BIK 2026 Buka 27,23 Juta Rekening, OJK Perkuat Inklusi Keuangan

Minggu, 01 Nov 2026 12:55
BIK 2026 Buka 27,23 Juta Rekening, OJK Perkuat Inklusi Keuangan
Sepanjang Oktober 2026, rangkaian kegiatan yang digelar OJK bersama industri jasa keuangan berhasil mendorong pembukaan 27,23 juta rekening dan akun keuangan dari berbagai sektor. Foto/Istimewa
Comment
Share
BANDUNG - Program Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 mencatat capaian signifikan dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal. Sepanjang Oktober 2026, rangkaian kegiatan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama industri jasa keuangan berhasil mendorong pembukaan 27,23 juta rekening dan akun keuangan dari berbagai sektor.

Capaian tersebut terdiri atas 7,21 juta rekening perbankan, 2,07 juta rekening pasar modal, 5,38 juta polis asuransi, 2,07 juta rekening perusahaan pembiayaan, 4,63 juta rekening pegadaian, serta 5,87 juta akun teknologi finansial (fintech). Selain itu, BIK 2026 juga menghadirkan 6.446 kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang menjangkau lebih dari 798 ribu peserta di seluruh Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyampaikan capaian tersebut dalam puncak BIK dan Financial Expo (FinExpo) 2026 di Trans Studio Mall Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/10). Menurutnya, perluasan akses keuangan harus diiringi peningkatan literasi dan kepercayaan masyarakat agar produk dan layanan keuangan dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan keluarga. “Industri keuangan itu kuncinya cuma satu, kalau masyarakat percaya,” kata Dicky.

Ia menegaskan, kepercayaan masyarakat menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan industri jasa keuangan. Karena itu, OJK mendorong industri menghadirkan produk dan layanan yang transparan, bertanggung jawab, serta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Program literasi dan inklusi keuangan juga perlu diarahkan pada tujuan yang lebih luas, yakni membangun kesejahteraan dan ketahanan keuangan keluarga.

Upaya tersebut sejalan dengan pembentukan Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan (DNKK) yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) 2026 di Jakarta, 22 Oktober lalu. Pembentukan dewan ini diharapkan memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara sehat.

Pelaksanaan BIK 2026 juga mengedepankan pemerataan akses keuangan, termasuk bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sejumlah kelompok prioritas turut menjadi sasaran, mulai dari perempuan, pelajar dan pemuda, pelaku UMKM, pekerja sektor informal, petani, nelayan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat perdesaan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turut hadir dalam puncak kegiatan tersebut menekankan pentingnya kecakapan masyarakat dalam mengelola keuangan untuk membangun ketahanan keluarga. “Cerdas dalam memperoleh uang, cerdas dalam membelanjakan uang, dan cerdas dalam menyimpan uang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan, menghindari perilaku konsumtif, serta tidak menggunakan pinjaman di luar kemampuan finansial.

Sementara itu, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menilai kolaborasi antara OJK, pemerintah daerah, dan industri jasa keuangan berperan penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif. “Melalui momentum FinExpo 2026 ini, kami berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat sehingga akses keuangan semakin luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, petani, peternak, dan berbagai sektor produktif lainnya,” katanya.

Dalam rangkaian BIK, OJK Jawa Barat juga menggelar 15 kegiatan edukasi bagi sekitar 4.500 UMKM di Bogor, Bekasi, dan Purwakarta untuk meningkatkan kemampuan mengelola arus kas, menyusun pencatatan keuangan, serta mengakses pembiayaan secara bijak.

Edukasi keuangan juga menjangkau sekitar 2.000 santri Daarut Tauhiid pada 10 Oktober 2026 melalui kegiatan literasi dan pembukaan rekening Simpanan Pelajar (SimPel). Selain itu, peringatan Pekan Tuli Internasional bertema “Menuju Kesetaraan Melalui Inklusi Keuangan” di Sentra Wyata Guna, Kota Bandung, pada 24 Oktober menjangkau sekitar 400 peserta disabilitas.

Kegiatan tersebut meliputi bazar 25 UMKM penyandang disabilitas, edukasi keuangan bagi penyandang disabilitas tuli, penyerahan rekening SimPel dan buku literasi keuangan kepada 10 SLB di Kota Bandung, serta berbagai perlombaan.

Puncak BIK dan FinExpo 2026 turut dihadiri Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman serta perwakilan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, pimpinan pelaku usaha jasa keuangan, asosiasi, dan Kelompok Kerja Inklusi Keuangan. FinExpo yang berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN). Kegiatan ini menghadirkan pameran produk dan layanan jasa keuangan, produk UMKM, serta berbagai agenda edukatif dan interaktif seperti gelar wicara, lokakarya, kompetisi, dan hiburan.

Melalui FinExpo, masyarakat dapat memperoleh informasi langsung mengenai manfaat, risiko, biaya, serta hak dan kewajiban dalam menggunakan produk jasa keuangan. OJK berharap rangkaian BIK 2026 tidak hanya meningkatkan jumlah pengguna layanan keuangan formal, tetapi juga mendorong masyarakat mengambil keputusan finansial secara bijak.

Ke depan, kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat untuk mewujudkan inklusi keuangan yang berkualitas dan mendukung kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru