OJK: Sektor Jasa Keuangan Sulsel Stabil, Kredit & Dana Masyarakat Terus Tumbuh
Minggu, 28 Jun 2026 14:31
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, mengatakan kinerja sektor jasa Sulsel masih tetap stabil di tengah gejolak dinamika global maupun domestik. Foto/Istimewa
MAKASSAR - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menyatakan kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga April 2026 tetap stabil meski dihadapkan pada dinamika ekonomi global dan domestik. Stabilitas tersebut terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat perkembangan geopolitik, inflasi global, serta volatilitas pasar keuangan.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari kinerja positif sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).
"Fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik. Penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit tetap tumbuh positif, partisipasi masyarakat di pasar modal terus meningkat, serta berbagai sektor IKNB menunjukkan perkembangan yang mendukung perluasan akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha," ujarnya.
Hingga April 2026, total aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp215,79 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 7,23 persen (yoy) menjadi Rp149,46 triliun.
Penghimpunan DPK masih didominasi tabungan dengan pangsa 60,72 persen, diikuti deposito 22,79 persen dan giro 16,50 persen. Menurut OJK, pertumbuhan dana masyarakat tersebut mencerminkan tetap tingginya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Di sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh 5,46 persen (yoy) menjadi Rp174,60 triliun. Kredit produktif menguasai 52,36 persen dari total penyaluran kredit dengan pertumbuhan 2,64 persen, sedangkan kredit konsumtif tumbuh lebih tinggi, yakni 8,74 persen, dengan pangsa 47,64 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit produktif terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 21,86 persen dari total kredit.
Kinerja intermediasi perbankan juga tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 3,74 persen.
"Kondisi ini menunjukkan perbankan di Sulawesi Selatan tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai," kata Muchlasin.
Sementara itu, perbankan syariah mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Hingga April 2026, aset perbankan syariah tumbuh 35,92 persen (yoy) menjadi Rp23,45 triliun.
Penghimpunan DPK syariah meningkat 25,87 persen menjadi Rp15,33 triliun, sedangkan pembiayaan tumbuh 25,74 persen menjadi Rp18,88 triliun. Tingkat intermediasi perbankan syariah tercatat sebesar 123,11 persen dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang tetap rendah, yakni 1,80 persen.
Seiring pertumbuhan tersebut, pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat menjadi 10,87 persen. OJK menilai kondisi ini menunjukkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah sekaligus meningkatnya kontribusi industri tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari kinerja positif sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).
"Fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik. Penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit tetap tumbuh positif, partisipasi masyarakat di pasar modal terus meningkat, serta berbagai sektor IKNB menunjukkan perkembangan yang mendukung perluasan akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha," ujarnya.
Hingga April 2026, total aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp215,79 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 7,23 persen (yoy) menjadi Rp149,46 triliun.
Penghimpunan DPK masih didominasi tabungan dengan pangsa 60,72 persen, diikuti deposito 22,79 persen dan giro 16,50 persen. Menurut OJK, pertumbuhan dana masyarakat tersebut mencerminkan tetap tingginya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Di sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh 5,46 persen (yoy) menjadi Rp174,60 triliun. Kredit produktif menguasai 52,36 persen dari total penyaluran kredit dengan pertumbuhan 2,64 persen, sedangkan kredit konsumtif tumbuh lebih tinggi, yakni 8,74 persen, dengan pangsa 47,64 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit produktif terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 21,86 persen dari total kredit.
Kinerja intermediasi perbankan juga tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 3,74 persen.
"Kondisi ini menunjukkan perbankan di Sulawesi Selatan tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai," kata Muchlasin.
Sementara itu, perbankan syariah mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Hingga April 2026, aset perbankan syariah tumbuh 35,92 persen (yoy) menjadi Rp23,45 triliun.
Penghimpunan DPK syariah meningkat 25,87 persen menjadi Rp15,33 triliun, sedangkan pembiayaan tumbuh 25,74 persen menjadi Rp18,88 triliun. Tingkat intermediasi perbankan syariah tercatat sebesar 123,11 persen dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang tetap rendah, yakni 1,80 persen.
Seiring pertumbuhan tersebut, pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat menjadi 10,87 persen. OJK menilai kondisi ini menunjukkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah sekaligus meningkatnya kontribusi industri tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
(TRI)
Berita Terkait
Ekbis
Tiga Tahun Lebih Cepat, Indeks Literasi & Inklusi Keuangan Lampaui Target 2029
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Rabu, 12 Agu 2026 19:06
Ekbis
Reksa Dana Jadi Motor Pertumbuhan Investor Pasar Modal Sulsel
Berdasarkan jenis instrumen, reksa dana mencatat pertumbuhan investor tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yakni sebesar 81,35 persen yoy.
Selasa, 11 Agu 2026 12:42
Ekbis
OJK Perkuat Integritas Pasar Modal, ETF Emas Resmi Diluncurkan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempatkan penguatan integritas sebagai prioritas dalam mempercepat transformasi pasar modal Indonesia.
Senin, 10 Agu 2026 16:51
News
OJK Lantik Pejabat Baru untuk Perkuat Kepemimpinan & Kinerja Organisasi
OJK melantik dua pejabat baru setingkat Deputi Komisioner dan Kepala Departemen sebagai bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan, serta mendorong peningkatan kinerja.
Rabu, 05 Agu 2026 10:52
Ekbis
Kredit Perbankan Sulsel Tumbuh 5,27 Persen, Tembus Rp176,3 Triliun
Kinerja industri perbankan di Sulsel hingga Juni 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. OJK mencatat penyaluran kredit mencapai Rp176,30 triliun, atau tumbuh 5,27 persen secara tahunan.
Selasa, 04 Agu 2026 12:13
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tokoh Senior Dorong Hamzah Pangki Kembali Memimpin Golkar Bulukumba
2
BKKBN Sulsel Gelar Lomba Unik Antar Tim Kerja Semarakkan Hut Ke-81 RI
3
Pendataan Perlinsos Digital Capai 50.088 KK, Wali Kota Appi Targetkan Makassar Tembus 70 Persen
4
Pengadilan Agama Maros Cabut Hak Perwalian Orang Tua
5
Bright Gas Jadi Alternatif Energi Pompa Irigasi Petani Gowa
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tokoh Senior Dorong Hamzah Pangki Kembali Memimpin Golkar Bulukumba
2
BKKBN Sulsel Gelar Lomba Unik Antar Tim Kerja Semarakkan Hut Ke-81 RI
3
Pendataan Perlinsos Digital Capai 50.088 KK, Wali Kota Appi Targetkan Makassar Tembus 70 Persen
4
Pengadilan Agama Maros Cabut Hak Perwalian Orang Tua
5
Bright Gas Jadi Alternatif Energi Pompa Irigasi Petani Gowa