Dari Sisik Ikan Jadi Produk Bernilai, PLN Dukung Perempuan Pesisir Paotere

Minggu, 01 Nov 2026 12:46
Dari Sisik Ikan Jadi Produk Bernilai, PLN Dukung Perempuan Pesisir Paotere
Anggota Kelompok Perempuan Pesisir Paotere mengolah sisik ikan menjadi produk kerajinan bernilai jual. Mereka dibina dan didukung oleh PLN UIP Sulawesi. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Sisik ikan yang selama ini kerap dianggap limbah, di tangan Kelompok Perempuan Pesisir Paotere justru diolah menjadi aneka kerajinan bernilai jual. Untuk mendukung kreativitas dan keberlanjutan usaha tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi (PLN UIP Sulawesi) menghadirkan bantuan sarana produksi melalui program Woman Support Woman.

Program yang diinisiasi Srikandi PLN ini menyasar kelompok usaha beranggotakan 25 perempuan di Jalan Sabutung, Paotere, Makassar. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi para anggotanya.

Selama ini, para perempuan pesisir tersebut mengandalkan keterampilan dan peralatan sederhana untuk mengolah sisik ikan menjadi produk kerajinan. Proses pengerjaan yang masih dilakukan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Keterbatasan fasilitas pengeringan juga kerap menghambat produksi, terutama ketika cuaca tidak mendukung.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi kelompok dalam mengembangkan usaha. Padahal, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah kreativitas, tetapi juga sumber penghasilan tambahan untuk menopang perekonomian keluarga.

Ketua Kelompok Perempuan Pesisir Paotere, Mirnawati, mengatakan bantuan dari PLN menjawab kebutuhan yang selama ini dihadapi para anggota. Peralatan produksi yang lebih memadai diharapkan dapat meringankan pekerjaan sekaligus meningkatkan kenyamanan dalam proses pengerjaan.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan dari PLN. Selama ini, pekerjaan masih banyak dilakukan secara manual. Teman-teman bahkan sering mengalami tangan bengkak karena harus menggunting sisik ikan menggunakan gunting biasa. Dengan adanya peralatan produksi yang lebih memadai, pekerjaan kami tentu akan jauh lebih terbantu,” ungkapnya.

Selain peralatan produksi, fasilitas pengeringan juga menjadi kebutuhan penting bagi kelompok. Keterbatasan lahan untuk menjemur bahan baku serta kondisi cuaca yang mulai memasuki musim hujan kerap membuat proses produksi tidak berjalan optimal.

“Dengan adanya mesin pengering, kami tidak perlu terlalu khawatir ketika hujan turun karena bahan tetap bisa dikeringkan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama untuk menjaga proses produksi tetap berjalan,” tambah Mirnawati.

Ketua Srikandi PLN UIP Sulawesi, Abigail Tonapa, mengatakan program Woman Support Woman merupakan bentuk dukungan antarsesama perempuan untuk membuka ruang bagi potensi dan kreativitas agar terus berkembang. Melalui program ini, PLN ingin mendorong perempuan agar semakin berdaya dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian keluarga.

“Kegiatan ini bukan sekadar serah terima bantuan. Kehadiran kami juga merupakan bentuk dukungan bagi perempuan-perempuan tangguh yang terus berjuang dan berkarya. Kita percaya perempuan memiliki potensi dan kreativitas untuk memberikan kontribusi nyata. Semoga bantuan ini bermanfaat dan menjadi penyemangat untuk terus berkembang. Bersama kita kuat, bersama kita tumbuh, bersama kita berkembang,” ujarnya.

Tak hanya memberikan bantuan peralatan, kegiatan tersebut juga diisi dengan edukasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) oleh tim K3 PLN UIP Sulawesi. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman anggota kelompok mengenai pentingnya keselamatan selama menjalankan aktivitas produksi.

Dukungan terhadap usaha kelompok juga diwujudkan melalui pembelian langsung produk kerajinan sisik ikan oleh para Srikandi PLN yang hadir. Langkah tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap karya para perempuan pesisir sekaligus membantu memperluas pemasaran produk mereka.

Melalui program Woman Support Woman, PLN UIP Sulawesi berupaya menghadirkan pemberdayaan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Dukungan ini diharapkan tidak hanya mempermudah proses produksi, tetapi juga membuka peluang bagi Kelompok Perempuan Pesisir Paotere untuk mengembangkan usaha dan memperkuat kontribusi ekonomi perempuan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru