Calon Dekan FIP UNM Prof Syawal Dorong Akselerasi Berbasis Kolaborasi

Selasa, 15 Sep 2026 09:30
Calon Dekan FIP UNM Prof Syawal Dorong Akselerasi Berbasis Kolaborasi
Calon Dekan FIP UNM periode 2026–2030, Prof. Ahmad Syawaluddin. Dok. Pribadi
Comment
Share
MAKASSAR - Pemaparan visi misi calon dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2026–2030 tuntas digelar pada Senin siang, pukul 08.00–12.00 Wita.

Salah satu dari dua kandidat yang berlaga, Prof. Ahmad Syawaluddin, menegaskan komitmennya untuk menakhodai FIP UNM cukup dalam satu periode masa jabatan (4 tahun) apabila terpilih sebagai Dekan FIP ke depan.

"Pertama kalinya saya menjadi calon dekan dan saya tadi sudah sampaikan bahwa jika saya terpilih, saya hanya mau satu periode dan memang walaupun memungkinkan dua periode, tapi saya mau satu periode saja. Karena program 4 tahunan ini saya yakin saya bisa laksanakan selama 4 tahun itu," ujarnya, Senin (14/9/2026) malam.

Ia menilai, target empat tahun masa jabatan cukup untuk akselerasi karena ia mengukur langsung dari kapasitas SDM di FIP UNM yang dinilai memiliki potensi luar biasa.

"Perpaduan antara dosen alumni luar negeri dengan dosen alumni dari perguruan tinggi negeri di Jawa dan alumni UNM sendiri, itu luar biasa potensinya. Kalau itu dikolaborasikan, saya yakin sangat mudah sekali ini FIP bisa melompat, bukan lagi berjalan tapi bisa berlari. Saya yakin program apa saja yang kita rencanakan Insyaallah akan berjalan dengan baik," sebutnya.

Visi Akselerasi Berbasis Kolaborasi SDM

Dari sisi tata kelola, Prof Ahmad menyoroti perlunya pergeseran dari pendekatan single-door (satu pintu dari fakultas) menuju perencanaan berbasis kebutuhan unit.

"Jadi yang perlu dibenahi sebenarnya tata kelola. Tata kelola bagaimana program ini bisa berjalan bersinergi antar semua jurusan. Intinya adalah program ini semua program harus berjalan bersamaan. Jadi tidak satu pintu. Program kerja itu disusun berdasarkan kebutuhan unit," paparnya kepada SINDO Makassar.

Lebih lanjut, ia juga mendorong pergeseran perencanaan anggaran berbasis kebutuhan unit agar tiap program studi memiliki otonomi dalam memetakan prioritas jurusannya.

"Selama ini kan hanya satu pintu dari fakultas saja. Kita pengennya semua jurusan memikirkan masing-masing jurusannya, apa yang mau diprogramkan. Karena yang paling tahu apa yang mau dilakukan adalah tentu pimpinan jurusan dan dosennya. Sedangkan fakultas sisa memvalidasi saja, kira-kira yang mana yang urgen untuk kita lakukan. Tentu data itu kita gunakan sebagai dasar untuk melakukan sebuah program, program apa yang akan kita lakukan ke depan," lanjutnya.

Pembenahan Fasilitas Fisik dan Sekretariat Mahasiswa

Menanggapi rasio kapasitas fisik dengan jumlah mahasiswa yang besar, Prof. Ahmad mengakui sarana ruang kelas FIP UNM masih perlu pengembangan, yang untuk sementara diatasi lewat kombinasi pembelajaran daring dan luring.

"Terus terang dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang sangat besar, fasilitas fisik ini belum memadai. Fakultas ini memerlukan pengembangan sarana-prasarana kelas untuk menampung beban mahasiswa yang besar. Tapi saya yakin dengan pemanfaatan teknologi, semua bisa dilaksanakan. Kita padukan antara pembelajaran daring dan luring. Saya kira apa yang ada saat ini kita bisa atasi untuk sementara sambil bagaimana meyakinkan pemerintah pusat dalam hal ini kementerian atau rektor untuk membantu kita untuk membangun gedung," akunya.

Kendati demikian, lanjut dia, Prof. Ahmad menilai kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah rehabilitasi dan pengadaan fasilitas sekretariat mahasiswa.

"Saat ini mahasiswa sekretariat mahasiswa itu tidak layak mereka pakai. Itu yang penting soalnya, fasilitas untuk unit-unit kemahasiswaan. Selain kelas, membangun sekretariat untuk senat mahasiswa, untuk senat mahasiswa, untuk organisasi kemahasiswaan, baik di tingkat prodi maupun tingkat fakultas, itu yang terpenting juga," sambungnya.

Rekam Jejak dan Jaringan Lintas Kementerian

Maju untuk pertama kalinya sebagai calon dekan, langkah Prof. Ahmad didorong oleh dukungan kolega dosen yang memandang rekam jejak manajerialnya, mulai dari kepala laboratorium, sekretaris prodi, ketua prodi PGSD (masing-masing satu periode), hingga 8 tahun menjabat sekretaris PPG UNM pusat.

"Teman-teman itu mendorong saya karena teman-teman menganggap saya yang dianggap bisa mewadahi mereka dan bisa menjadi bagian yang bisa dipercaya untuk memajukan Fakultas Ilmu Pendidikan, sehingga ada beberapa teman-teman yang mendorong saya dan saya terima. Alhamdulillah saya menjadi salah satu dari dua calon yang ada dan keputusannya kita serahkan kepada senat," ungkap Mantan Kaprodi PGSD FIP UNM itu.

Dia bilang, berbekal pengalaman mengawal koordinasi lintas kementerian (Kemendikti Saintek dan Kemendikdasmen) di lembaga PPG diklaim menjadi jejaring kuat untuk dibawa ke tingkat fakultas.

"Karena saya berangkatnya itu dari kepala laboratorium, Ketua Prodi PGSD, kemudian diangkat menjadi sekretaris PPG di kantor pusat UNM. Itu modal kepemimpinan manajerial saya, pengalaman saya selama ini. Sehingga saya menganggap bahwa menjadi seorang dekan adalah sebuah panggilan untuk saya, untuk berkontribusi untuk mengembangkan FIP UNM. Itu harapannya teman-teman seperti itu, sehingga saya yang didorong," imbuhnya.

Selain dari dorongan koleganya, dukungan keluarga pun mengalir deras seiring rutinitasnya dua dekade mengabdi di FIP UNM.

"Mereka (keluarga) melihat rutinitas saya selama ini di kampus, pergi pagi, pulang. Tidak ada masalah, standar saja, karena setelah saya menjadi dosen juga mereka sudah tahu pekerjaan saya apa, dan bagaimana saya bekerja di kampus. Hanya mensupport saja, menganggap bahwa selama saya 20 tahun di FIP memang memang sudah layak untuk diangkat menjadi seorang dekan, karena pengalamannya sudah 20 tahun di Fakultas Ilmu Pendidikan," jabarnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru