketiganya membentuk sistem pendidikan yang utuh, kontekstual, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi metode tanpa meninggalkan nilai dasar tradisi. Integrasi teknologi digital, menurutnya, perlu dilakukan agar model pendidikan ini tetap relevan bagi generasi muda.
Di akhir orasinya, Prof Afifuddin menegaskan bahwa mangaji tudang bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan praktik pendidikan hidup yang memiliki nilai universal dan relevan untuk masa depan Indonesia.
“Pesantren melalui tradisi ini adalah aset strategis bangsa dalam merawat moderasi beragama dan keberagaman,” pungkasnya.
Prof Afifuddin dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Pendidikan Islam Multikultural pada Fakultas Adab dan Humaniora. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengangkat judul “Mangaji Tudang: Model Pendidikan Islam Multikultural dan Deradikalisasi Berbasis Keluhuran Akhlak Pesantren.”
Dalam pemaparannya, Prof Afifuddin menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan ekosistem sosial yang mampu menanamkan nilai toleransi, inklusivitas, dan keluhuran akhlak secara utuh.
Ia menjelaskan, tradisi mangaji tudang alias model belajar dengan duduk melingkar, relasi egaliter antara guru dan santri, serta interaksi yang hangat, merupakan praktik pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter.
“Dalam perspektif pedagogi Islam, praktik ini merepresentasikan konsep ta’dib, yakni penanaman adab sebelum pengetahuan,” ujarnya.
Menurutnya, ruang belajar komunal dalam tradisi tersebut menjadi “laboratorium sosial” yang mempertemukan santri dari beragam latar belakang. Interaksi ini secara alami menumbuhkan empati, solidaritas, dan kemampuan hidup dalam perbedaan.
Selain itu, penggunaan kitab kuning yang memuat beragam pandangan ulama dinilai melatih sikap terbuka dan kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa. Hal ini, kata dia, menjadi fondasi penting dalam membangun cara beragama yang moderat.
Prof Afifuddin juga menyoroti relevansi mangaji tudang di tengah tantangan era digital. Generasi Z, yang tumbuh dalam budaya instan dan individualistik, dinilai membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan kolaboratif.
“Tradisi ini justru menjadi antitesis dari budaya digital yang serba cepat, karena mengajarkan kesabaran, kedalaman berpikir, dan interaksi sosial yang autentik,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa mangaji tudang memiliki potensi besar sebagai model deradikalisasi berbasis pendidikan. Radikalisme, menurutnya, tidak hanya disebabkan oleh kesalahan memahami teks agama, tetapi juga kegagalan pendidikan dalam membentuk adab dan empati sosial.
Melalui pembiasaan nilai moderat, penghargaan terhadap perbedaan, serta kehidupan komunal pesantren, proses deradikalisasi dapat berlangsung secara preventif dan berkelanjutan.
“Pesantren menjalankan fungsi deradikalisasi sebagai ‘vaksin ideologis’ melalui keteladanan dan penguatan komunitas moral,” tegasnya.
Secara akademik, ia menilai keunggulan mangaji tudang terletak pada integrasi tiga aspek sekaligus, yakni epistemik, pedagogik, dan sosiologis. Ketiganya membentuk sistem pendidikan yang utuh, kontekstual, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi metode tanpa meninggalkan nilai dasar tradisi. Integrasi teknologi digital, menurutnya, perlu dilakukan agar model pendidikan ini tetap relevan bagi generasi muda.
Di akhir orasinya, Prof Afifuddin menegaskan bahwa mangaji tudang bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan praktik pendidikan hidup yang memiliki nilai universal dan relevan untuk masa depan Indonesia.
“Pesantren melalui tradisi ini adalah aset strategis bangsa dalam merawat moderasi beragama dan keberagaman,” pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
News
UiTM Malaysia dan UIN Alauddin Makassar Perkuat Kolaborasi Akademik
Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar menerima kunjungan akademik delegasi Fakulti Sains Komputer dan Matematik UiTM Malaysia pada 1–4 September 2026.
Kamis, 10 Sep 2026 09:02
News
Dosen UIN Alauddin Juara 1 Azan MTQ Korpri Nasional 2026
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen UIN Alauddin Makassar di panggung nasional. Dr. Baharuddin, S.Pd.I., M.Pd.I., berhasil meraih juara 1 Cabang Adzan pada MTQ Korpri Nasional VIII Tahun 2026.
Senin, 31 Agu 2026 15:34
Sulsel
Rektor UIN Alauddin Terima Kunjungan Kapolresta Gowa untuk Perkuat Sinergi Institusi
Penguatan sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi menjadi perhatian dalam kunjungan silaturahmi Kapolresta Gowa Kombes Pol. Dr. H. Muh. Yusuf Usman ke UIN Alauddin Makassar.
Rabu, 19 Agu 2026 09:34
Makassar City
Rektor UIN Alauddin Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut Perairan Samalona
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan dengan cara berbeda oleh UIN Alauddin Makassar. Rektor UIN Alauddin Makassar bersama tim penyelam mengibarkan bendera Merah Putih di bawah laut perairan Pulau Samalona.
Selasa, 18 Agu 2026 23:00
Sulsel
UPZ UIN Alauddin Makassar Salurkan Bantuan UKT kepada 126 Mahasiswa
Unit Pengelola Zakat (UPZ) UIN Alauddin Makassar menyalurkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada 126 mahasiswa.
Senin, 17 Agu 2026 12:47
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PKKMB UPRI 2026, Mahasiswa Baru Dibekali Pengetahuan Akademik, AI dan Integritas
2
Pemkot dan Pertamina Ambil Langkah Taktis Urai Antrean Panjang BBM di Makassar
3
PLN Perkuat Bank Sampah Pelita Bangsa, Dorong Pengelolaan Sampah Ekonomi Sirkular
4
Rural ICT Camp 2026 Dorong UMKM Perikanan Maros Naik Kelas Lewat Teknologi Digital
5
Pangdivif 3 Kostrad Pimpin 200 Prajurit Latihan Terjun Payung di Sidrap, Ribuan Warga Antusias
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PKKMB UPRI 2026, Mahasiswa Baru Dibekali Pengetahuan Akademik, AI dan Integritas
2
Pemkot dan Pertamina Ambil Langkah Taktis Urai Antrean Panjang BBM di Makassar
3
PLN Perkuat Bank Sampah Pelita Bangsa, Dorong Pengelolaan Sampah Ekonomi Sirkular
4
Rural ICT Camp 2026 Dorong UMKM Perikanan Maros Naik Kelas Lewat Teknologi Digital
5
Pangdivif 3 Kostrad Pimpin 200 Prajurit Latihan Terjun Payung di Sidrap, Ribuan Warga Antusias