BBVet Maros Uji 101.834 Sampel Hewan Selama 2025

Rabu, 28 Jan 2026 14:48
BBVet Maros Uji 101.834 Sampel Hewan Selama 2025
Jajaran Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros memaparkan capaian kinerja selama 2025. Foto: SINDO Makassar/Najmi S Limonu
Comment
Share
MAROS - Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros mencatat telah melakukan pengujian terhadap 101.834 sampel hewan dan sepanjang tahun 2025.

Pengujian tersebut dilakukan untuk memperkuat pengendalian penyakit hewan serta menjamin keamanan produk hewan di wilayah Indonesia Timur.

Kepala BBVet Maros drh Agustia mengatakan, kegiatan tersebut didukung oleh 107 personel, termasuk 26 dokter hewan, yang bekerja melalui fungsi pengujian laboratorium, surveilans, investigasi, serta pendampingan teknis di daerah.

"Sepanjang 2025, kami melakukan pengujian sekitar 101 ribu sampel, terdiri dari sampel aktif dan pasif yang berasal dari delapan provinsi dan 102 kabupaten/kota wilayah kerja BBVet Maros," ujar Agustia, kemarin.

Dari jumlah tersebut, 48.834 sampel merupakan sampel aktif dan 53.000 sampel pasif.

"Sampel aktif ini berupa kita yang mengunjungi hewannya. Kalau yang pasif pemilik hewan yang membawa hewannya ke tempat kami," jelasnya.

Dia mengatakan, dari jumlah sampel yang sudah diperiksa, Kabupaten Bone menjadi penyumbang sampel terbesar.

Hampir sepertiga dari total pengujian itu berasal dari Kabupaten Bone. Menurut Agustia, Bone menjadi wilayah strategis dalam pengendalian penyakit hewan.

"Kalau Bone bisa diamankan, maka Sulawesi Selatan akan relatif aman, dan itu berdampak pada wilayah lainnya," katanya.

Dia mengatakan, berdasarkan jenis hewan, sampel yang diuji didominasi oleh sapi sebanyak 60.050 sampel, disusul ayam 21.718 sampel, babi 2.174 sampel, kerbau 464 sampel, dan kuda 193 sampel.

"Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan populasi ternak dan kedekatan epidemiologi melalui kegiatan surveilans dan investigasi," ujarnya.

BBVet Maros juga melakukan investigasi penyakit hewan di berbagai daerah, antara lain di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Maluku Utara.

Agustia menyebutkan, hasil pengujian menunjukkan tren penurunan kasus sejumlah penyakit hewan strategis dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus rabies turun dari 121 kasus pada 2024 menjadi 69 kasus pada 2025.

Sementara penyakit jembrana menurun dari 25 kasus menjadi 6 kasus, dan brucella melitensis dari 6 kasus menjadi 2 kasus.

Untuk avian influenza pada ayam, kasus masih ditemukan meski mengalami penurunan, dari 96 kasus pada 2024 menjadi sekitar 84 kasus pada 2025.

"Penyakit yang kami temukan kami kategorikan sebagai penyakit yang berdampak ekonomi dan penyakit yang berpotensi mengancam kesehatan manusia," jelasnya.

Terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Agustia mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 ditemukan sekitar 2.000 kasus, namun tidak terjadi secara bersamaan.

Kasus tersebut tersebar di sekitar 120 titik lokasi dan muncul secara bergantian, dengan wilayah Toraja Utara dan Toraja menjadi daerah yang masih dominan.

Dia menilai penurunan kasus terjadi karena tindak lanjut cepat dari dinas peternakan daerah terhadap rekomendasi teknis BBVet Maros, seperti pengobatan pada ternak sakit dan vaksinasi pada ternak sehat.

"Rekomendasi teknis kami ditindaklanjuti dengan baik di lapangan. Itu terbukti menurunkan kasus, baik PMK, rabies, maupun avian influenza," katanya.

Memasuki tahun 2026, BBVet Maros akan mendukung program hilirisasi peternakan, khususnya pengembangan ekosistem perunggasan terpadu untuk produksi telur, daging, hingga olahan.

"Yang ingin dijaga ke depan adalah jumlah dan kualitas ternak, terutama ayam, agar ketahanan pangan dan keamanan produk hewan tetap terjamin,” tutup Agustia.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru