Menteri Agama Dorong RS UIN Alauddin Jadi Rumah Sakit Modern dan Inklusif

Selasa, 16 Jun 2026 15:59
Menteri Agama Dorong RS UIN Alauddin Jadi Rumah Sakit Modern dan Inklusif
Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A di RS UIN Alauddin Makassar akhir pekan kemarin. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., mengunjungi Rumah Sakit (RS) UIN Alauddin Makassar, Minggu (14/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Workshop Nasional Rumah Sakit Tangguh dan Berwawasan Kebangsaan yang mengangkat tema Penguatan Ketahanan Ideologi dan Moderasi Agama di Lingkungan Rumah Sakit.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran rumah sakit sebagai institusi pelayanan publik yang tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga mengedepankan nilai kemanusiaan, moderasi beragama, dan semangat kebangsaan dalam melayani masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agama didampingi Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hamdan Juhannis, M.A jajaran pimpinan UIN Alauddin Makassar, serta Direktur RS UIN Alauddin.

Sebelum memberikan materi workshop, Menteri Agama melakukan hospital tour dengan meninjau sejumlah fasilitas pelayanan rumah sakit, termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang rawat inap, dan sejumlah fasilitas lainnya. Ia juga menyempatkan diri berinteraksi dengan pasien yang sedang menjalani perawatan.

Pada kesempatan itu, Menteri Agama memberikan doa dan dukungan kepada para pasien. Kehadirannya menjadi bentuk perhatian terhadap pentingnya aspek spiritual dan kemanusiaan dalam proses pelayanan kesehatan.

Usai meninjau fasilitas rumah sakit, Menteri Agama memberikan kuliah umum di Aula Gedung RS UIN Alauddin, Jalan Sultan Alauddin Nomor 63, Kota Makassar. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya membangun rumah sakit yang tidak hanya unggul dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi representasi nilai moderasi beragama dan kebangsaan.

Menurutnya, rumah sakit harus menjadi ruang yang menghadirkan nilai kemanusiaan secara menyeluruh. Pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan fisik, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman, kepedulian, serta dukungan moral dan spiritual bagi pasien.

Menteri Agama juga mengapresiasi perkembangan RS UIN Alauddin yang terus bertumbuh sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.

Sementara itu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, menyampaikan apresiasi atas perhatian Menteri Agama terhadap pengembangan RS UIN Alauddin. Ia menjelaskan bahwa rumah sakit tersebut dibangun melalui proses panjang hingga akhirnya dapat beroperasi dan melayani masyarakat.

Menurutnya, RS UIN Alauddin hadir dengan konsep modern, ramah lingkungan, nyaman, dan inklusif. Ia berharap rumah sakit tersebut terus berkembang menjadi institusi kesehatan yang mampu menghadirkan pelayanan terbaik sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Rumah sakit kita ini harus menjadi rumah sakit yang green, friendly, cozy and inclusive,” ungkap Prof. Hamdan Juhannis.

Ia menambahkan, operasional dan pengembangan RS UIN Alauddin tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk perhatian Menteri Agama yang mendorong percepatan pengembangan fasilitas dan kerja sama pelayanan kesehatan.

Dalam arahannya, Menteri Agama juga memberikan sejumlah masukan terkait peningkatan kualitas layanan rumah sakit. Ia menekankan pentingnya menciptakan suasana yang nyaman dan humanis melalui penguatan estetika lingkungan, kebersihan, pelayanan yang ramah, serta perhatian terhadap kebutuhan pasien.

Menurutnya, rumah sakit harus mampu mengubah citra sebagai tempat yang identik dengan rasa sakit menjadi ruang yang menghadirkan kenyamanan dan proses pemulihan. Lingkungan yang tertata, pelayanan yang penuh empati, serta interaksi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien merupakan bagian penting dari kualitas layanan rumah sakit.

Menteri Agama juga mengingatkan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran besar dalam membangun pengalaman pasien selama menjalani perawatan. Sikap ramah, komunikasi yang baik, dan pelayanan yang penuh kepedulian merupakan nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga.

Selain itu, ia menekankan bahwa moderasi beragama di lingkungan rumah sakit harus diwujudkan melalui pelayanan yang menghargai keberagaman. Rumah sakit, menurutnya, harus menjadi ruang bersama yang memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang pasien.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru