Lewat siPeKAinge Fun Walk, BI Sulsel Ajak Warga Waspada Penipuan Digital

Minggu, 01 Nov 2026 13:41
Lewat siPeKAinge Fun Walk, BI Sulsel Ajak Warga Waspada Penipuan Digital
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki E Wimanda, saat memberikan sambutan pada acara siPeKAinge Fun Walk di CFD Sudirman, tepatnya di depan Monumen Mandala, Makassar. Foto/Tri Yari K
Comment
Share
MAKASSAR - Ancaman penipuan transaksi digital kini menyasar semua kalangan, mulai dari anak muda hingga lanjut usia. Sejak November 2024 hingga 30 September 2026, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) menerima lebih dari 700.000 laporan penipuan keuangan. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat memperkuat perlindungan konsumen, dimulai dari lingkungan keluarga.

Pesan tersebut menjadi semangat kegiatan siPeKAinge Fun Walk yang digelar BI Perwakilan Sulawesi Selatan di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Monumen Mandala, Makassar, Minggu (1/11/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian Pekan Perlindungan Konsumen (PeKA) 2026 yang mengusung tema -Saling Jaga, Transaksi Sehat Keluarga Bahagia'.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki E Wimanda, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai kelompok usia. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia berjalan bersama dalam suasana kebersamaan.

Menurutnya, keterlibatan lintas generasi itu mencerminkan pesan penting bahwa menjaga keamanan transaksi keuangan merupakan tanggung jawab bersama. Terlebih, perkembangan teknologi dan layanan pembayaran digital yang semakin memudahkan masyarakat juga diikuti meningkatnya risiko kejahatan keuangan.

"Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga 30 September 2026, telah diterima lebih dari 700.000 laporan penipuan transaksi keuangan. Lebih dari 1,3 juta rekening yang terindikasi terkait penipuan juga telah dilaporkan dan diverifikasi," ungkap Rizki.

Dia menjelaskan, modus penipuan semakin beragam. Mulai dari pesan undian berhadiah, telepon yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan, tautan palsu, hingga pelaku yang berpura-pura menjadi anggota keluarga dan meminta transfer uang dengan alasan mendesak.

Penipuan tersebut tidak hanya menyasar kelompok masyarakat yang kurang memahami teknologi. Anak muda yang akrab dengan transaksi digital, orang tua, hingga lansia juga berpotensi menjadi korban. Pelaku kerap memanfaatkan rasa percaya, kepanikan, dan kedekatan emosional untuk memperdaya calon korbannya.

Karena itu, menurut Rizki, perlindungan konsumen tidak cukup hanya mengandalkan sistem keamanan teknologi dan edukasi individu. Diperlukan pula kepedulian antarang­gota keluarga untuk saling mengingatkan dan mendampingi ketika melakukan transaksi digital.

"Di Sulawesi Selatan kita mengenal nilai luhur sipakainge, yaitu saling mengingatkan. Nilai inilah yang menjadi inspirasi siPeKAinge Fun Walk. Yang muda membantu yang tua, yang tua membimbing yang muda. Semuanya saling menjaga dan melindungi," ujarnya.

Sebelum kegiatan puncak tersebut, BI Sulsel telah menggelar berbagai edukasi perlindungan konsumen selama rangkaian PeKA 2026. Kegiatan menyasar kelompok perempuan, lansia, dan mahasiswa, baik melalui edukasi langsung maupun siaran televisi dan radio.

Rizki juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan kebiasaan sederhana dalam mencegah penipuan. Di antaranya tidak mudah percaya pada pesan atau panggilan mencurigakan, tidak membagikan data pribadi, PIN, kata sandi, maupun kode OTP, serta tidak sembarangan membuka tautan atau mengirim uang atas permintaan mendesak.

"Kalau ragu, stop dulu. Jangan terburu-buru melakukan transaksi. Periksa kembali informasinya, tanyakan kepada keluarga, dan hubungi kanal resmi penyedia layanan jika diperlukan," pesannya.

Melalui kegiatan ini, BI berharap para peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman kebersamaan, tetapi juga menjadi pengingat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, semangat sipakainge tidak berhenti setelah kegiatan jalan sehat selesai, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan untuk saling menjaga keamanan transaksi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru