16 Penyandang Disabilitas dan Kelompok Rentan Tana Toraja Dilatih Barista

Senin, 22 Jun 2026 17:14
16 Penyandang Disabilitas dan Kelompok Rentan Tana Toraja Dilatih Barista
Suasana pelatihan Barista untuk 16 orang penyandang disabilitas dan kelompok rentan di Aula Dinas Perhubungan Kabupaten Tana Toraja. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Kementerian Sosial (Kemensos) RI melalui Sentra Wirajaya Makassar bekerjasama Dinas Sosial Kabupaten Tana Toraja, dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktifitas (BPVP) Pangkajene Kepulauan, yang merupakan UPT Kementerian Ketenagakerjaan RI melatih 16 orang penyandang disabilitas dan kelompok rentan menjadi Barista.

Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Dinas Perhubungan Kabupaten Tana Toraja yang terletak di terminal Kota Makale, berlangsung selama 10 (sepuluh) hari kerja, mulai 22 Juni hingga 3 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Training Made Tailor Batch 2 (dua) bidang peracikan kopi atau yang biasa dikenal dengan nama barista.

Sebelum pelaksanaan PBK, pihak Sentra Wirajaya, Bersama Dinas Sosial Tana Toraja, dan juga dari BPVP melakukan rekruitmen dan asessmen terhadap puluhan calon peserta PBK, dan sebanyak 16 orang dinyatakan lolos untuk menjadi peserta dengan durasi pelatihan sebanyak 80 jam pelajaran.

Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeng yang didampingi Kepala Dinas Sosial Tana Toraja Adriana Saleng hadir langsung dan membuka acara PBK. Dalam sambutannya, Zadrak sangat mengapresiasi pelaksanaan PBK. Pelatihan ini penting, agar warga memiliki keterampilan, apalagi di bidang peracikan kopi.

Toraja kata Zadrak memang menjadi daerah yang dikenal dengan penghasil kopi. “Dengan keahlian meracik kopi, selain menjadi daya tarik, hal ini juga diharapkan menjadi penopang perekonomian di Kabupaten Tana Toraja, apalagi Tana Toraja memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat menggembirakan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Sentra Wiirajaya Makassar Syamsuddin menyampaikan jika PBK ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat menjadi lebih mandiri.

Syamsuddin mengibaratkan jika keterampilan yang dimiliki itu ibarat kail. Jadi kegiatan PBK ini bukan memberikan ikan, tetapi kegiatan ini adalah moment untuk memberikan kail dan juga diajarkan cara menggunakan kail yang baik..

Selain itu, Syamsuddin juga menyampaikan kalau kegiatan PBK ini merupakan bentuk kolaborasi yang memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk pengembangan kapasitas, kompetensi, dan yang paling penting adalah adanya legalitas atau pengakuan atas kompetensi yang dimiliki.

“Kegiatan ini merupakan wadah, agar kompetensi yang dimiliki terstandar dan punya legalitas dalam bentuk sertifikasi komptensi nantinya,” harap Syamsuddin.

Rata-rata yang menjadi peserta PBK masih terbilang usia produktif, dan dilatih oleh instruktur berpengalaman dalam bidang Peracikan Kopi (Barista).

Secara teknis, peserta diajari tentang pengenalan alat dan bahan, cara membuat kopi, mengoperasikan mesin kopi, dan teknik memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

Sementara itu, Cici Amelia Kadang Yang akrab disapa Cici salah seorang peserta mengungkapkan kalau kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan dirinya. "Kegiatan pelatihan Barista ini sangat membantu saya dalam meningkatkan kemampuanku. Saya merasa lebih percaya diri dan siap untuk bekerja di industri Barista," ungkapnya.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru