Pertama Kali, Guru Besar dari Tiongkok Bicara Langsung di UIN Alauddin

Jum'at, 17 Apr 2026 23:43
Pertama Kali, Guru Besar dari Tiongkok Bicara Langsung di UIN Alauddin
Jajaran Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar dengan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi). Foto: Istimewa
Comment
Share
GOWA - UIN Alauddin Makassar memperkuat jejaring internasional dan dialog lintas agama melalui seminar internasional bertajuk Religion in Chinese Perspective: Mengelola Keberagaman Agama di Era Global; Pelajaran dari Tiongkok dan Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Senat Lantai 4 Gedung Rektorat, Rabu (15/4/2026).

Seminar ini merupakan kolaborasi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar dengan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, serta melibatkan mitra internasional.

Kegiatan dihadiri pimpinan universitas, sivitas akademika, tokoh lintas agama, serta mahasiswa. Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Prof. Dr. Muhaemin, M.Th.I., M.Ed., mewakili Rektor UIN Alauddin Makassar, secara resmi membuka acara. Turut hadir Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Dr. M. Muflih B.F., M.M., serta perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Dalam sambutannya, Prof. Muhaemin mengapresiasi kolaborasi dengan Permabudhi Sulawesi Selatan yang dinilai mampu menghadirkan ruang dialog lintas agama yang konstruktif. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Rektor pada awal kegiatan.

“Bintang pertama kegiatan ini adalah Bapak Dr. Ir. Yonggris Lao, M.M., yang telah menghadirkan Prof. Guo ke kampus kita. Terima kasih juga kepada seluruh tim Permabudhi Sulawesi Selatan atas kolaborasi yang terjalin,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kehadiran tokoh lintas agama yang dinilai memperkaya diskusi dan memperkuat harmoni serta moderasi beragama. Selain itu, ia menyampaikan bahwa program studi keagamaan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat telah meraih akreditasi Unggul.

Kegiatan diawali dengan laporan panitia oleh Ariyanto dari Permabudhi Sulawesi Selatan. Ia menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya dan agama dalam konteks global.

“Tiongkok sebagai salah satu peradaban besar dunia memiliki kekayaan tradisi dan nilai keagamaan yang unik serta berpengaruh dalam dinamika sosial, budaya, dan pemikiran global. Karena itu, kajian mengenai agama dalam perspektif Tiongkok menjadi relevan untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat dialog lintas budaya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan internasional saat ini menuntut institusi tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun jejaring global.

“Seminar ini tidak hanya menjadi forum diskusi keilmuan, tetapi juga diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan internasional, khususnya dalam membuka peluang studi lanjut dan pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing global,” tambahnya.

Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris Lao, M.M., juga menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin.

“Hari ini saya sangat berterima kasih, bahagia, dan bangga karena Permabudhi dapat kembali bekerja sama dengan UIN Alauddin Makassar dalam melaksanakan kegiatan yang penting dan bersejarah. Ini merupakan pertama kalinya seminar menghadirkan langsung narasumber guru besar dari Tiongkok,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kerja sama ini mencerminkan kesamaan misi dalam mencerdaskan bangsa melalui pemahaman keagamaan.

“UIN Alauddin dan Permabudhi memiliki misi yang beririsan. Prof. Muhsin akan menyampaikan perspektif beragama di Indonesia, sementara Prof. Guo membahas bagaimana masyarakat Tiongkok memandang agama,” tambahnya.

Sebagai bagian dari penguatan kerja sama, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIN Alauddin Makassar, Permabudhi, dan Golden Gate Education.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Guo Wu dari Shandong University, Ardian Changianto, S.Fil., M.Fil. dari San Ping Academy Semarang, serta Prof. Dr. Muhsin Mahfudz, S.Ag., M.Th.I. dari UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini juga didukung penerjemah Ir. Frans Phengkarsa, M.T., serta dihadiri perwakilan Golden Gate Education, Lili Kusuma Chandra.

Melalui forum ini, para narasumber membahas perspektif keagamaan dalam konteks peradaban Tiongkok serta relevansinya terhadap dinamika global.

Selain menjadi forum akademik, kegiatan ini juga membuka peluang kerja sama internasional, termasuk studi lanjut dan pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing global.

Melalui kegiatan ini, UIN Alauddin Makassar menegaskan komitmennya dalam membangun pemahaman keagamaan yang moderat, inklusif, dan berwawasan global, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat dialog lintas budaya dan peradaban.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru