Peserta Skizofrenia hingga Tunadaksa Apresiasi Program Pelatihan dan Pemagangan Disabilitas BRI Peduli

Kamis, 03 Sep 2026 17:00
Peserta Skizofrenia hingga Tunadaksa Apresiasi Program Pelatihan dan Pemagangan Disabilitas BRI Peduli
Inagurasi Pelepasan Pemagangan BRI Sahabat Disabilitas Makassar 2026 pada 3 September 2026. Foto: Muhaimin
Comment
Share
MAKASSAR - Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap kesetaraan dan inklusivitas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli kembali menegaskan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui gerakan #BRISahabatDisabilitas.

Program Pelatihan dan Pemagangan Disabilitas ini diselenggarakan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan, untuk merangkul para penyandang disabilitas agar memiliki kemandirian finansial dan kesiapan optimal dalam menghadapi dunia kerja maupun dunia wirausaha.

Program yang mengusung fokus pelatihan administrasi dan wirausaha ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan.

Rangkaian pelatihan daring dan luring tersebut telah dilaksanakan pada akhir Agustus 2026. Puncak dari rangkaian pembekalan ini ditandai dengan penyelenggaraan Inagurasi Pelepasan Pemagangan BRI Sahabat Disabilitas Makassar 2026 pada 3 September 2026 sebagai momentum apresiasi sekaligus penanda dimulainya perjalanan peserta untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.

Setelah acara inagurasi, para peserta terpilih dari wilayah Makassar, Gowa, Takalar, Maros, dan Pangkajene langsung melanjutkan tahapan program melalui pemagangan yang berlangsung dari 4 September hingga 4 November 2026.

Dalam program pemagangan ini, setiap peserta diberikan penempatan kerja nyata di berbagai sektor usaha, baik di UMKM maupun perkantoran. Sebanyak 90 peserta disabilitas yang mengikuti program ini.

Muhammad Sapri, salah satu peserta mengapresiasi program ini. Disabilitas skizofrenia ini bersyukur mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran sebagai seorang yang mengalami Skizofrenia.

"Jadi kami yang skizofrenia itu hidup penuh dengan kecemasan, ketakutan, belum lagi halusinasi-halusinasi yang lain. Sebelum ikut program ini saja, saya penuh dengan kecemasan, Pak. Kecemasan tentang bagaimana program berjalan, tanggapan orang-orang, bagaimana proses pemagangan. Tapi berkat bantuan, dorongan, dan motivasi dari pihak BRI dan tentunya dari PT di mana tempat saya kerja, saya termotivasi," ujarnya.

Sapri menyampaikan setelah mengikuti program ini, ternyata kecemasan yang dialaminya, seperti kecemasan, tidaklah benar.

"Pas pelatihan online, yang saya temui itu saya dapatkan ilmu banyak. Kemudian pas pelatihan offline, tanggapan orang ternyata saya dapat teman-teman yang asyik, baik semuanya. Kemudian setelah itu pemagangan, ya saya mulai terbukti terampil juga, tambah percaya diri," ujarnya.

"Dan Minggu depan saya sudah magang nanti di tempat bengkel las. Alhamdulillah, mudah-mudahan harapannya setelah magang tentunya bisa buat bengkel sendiri atau kerja di perusahaan," jelasnya.

Maulana sebagai Disabilitas Tunadaksa merasa bersyukur bisa mengikuti program ini.

"Saya ucapkan terimakasih kepada BRI Peduli yang telah menggelar program pelatihan ini. Saya banyak mendapat ilmu dan pengalaman sehingga punya keterampilan yang bisa saya masukkan di CV saya," ungkapnya.

Vice President CSR BRI, Dinne Shovia Tresna Amalia mengungkapkan bahwa upaya pemberdayaan yang terpadu dan berkelanjutan merupakan kunci utama untuk membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.

Penyediaan sarana, prasarana, serta pelatihan yang relevan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peserta sehingga mereka dapat meraih kemandirian dan kesejahteraan yang lebih baik.

"Ini merupakan program pelatihan dan pemagangan untuk sahabat disabilitas, di mana BRI akan merekrut teman-teman disabilitas untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan ini terdiri dari administrasi perkantoran, kemudian cara berwirausaha," kata Dinne Shovia pada Kamis (03/09/2026).

"Setelah mendapatkan pelatihan—baik secara daring maupun luring, mereka akan disalurkan untuk mengikuti pemagangan di beberapa perusahaan maupun UMKM selama 3 bulan," sambungnya.

Dinne Shovia menuturkan, dengan bekal pelatihan dan pengalaman magang tersebut, diharapkan teman-teman disabilitas dapat memiliki pengalaman kerja yang lebih baik. Dan jika memungkinkan, dapat terus bekerja di perusahaan tempat mereka magang.

"Dengan demikian, kesempatan bagi teman-teman disabilitas untuk bekerja maupun berwirausaha sesuai dengan keterampilan masing-masing semakin terbuka lebar," ujarnya.

Selama menjalani masa pemagangan, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja nyata dan kesempatan memperluas relasi, tetapi juga memperoleh fasilitas penunjang yang optimal.

Setiap peserta diberikan uang saku pemagangan serta mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan yang dicover oleh BPJS Jamsostek, meliputi Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) untuk memastikan keamanan serta kenyamanan mereka selama berkarya.

Setelah merampungkan sesi pelatihan kelas, program dilanjutkan dengan tahapan pemagangan selama tiga bulan di berbagai mitra perusahaan terkemuka yang bergerak di sektor kuliner, pariwisata, manufaktur, dan jasa pendukung lainnya.

Melalui penempatan kerja nyata ini, para peserta mendapatkan kesempatan berharga untuk mengaplikasikan ilmu, membangun relasi profesional, serta merasakan dinamika dunia kerja yang sesungguhnya.

Selain mendapatkan keahlian teknis, para peserta juga memperoleh berbagai fasilitas penunjang, termasuk uang saku pemagangan, sertifikat resmi pelatihan dan pemagangan, serta kesempatan luas untuk mengembangkan jejaring baru.

Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2021, BRI Peduli melalui program BRI Sahabat Disabilitas telah berhasil memberdayakan sekitar 370 penyandang disabilitas di berbagai wilayah di Indonesia.

Konsistensi ini mencerminkan dedikasi BRI dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), khususnya SDG 8 terkait penyediaan Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi yang inklusif.

Dari sisi Environmental, Social, and Governance (ESG), inisiatif ini menjadi pilar utama dalam komitmen sosial BRI untuk mengedepankan prinsip Pro People, keadilan sosial, serta tanggung jawab sosial perusahaan secara berkelanjutan. BRI berharap program ini dapat menjadi jembatan kokoh menuju kemandirian ekonomi dan mewujudkan masyarakat yang adil serta setara.
(UMI)
Berita Terkait
Berita Terbaru