Inisiatif Vale Pulihkan Mangrove dan Hidupkan Pesisir Pasi-Pasi

Jum'at, 21 Nov 2025 14:25
Inisiatif Vale Pulihkan Mangrove dan Hidupkan Pesisir Pasi-Pasi
Aksi nyata PT Vale melibatkan masyarakat dan stakeholder dalam menjaga bumi. Salah satunya dengan melakukan penanaman mangrove. Foto/Istimewa
Comment
Share
SOROWAKO - Upaya memulihkan lingkungan pesisir mulai membuahkan hasil di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kawasan yang sebelumnya terancam abrasi akibat menyusutnya hutan mangrove kini perlahan pulih berkat kerja sama masyarakat, pemerintah desa, dan pelaku industri.

Sekitar lima tahun lalu, kondisi pesisir desa tersebut cukup memprihatinkan. Berkurangnya mangrove membuat garis pantai semakin rentan tergerus, sementara hasil tangkapan nelayan ikut menurun karena habitat ikan rusak.

Namun keadaan mulai berubah setelah muncul inisiatif rehabilitasi pesisir yang melibatkan warga setempat. Program penanaman mangrove yang digerakkan bersama berhasil memicu gotong royong masyarakat untuk memulihkan ekosistem yang sempat terdegradasi.

Kini dari dermaga Desa Pasi-Pasi, suasana pesisir tampak lebih hidup. Beberapa warga terlihat memancing ikan-ikan kecil menggunakan peralatan sederhana berupa senar dan kail.

Restu, salah satu warga, mengatakan ia rutin memancing setiap pagi sejak sekitar enam bulan terakhir. Menurutnya, keberadaan ikan dan kepiting di kawasan pesisir kini jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu.

“Kalau dibandingkan lima tahun lalu, sekarang jelas berbeda. Ikan semakin banyak, kepiting juga mulai melimpah. Alhamdulillah, ini hasil dari upaya menanam mangrove,” ujarnya.

Penelusuran menunjukkan warga Desa Pasi-Pasi secara rutin melakukan penanaman mangrove sejak 2023, setelah adanya dukungan dari sejumlah pihak, termasuk industri seperti PT Vale Indonesia.

Kepala Desa Pasi-Pasi Sopyan Ibnu Hasim mengatakan ancaman abrasi pada masa lalu menjadi pemicu kuat bagi warga untuk memperbaiki kondisi lingkungan mereka. Ketika program penanaman mangrove dimulai, masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dengan terlibat langsung di lapangan.

“Bahkan alat seperti cangkul disiapkan sendiri oleh warga. Waktu ada program dari Vale, mereka sangat bersemangat ikut menanam. Sekarang dampaknya mulai terasa, ikan dan kepiting kembali banyak di pesisir,” kata Sopyan.

Melihat perkembangan tersebut, pemerintah desa berencana mengembangkan kawasan mangrove menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Jalur tracking mangrove akan diperbaiki dan diperpanjang. Di sepanjang jalur itu nantinya akan disediakan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk membuka usaha sehingga dapat mendorong perputaran ekonomi desa.

“Selain wisata, kawasan ini juga akan dijadikan tempat edukasi lingkungan bagi anak-anak sekolah. Mereka bisa belajar langsung tentang pentingnya menjaga ekosistem,” ujar Sopyan.

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale, Sainab Husain Paragay, menjelaskan program rehabilitasi tersebut diawali dengan kajian awal untuk melihat kondisi ekosistem serta mata pencaharian masyarakat pesisir.

Desa Pasi-Pasi dipilih karena memiliki kawasan mangrove tua yang perlu dilindungi, sekaligus masyarakat yang sangat bergantung pada hasil laut.

“Dari hasil kajian dasar terlihat bahwa ekosistem di Desa Pasi-Pasi mengalami degradasi. Penurunan kualitas lingkungan ini akhirnya berdampak pada ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Sejak 2023, PT Vale mendorong pembudidayaan mangrove di kawasan tersebut. Pada 2024, sekitar 2.000 pohon telah ditanam, dan tahun ini direncanakan penanaman tambahan sebanyak 4.000 pohon.

Selain penanaman, perusahaan juga memberikan pelatihan pembibitan mangrove dengan target produksi sekitar 5.000 bibit.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru