GENTING Maros, Ketika Kepedulian Bersama Bergerak untuk Cegah Stunting
Rabu, 26 Agu 2026 11:26
Kegiatan Pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Tingkat Kabupaten Maros yang berlangsung di Gedung Baruga B, Kantor Bupati Maros, Rabu (26/8/2026). Foto: Istimewa
MAROS - Upaya mencegah stunting di Kabupaten Maros terus diperkuat melalui gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, tokoh agama, masyarakat, hingga berbagai mitra pembangunan.
Bukan sekadar program, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) didorong menjadi gerakan kepedulian bersama, untuk memastikan keluarga berisiko stunting mendapatkan perhatian, dukungan, dan pendampingan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Tingkat Kabupaten Maros yang berlangsung di Gedung Baruga B, Kantor Bupati Maros, Rabu (26/8/2026).
Hadir pada kegiatan ini, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan Dr Fatmawati, Wakil Bupati Maros A Muetazim Mansyur, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros Muhammad Aris, para Kepala KUA se-Kabupaten Maros, jajaran perangkat daerah, tenaga kesehatan, Penyuluh Keluarga Berencana, Tim Pendamping Keluarga, serta unsur dunia usaha dan mitra pembangunan.
Dalam kegiatan tersebut, Pojok GENTING Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan 12 paket nutrisi kepada keluarga berisiko stunting di Kabupaten Maros.
Penyerahan bantuan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan intervensi secara langsung kepada keluarga sekaligus memperkuat pesan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.
Dr Fatmawati menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi titik awal dalam penanganan stunting. Menurutnya, jangan sampai intervensi baru dilakukan ketika stunting sudah terjadi karena biaya dan upaya yang diperlukan untuk penanganan akan jauh lebih besar.
“Kalau kita berbicara tentang stunting, yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya sebelum terjadi. Jangan sampai kita baru bergerak setelah stunting terjadi,” ujar Fatmawati.
Ia menjelaskan, keluarga menjadi titik penting dalam upaya pencegahan stunting.
BKKBN mengenali sejumlah faktor risiko yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk konsep 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu dekat dalam kehamilan atau kelahiran.
Selain itu, faktor lingkungan seperti sanitasi dan akses terhadap sumber air minum yang layak juga menjadi bagian penting dalam menentukan risiko stunting.
“Ketika kita berbicara mengenai keluarga berisiko stunting, kita tidak boleh hanya melihat dari sisi kesehatan. Ada banyak faktor yang saling berkaitan,” jelasnya.
Di tengah kegiatan tersebut, Fatmawati memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Maros atas capaian penurunan prevalensi stunting yang signifikan.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting Kabupaten Maros tercatat sebesar 34,7 persen pada 2023, kemudian turun menjadi sekitar 22 persen pada 2024.
Penurunan sekitar 12 poin persentase tersebut menjadi salah satu capaian penurunan prevalensi stunting tertinggi di Sulawesi Selatan.
“Maros menjadi salah satu kabupaten dengan penurunan prevalensi stunting tertinggi di Sulawesi Selatan. Ini tentu bukan pekerjaan satu pihak, tetapi hasil dari kerja bersama,” kata Fatmawati.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi energi untuk terus memperkuat intervensi di tingkat keluarga.
Fatmawati menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Pendekatan pentahelix menjadi penting untuk memastikan gerakan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar hadir di tengah keluarga.Pemerintah menyiapkan kebijakan dan program. Dunia usaha dapat memberikan dukungan. Tenaga kesehatan memberikan pelayanan dan edukasi. Tokoh agama menguatkan pesan melalui pendekatan keagamaan. Akademisi memberikan pengetahuan. Komunitas dan masyarakat memperluas gerakan.
“Stunting bukan persoalan satu kementerian, bukan persoalan satu dinas, dan bukan pula persoalan pemerintah saja,” tegas Fatmawati.
Wakil Bupati Maros A. Muetazim Mansyur mengatakan, capaian penurunan stunting di Kabupaten Maros tidak terlepas dari kerja bersama berbagai pihak.
Ia menyebut, pemerintah daerah tidak mungkin menangani persoalan stunting seorang diri. “Kalau seluruh beban penanganan stunting hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, tentu akan terasa berat. Karena itu, kita membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak,” katanya.
Menurut Muetazim, dunia usaha, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat memiliki ruang untuk mengambil peran.
Dukungan tersebut tidak selalu harus dalam bentuk bantuan finansial. Bantuan makanan bergizi, edukasi, pendampingan keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga dukungan terhadap lingkungan sehat juga merupakan bagian penting dari gerakan bersama.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para Kepala KUA se-Kabupaten Maros yang turut mengambil peran dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Kepala DP3ADALDUKKB Kabupaten Maros Muhammad Aris, menegaskan bahwa GENTING harus dibangun sebagai gerakan yang berkelanjutan dan menyentuh keluarga secara langsung.
Menurutnya, keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, bukan hanya pemerintah.
“Keberhasilan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan keterlibatan dan kolaborasi seluruh unsur masyarakat,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keterlibatan Puskesmas, Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga, jajaran KUA, dunia usaha, serta seluruh mitra yang selama ini telah memberikan perhatian kepada keluarga sasaran.
Bukan sekadar program, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) didorong menjadi gerakan kepedulian bersama, untuk memastikan keluarga berisiko stunting mendapatkan perhatian, dukungan, dan pendampingan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Tingkat Kabupaten Maros yang berlangsung di Gedung Baruga B, Kantor Bupati Maros, Rabu (26/8/2026).
Hadir pada kegiatan ini, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan Dr Fatmawati, Wakil Bupati Maros A Muetazim Mansyur, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros Muhammad Aris, para Kepala KUA se-Kabupaten Maros, jajaran perangkat daerah, tenaga kesehatan, Penyuluh Keluarga Berencana, Tim Pendamping Keluarga, serta unsur dunia usaha dan mitra pembangunan.
Dalam kegiatan tersebut, Pojok GENTING Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan 12 paket nutrisi kepada keluarga berisiko stunting di Kabupaten Maros.
Penyerahan bantuan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan intervensi secara langsung kepada keluarga sekaligus memperkuat pesan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.
Dr Fatmawati menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi titik awal dalam penanganan stunting. Menurutnya, jangan sampai intervensi baru dilakukan ketika stunting sudah terjadi karena biaya dan upaya yang diperlukan untuk penanganan akan jauh lebih besar.
“Kalau kita berbicara tentang stunting, yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya sebelum terjadi. Jangan sampai kita baru bergerak setelah stunting terjadi,” ujar Fatmawati.
Ia menjelaskan, keluarga menjadi titik penting dalam upaya pencegahan stunting.
BKKBN mengenali sejumlah faktor risiko yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk konsep 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu dekat dalam kehamilan atau kelahiran.
Selain itu, faktor lingkungan seperti sanitasi dan akses terhadap sumber air minum yang layak juga menjadi bagian penting dalam menentukan risiko stunting.
“Ketika kita berbicara mengenai keluarga berisiko stunting, kita tidak boleh hanya melihat dari sisi kesehatan. Ada banyak faktor yang saling berkaitan,” jelasnya.
Di tengah kegiatan tersebut, Fatmawati memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Maros atas capaian penurunan prevalensi stunting yang signifikan.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting Kabupaten Maros tercatat sebesar 34,7 persen pada 2023, kemudian turun menjadi sekitar 22 persen pada 2024.
Penurunan sekitar 12 poin persentase tersebut menjadi salah satu capaian penurunan prevalensi stunting tertinggi di Sulawesi Selatan.
“Maros menjadi salah satu kabupaten dengan penurunan prevalensi stunting tertinggi di Sulawesi Selatan. Ini tentu bukan pekerjaan satu pihak, tetapi hasil dari kerja bersama,” kata Fatmawati.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi energi untuk terus memperkuat intervensi di tingkat keluarga.
Fatmawati menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Pendekatan pentahelix menjadi penting untuk memastikan gerakan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar hadir di tengah keluarga.Pemerintah menyiapkan kebijakan dan program. Dunia usaha dapat memberikan dukungan. Tenaga kesehatan memberikan pelayanan dan edukasi. Tokoh agama menguatkan pesan melalui pendekatan keagamaan. Akademisi memberikan pengetahuan. Komunitas dan masyarakat memperluas gerakan.
“Stunting bukan persoalan satu kementerian, bukan persoalan satu dinas, dan bukan pula persoalan pemerintah saja,” tegas Fatmawati.
Wakil Bupati Maros A. Muetazim Mansyur mengatakan, capaian penurunan stunting di Kabupaten Maros tidak terlepas dari kerja bersama berbagai pihak.
Ia menyebut, pemerintah daerah tidak mungkin menangani persoalan stunting seorang diri. “Kalau seluruh beban penanganan stunting hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, tentu akan terasa berat. Karena itu, kita membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak,” katanya.
Menurut Muetazim, dunia usaha, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat memiliki ruang untuk mengambil peran.
Dukungan tersebut tidak selalu harus dalam bentuk bantuan finansial. Bantuan makanan bergizi, edukasi, pendampingan keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga dukungan terhadap lingkungan sehat juga merupakan bagian penting dari gerakan bersama.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para Kepala KUA se-Kabupaten Maros yang turut mengambil peran dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Kepala DP3ADALDUKKB Kabupaten Maros Muhammad Aris, menegaskan bahwa GENTING harus dibangun sebagai gerakan yang berkelanjutan dan menyentuh keluarga secara langsung.
Menurutnya, keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, bukan hanya pemerintah.
“Keberhasilan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan keterlibatan dan kolaborasi seluruh unsur masyarakat,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keterlibatan Puskesmas, Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga, jajaran KUA, dunia usaha, serta seluruh mitra yang selama ini telah memberikan perhatian kepada keluarga sasaran.
(GUS)
Berita Terkait
News
Tingkatkan Mutu Pelayanan KB, BKKBN Sulsel Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan mendorong agar pengawasan dan peningkatan kualitas pelayanan bergerak hingga kabupaten/kota, menyentuh langsung fasilitas kesehatan dan masyarakat.
Selasa, 25 Agu 2026 09:26
Sulsel
BKKBN Sulsel Kolaborasi LAZ Hadji Kalla Bedah Rumah Keluarga Resiko Stunting
Upaya percepatan penurunan stunting kembali diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Di Kabupaten Gowa, ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pembangunan rumah layak huni bagi keluarga berisiko stunting, sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat bagi anak.
Minggu, 23 Agu 2026 23:23
News
BKKBN Sulsel Bekali Siswa Sekolah Rakyat Dengan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh seberapa kuat generasi mudanya dipersiapkan.
Rabu, 19 Agu 2026 14:20
News
9 Pejabat Fungsional Resmi Dilantik, 12 Pegawai BKKBN Sulsel Raih Satyalancana Karya Satya
Penguatan profesionalisme aparatur terus dilakukan Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan. Sebanyak 9 pejabat fungsional dilantik dan diambil sumpah/janji oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Fatmawati, bertempat di Ruang Masagena, Makassar, Selasa (18/8/2026).
Rabu, 19 Agu 2026 11:32
News
BKKBN Sulsel dan AAS Foundation Salurkan Bantuan Gizi Cegah Stunting di Makassar
Upaya mencegah stunting tidak berhenti pada pemberian bantuan. Di balik kebutuhan gizi keluarga berisiko stunting, terdapat persoalan kesehatan, pengasuhan, hingga perencanaan keluarga yang membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.
Jum'at, 14 Agu 2026 18:41
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Respon Bupati Barru Andi Ina soal Isu Gabung Gerindra
2
Patarai Amir Diusulkan Jadi Plt Ketua Golkar Maros
3
Lewat Gerak & Permainan di Air, Zivana Montessori Hadirkan Program Hidroterapi untuk Anak
4
Prof Eko Hadi Sujiono Bawa Pengalaman Riset Belanda ke UNM
5
IAS Pacu Konsolidasi Golkar Maros, Target Bidik Kejayaan di Pileg 2029
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Respon Bupati Barru Andi Ina soal Isu Gabung Gerindra
2
Patarai Amir Diusulkan Jadi Plt Ketua Golkar Maros
3
Lewat Gerak & Permainan di Air, Zivana Montessori Hadirkan Program Hidroterapi untuk Anak
4
Prof Eko Hadi Sujiono Bawa Pengalaman Riset Belanda ke UNM
5
IAS Pacu Konsolidasi Golkar Maros, Target Bidik Kejayaan di Pileg 2029